Chapter 9 Hokage Bayangan

Piece of Life
Chapter 9
-Hokage Bayangan-

“Kau..” Kakashi kaget.

“Kalau dia sedang tak ada, maka akulah yang akan melindungi desa ini.” ucap pemuda itu, yang datang jauh-jauh dari pengembaraannya.

“Arigatou,Sasuke.”
“Hn…”

Kejadian tadi begitu cepat, dan setelah menghancurkan meteor besar itu Sasuke langsung hancur. Orang-orang di sekitar Kakashi tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Meteornya menghilang!!” itu saja yang mereka tahu.

‘Sasuke, kau telah kembali! Seluruh Konoha akan menerimamu. Teruslah berada di jalan kebenaran, Sharingan no Sasuke,’ batin Kakashi seraya tersenyum tipis di balik maskernya. Dia senang, muridnya yang istimewa ini menepati janjinya untuk selalu menjaga Konoha dari luar. Seperti Naruto, satu-satunya keturunan Uchiha ini juga berambisi menjadi hokage. Tak seperti hokage kebanyakan, tapi ia memilih menjadi hokage bayangan.

Serangan meteor masih saja menghantam Konoha. Para shinobi yang telah berusaha menangkalnya mulai kewalahan. Kedatangan Sasuke sangat membantu memperkuat pertahanan desa.

Tampak ratusan orang masih bergerak menuju bunker yang telah disiapkan untuk melindungi warga. Mereka yang ketakutan dengan serangan meteor berebut untuk bisa segera memasuki gedung yang tahan gempuran itu. Ninja penjaga pun berusaha mengatur agar semua warga bergerak teratur.

“Sasuke-kun, kau kembali,” sapa Ino yang berpapasan dengan Sasuke yang tengah menuju pusat desa. Senyum cerah tampak terukir di wajahnya meski peluh membasahi.
“Hn,… Bagaimana kondisi desa sekarang?”
“Seperti yang kau lihat, semua masih sibuk menghadapi serbuan dari langit ini. Kamu mencari Sakura?”
Mata Sasuke hanya terangkat sebelah mendengar pertanyaan teman satu angkatannya itu, seakan bertanya balik, ‘Mengapa kau berkata seperti itu?’

“Ayolah, siapa lagi yang paling senang melihatmu datang kalau bukan si pinky itu. Dia sedang bertugas di area rumah sakit sekarang,” bibir perempuan berambut pirang ini melengkung ke atas. Meski tak terlalu dekat dengan Sasuke karena berbeda tim, Ino mengenal keberadaan pria berambut raven itu dengan baik. Teman satu kelas di akademi dengan penampilan sangat menonjol di banding para siswa yang lain. Selain berasal dari klan bangsawan Konoha, Sasuke sejak kecil telah menunjukkan kemampuan ninja yang luar biasa bahkan di atas rata-rata teman seangkatan mereka. Dan tentu saja, rivalitas Sasuke – Naruto akan selalu mewarnai hari-hari belajar di akademi menjadi lebih ‘berwarna’, sebut saja gaduh.

“Arigatou, Ino. Aku akan melihat kondisi Naka Shrine dulu. Sudah lama aku tinggalkan. Jhaa…” tanpa menatap Ino, Sasuke langsung melesat menuju manshion Uchiha, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.

——-

Gerbang Naka Shrine

Sasuke menatap dua tiang tinggi yang bagian atasnya terhubung kayu kuat dengan lambang klan Uchiha tergantung tepat di tengahnya. Bangunan di belakangnya terkesan megah dengan nuansa merah putih yang dominan. Hatinya bergetar saat hendak membuka pintu kayu kokoh itu. Beragam kenangan manis yang terbungkus dengan kematian seluruh anggota keluarganya di rumah itu membuatnya enggan. Anggota tim 7 ini berusaha keras untuk menghapus seluruh ingatan yang bisa membangkitkan api amarah membakar hatinya.
‘Ayo Sasuke, kamu bisa. Semua akan baik-baik saja. Lupakan masa lalu kelammu. Saatnya memulai kehidupan yang baru,’ gumamnya dalam hati.

Pemilik mata rinnegan itu tertegun sejenak. Ketika hendak membuka pintu, ia melihat meteor besar yang mengarah ke barat daya pusat Konoha.
“Arah itu….”
Tanpa menyelesaikan ucapannya, Sasuke seketika melesat ke arah jatuhnya meteor itu.

Tepat sebelum benda langit itu menghantam rumah sakit desa dibalik daun itu, Sasuke mampu menghancurkannya dengan kekuatan listriknya. Sayangnya, masih ada sebagian meteor yang berukuran agak besar. Serpihan meteor bertebaran di sekitar bangunan. Beberapa di antaranya masih jatuh dan mengakibatkan kerusakan kecil pada atap rumah warga. Si pangeran es ini bergegas memasuki gedung serba putih itu. Netranya nanar melihat pemandangan di depannya. Sebagian atap bangunan itu roboh dan menimpa beberapa orang di dalamnya.

Para shinobi yang selamat segera membantu rekan-rekannya.
Sasuke pun berkeliling mencari seseorang. telinganya menangkap suara lirih dari sebuah pintu. Dalam sekali gebrakan, pintu itu pun hancur berantakan.

“Sakura….”
Ia pun lekas meraih sesosok tubuh berbalut pakaian putih yang kakinya tertimpa kayu itu. Darah segar mengalir dari dahinya. Matanya tertutup rapat. Dibopongnya tubuh lemah itu keluar ruangan agar terhindar dari bangunan yang setiap saat bisa roboh keseluruhan.

Sasuke membaringkan rekan setimnya itu di bawah sebuah pohon. Dia bukanlah ninja medis, jadi tak tahu apa yang harus dilakukan. Dimintanya seorang shinobi untuk mencari perawat.

“Sakura, bangunlah….” ucapnya pelan seraya membersihkan darah yang mulai berhenti mengalir di kening si gadis. Entahlah, ia merasa khawatir dengan kondisi kunoichi itu. Setelah semua peristiwa yang terjadi di masa lalu, perasaan aneh itu tiba-tiba menyelinap di hatinya.

Shinobi perempuan yang terkenal dengan pukulannya yang dahsyat ini pun mengerjapkan matanya. Begitu terbuka sempurna, ia sungguh terkejut melihat siapa yang baru saja menolongnya.

“S-Sasuke-kun, …. kau…” lidahnya kelu. Tak mampu lagi berkata-kata. Cairan bening berhamburan keluar dari mata emeraldnya.
“Sudahlah, yang penting kau selamat….” ucap Sasuke sambil duduk membelakangi Sakura.
“Arigatou…”
“Hn…Sepertinya kaki dan kepalamu terluka. Aku tak bisa mengobatinya..”
“Haik… Aku bisa menyembuhkannya sendiri,” kedua tangan Sakura mengeluarkan cakra hijau. Tak lama, ia pun meringis kesakitan. “Aaww,.. ittai.. Astaghfirullah..,”
“kau kehabisan cakra…”
“Beberapa hari ini kami tidak bisa istirahat. Serangan meteor bisa datang kapan saja. Aku sendiri harus merawat banyak pasien di rumah sakit…”
“Hn… Dimana Tsunade-sama?”
“Tadi kulihat dia ke kantor hokage. Ada ruang perawatan di bagian bunker…”
“Kuantar kesana…” Tanpa meminta persetujuan, Sasuke membopong tubuh putri klan haruno itu ke arah yang ditunjukkan. Sakura hanya bisa diam, memejamkan matanya kembali. Jangan tanya perasaannya saat itu. Jumpalitan nggak karuan…

Sesampainya di tempat, Sasuke segera membaringkan Sakura di ranjang pasien.
“Shinobi medis akan merawatmu. Aku keluar dulu,”
“Arigatou, Sasuke-kun…”
“Hn…”

Sepeninggal Sasuke, wajah Sakura memerah seperti tomat siap panen. ia tersenyum sendiri. Shizune tiba-tiba masuk ke ruang perawatan itu.
“Sakura, kenapa mukamu seperti itu? Ehemm… pasti karena…”
“Apa-an sih Shizune-chan. Aku hanya bersyukur masih selamat,” balas sakura dengan memalingkan mukanya, biar tak terbaca suasana hatinya. Gadis musim semi ini memang paling tidak bisa menyembunyikan perasaan.
“Kudengar kau terluka. Aku bantu bersihkan ya,…”
Dengan cekatan, shizune melepas jilbab pink Sakura, memberikan sedikit cakra hijaunya, membersihkan sisa darah yang mengering lalu membungkus luka itu dengan perban. Di bagian kaki, ia hanya membantu aliran cakra Sakura yang terhambat.
“Istirahatlah Sakura. Sementara, ada pergantian shift para medis. Kau tahu sendiri, banyak warga yang terluka. tapi, semua masih bisa ditangani kok,”
“Arigatou, shizune-chan…”

——–

Ruang Hokage

“Rokudaime hokage, seluruh kage telah berkumpul untuk teleconference,” ucap seorang ANBU melapor.
“Hn… aku akan segera kesana,” Kakashi bangkit dari duduknya dan bersiap untuk rapat udara dengan semua pemimpin desa yang tergabung dalam aliansi shinobi.
“Rokudaime hokage, ada pesan khusus untuk anda,” ANBU lain menyerahkan sebuah perkamen. Ninja yang selalu memakai masker ini segera membukanya gulungan kertas itu. Membaca sekilas, mata Kakashi terbelalak. “Nani….,” pekiknya.

Dua ANBU itu hanya berdiri mematung, menunggu instruksi selanjutnya.
“Kalian, kembali ke tugas,” perintah sang hokage ke-enam.
“haik….” kedua ninja pengintai itupun undur diri.

——–

Apakah yang terjadi selanjutnya? Bagaimana dengan misi Naruto di bulan?

Tunggu chapter berikutnya, minna….

Jhaa-ne….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *