Chapter 7 Akiramenaide Kudasai


Piece of Life
Chapter 7
-Akiramenaide Kudasai-

Sekawanan itu terus bergerak menyusuri gua yang berhias stalagmit dan stalagtit beraneka ukuran. Suara tetes air memecah keheningan.

Tak ada kelelawar atau hewan lain yang bersarang disini. Aneh,’ batin Sai.

Langkah para shinobi itu seketika terhenti. Udara di dalam gua terasa kian panas. Ada hamparan cairan panas bergejolak sejauh duapuluh hasta. Jarak yang mudah bagi seorang ninja untuk melompatinya. Tapi kemampuan mereka seakan lenyap.

“Sai?” tanya Shika.

“Aku tidak bisa menggunakannya. Entahlah,”

Terlihat kening berkerut. Bagaimana caranya melewati lava tanpa melompatinya atau pakai jurus kertas Sai?

“Ini hanya genjutsu t-tebayyo. Cairan ini tidak panas sama sekali,” Naruto berjongkok dan mengambil setangkup air jingga itu di tangannya.

“Kita lanjutkan perjalanan. Waktu kita terbatas,” ucap Hinata yang langsung berjalan diikuti ketiga rekannya.

Di ujung sana, mereka masih harus melintasi bebatuan terjal. Hingga sampai tanah yang lapang, tetiba asap putih mulai menyelimuti. Kabut kian tebal, mereka tak lagi dapat melihat satu sama lain.

“Hinata! Sai! Shika! Waspadalah!” Naruto mengingatkan timnya. Dengan mode sage, pria berambut kuning ini mengamati keadaan di sekitar mereka. Hinata mengaktifkan byakugannya.

Tak berlangsung lama, asap putih itu pun memudar. Dan kini mereka berada di dimensi lain. Ruangan yang penuh dengan kubik abu-abu beragam ukuran. Dalam sikap siaga para shinobi Konoha itu terus melangkah menuju sebuah pintu besar di penghujung ruangan. Baru lima langkah, tiba-tiba muncul ninja bertopeng yang menyerang mereka bertubi-tubi. Dengan kecepatan tendangan yang tak kasat mata, dalam sekejap Naruto melumpuhkan belasan penyerang. Sementara yang lain masih berusaha membalas tiap serangan.

Ninja bertopeng itu bermunculan terus seakan tak ada habisnya. Sai telah membuat dua singa untuk menyerang lawan. Shikamaru pun mengeluarkan jurus andalannya kage nui no jutsu untuk mengalahkan musuh.
Satu – satunya gadis di tim itu juga tak mau tinggal diam. Hinata mengerahkan juho soshiken, mengumpulkan chakra di kedua tangannya lalu membentuk chakra itu menjadi seperti dua kepala singa yang siap menerkam siapa saja. Melihat perlawanan Hinata dengan jurus itu mengingatkan Naruto saat Hinata melawan Pein. Momen dimana Naruto yang seharusnya melindungi Konoha justru Hinata yang datang untuk melindunginya saat ia tersudut oleh serangan Pein.

Pertarungan semakin sengit. Kini, hujan kunai menyerang Naruto dan kawan – kawan. Dalam sekali hempasan chakra Naruto, ratusan senjata itu terlempar ke dinding menimbulkan bunyi dentingan yang bersahutan. Sesaat kemudian, serangan berhenti. Mereka tetap bersiaga.

“Naruto, ayo kita ke pintu itu. Waktu semakin menipis,” ucap Shikamaru.
“Hinata, bagaimana keadaanmu?” Naruto justru mengkhawatirkan kondisi Hinata.
“Aku baik-baik saja, Naruto-kun. Arigatou….” jawab gadis berbaju indigo itu.
Mereka pun bergegas melanjutkan perjanalanan.

Melewati pintu berikutnya, ada lorong gelap yang harus dilalui. Di ujung lorong, mereka memasuki hutan lebat. Semburat jingga tampak menghiasi langit. Sang mentari mulai menuju ke ufuk barat.
Langkah Hinata terseok, hampir saja ia terjatuh jika saja tangan Naruto yang berjalan di belakangnya tak lekas meraihnya.
“Kamu terluka, Hinata?” tanya Naruto.
“Iie, aku hanya kelelahan saja,”

Tim memutuskan untuk istirahat sebentar. Sholat ashar berjamaah dengan tayamum dan menikmati perbekalan yang tersisa.
Tak berapa lama, senja pun menjelang. Selepas sholat maghrib, mereka mengulang hafalan sambil menunggu waktu isya’. Sai dan shika memilih duduk bersandar di bawah pohon besar. Naruto istirahat di atas ranting pohon tersebut. Hinata yang masih gundah dengan misi yang belum tercapai memilih menjauh dari kawanan. Ia menuju bebatuan, duduk seraya memandang bulan yang bersinar terang. Langit yang cerah, bertebaran gemintang memancarkan kerlip cahaya.

‘Hanabi, bagaimana keadaanmu sekarang? Bertahanlah, neechan akan segera menjemputmu…’ batin Hinata. Cairan bening tampak menggenang di pelupuk matanya.
Gadis Hyuga ini jadi teringat, ia sering menyanyikan lagu hikari bersama adiknya saat menikmati suasana malam yang bertabur bintang.
Lirih, ia melantunkan tembang singkat itu. Suaranya serak menahan haru……
“Kira kira hikaru osora no hoshi yo
Mabataki shite wa minna wo miteru
Kira kira hikaru osora no hoshi yo

Kira kira hikaru osora no hoshi yo
Minna no uta ga todoku to iina
Kira kira hikaru osora no hoshi yo

Kira kira hikaru osora no hoshi yo
Mabataki shite wa minna wo miteru ……

Belum selesai ia menyanyikan baris terakhir lagu anak tersebut, terdengar suara bariton menyahut…
“Kira kira hikaru osora no hoshi yo”
Naruto tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Hinata terkejut. Ia segera menyeka air matanya.

“Jangan bersedih lagi Hinata. Kita pasti akan segera menemukan Hanabi. Hmm!” ucap sang putra hokage keempat ini.
Hanya dibalas dengan anggukan kepala. Ia pun mengambil tempat duduk tak jauh dari pemilik mata rembulan itu.

“Semasa kecil, aku tak pernah mengenal lagu itu. Aku justru diajari Konohamaru saat kami menikmati pesta kembang api pada perayaan pengukuhan Kakashi senshei sebagai hokage keenam. Parah ya…” Naruto tersenyum kecut. Masa kecilnya memang lebih banyak ia lewati dalam kesendirian. Bahkan ketika masuk akademi, tak banyak yang mau berteman dengannya. Semua menjauhinya. Di awal tahun pembelajaran, mungkin hanya Shikamaru dan Chouji yang bergaul dengannya.

Hinata hanya diam sambil tersenyum tipis. Pandangannya tertuju ke arah bulan yang bulat sempurna. Samar-samar, ia melihat beberapa huruf muncul di permukaan bulan itu. Semakin lama makin tampak jelas. Dengan byakugan, ia mencoba membaca susunan huruf itu.
‘Hinata, datanglah padaku. Aku akan mengembalikan Hanabi. Toneri.’

Mata Hinata terbelalak. Ia tak menyangka akan mendapat pesan rahasia itu. Meskipun sama-sama memandang ke arah bulan, Naruto tak melihat apapun.

“Naruto-kun, kita harus bergegas,” tiba – tiba Hinata segera bangkit. Naruto jadi bingung, ‘Wanita memang susah dipahami, secepat itu berubah,’ batinnya.

Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan burung elang kertas Sai. Tentunya, sholat isya terlebih dahulu. Tujuannya satu, menuju kuil toneri yang tampak menjulang di atas gunung yang berselimut salju.

——-

Sementara itu, di sebuah hutan bambu tenggara Konoha, tampak seorang lelaki berambut panjang berbaju hitam berjalan tertatih menuju desa. Langkahnya tertahan oleh luka di sekujur tubuhnya. Darah segar tampak megucur dari mulutnya.
Gerbang konoha belum tampak. Tubuh pria itu terhuyung ke depan. Sekelebat bayangan hitam menangkap badan rapuh itu, membawanya melesat ke arah desa.

Siapakah mereka???

********

Ikuti terus fanfic Naruto Santripudden chapter berikutnya ya
Arigato gozaimasta minna
🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *