Chapter 5 Meet Edo Tensei


Piece of Life

Chapter 5
-Meet Edo Tensei-

Mereka panik. Gadis yang harusnya dijaga justru menghilang. Mode sennin Naruto tak menemukan hasil. Sai berinisiatif membuat ratusan tikus kertas untuk mengidentifikasi keberadaannya. Shika memilih mengamati ruangan yang dipakai Hinata istirahat.
“Hmm… tidak ada bekas pertempuran disini. Apa Hinata sengaja pergi sendiri? mendokusai…..” gumamnya.
“Apa maksudmu Shika? Tak mungkin Hinata pergi sendiri mencari Hanabi? Terlalu beresiko menghadapi Toneri tanpa bantuan kita…” bantah Naruto.
“Kita tunggu dulu, mungkin Hinata ingin sendirian dulu saat ini. Sepertinya dia sedang banyak tekanan,”
“Aku akan mengerahkan bunshin untuk…”
“Nggak usah. membuat bunshin hanya akan menghabiskan cakramu,” potong shika.
“Tapi…”
“Tunggu saja, aku yakin Hinata baik – baik saja…” ucap Shika meyakinkan Naruto.
Shika memang cenderung berpikir lebih rasional. Berbeda dengan Naruto yang tidak sabaran.
Tak berapa lama, Sai menemui keduanya.
“Bagaimana Sai?” tanya Naruto.
Tuan muka pucat ini hanya menggeleng.
Naruto semakin cemas. Jalan mondar mandir di ruangan bernuansa putih itu. Shika dan Sai hanya duduk di jendela menunggu perkembangan situasi.
Keheningan itu pecah oleh suara tapak kaki.
tap tap
tap…
Semua menoleh ke arah pintu.
“Assalamualaikum semua…”
“Ya ampun Hinata. Kamu kemana saja sich? Kami sudah kebingungan mencarimu. Pergi nggak bilang – bilang. Bagaimana kalau ada serangan? kamu mau menyelesaikan misi ini sendiri? Hah?!” ucap Naruto bertubi – tubi. shika dan Sai hanya geleng-geleng melihat kelakuan para sahabatnya itu.
“Gommennasai….” Hinata menunduk.Ia merasa bersalah. Tak menyangka kalau Naruto akan semarah itu padanya.
“Diamlah Naruto. Biarkan Hinata menjelaskan sendiri…” ucap Shikamaru menengahi.
“Aano… Shika-kun. Aku pergi ke mata air hangat di dekat hutan, membersihkan diri. Kalian tadi masih tidur, jadi aku tidak berani mengganggu. Gomen…” Hinata membungkukkan badan.
“Ya sudah… jangan diulang lagi,” kata Naruto sebal. Ia tidak marah, hanya sangat khawatir terjadi sesuatu pada Hinata.
“Aku akan membuka Pintu ruang bawah tanah. kalian mau ikut?” Tanpa menoleh, Hinata langsung melangkah ke ruang rahasia yang telah membuatnya demam semalam. ketiga shinobi itu hanya saling pandang. ‘Apa yang akan dilakukan Hinata?’ pikir mereka yang tanpa dikomando langsung mengekor di belakang gadis bangsawan Hyuga itu.

Tepat di depan pintu besi, Hinata berdiri tegak.
“Bagaimana cara membuka pintu ini Hinata?” tanya naruto penasaran.
“Kalian lihat bunga Lili putih yang tercetak di pintu ini?” Semua ikut memandang ke arah tangan Hinata yang menunjuk bagian atas pintu berukuran sekitar 2×2 meter itu.
“Jutsu Lili putih. Pintu ini hanya bisa dibuka oleh seorang gadis yang masih suci,”
“Iya kah?” Naruto ragu dengan penjelasan Hinata.
“Hinata benar. Kenapa aku bisa lupa pelajaran jutsu rahasia shinobi ya…” sahut Shikamaru, shinobi cerdas itu.
“Aku tidak tahu ada jutsu itu…” sanggah Naruto.
“Makanya, baca buku Naruto. Jangan kelayapan terus…” timpal Sai yang langsung mendapat deathglare dari putra Minato itu.
Hinata sweatdrop memandang ketiga temannya itu. Ia berkonsentrasi. Kedua Tangannya saling menggenggam di depan dada. jari telunjuk kanan menunjuk ke atas kemudian menekan bagian tengah telapak tangan kiri. jari kelingking terbuka. Jemari kanan memutar ke atas. Lalu mengatupkan tangan lagi. Semua dilakukan dengan cepat.
“Bismillahhirahmanirrahim…” ucap Hinata pelan. kedua telapak tangannya yang mengeluarkan cakra putih menekan pintu besi itu. Perlahan, lempeng besi yang kokoh itu mulai terangkat ke atas.
“Alhamdulillah…” seru semuanya.
Dalam sikap siaga, mereka masuk ke ruang gelap itu. Seketika cahaya putih menerangi ruangan yang luas itu. Hinata melangkah menuju sebuah altar di tengah ruangan. Tangannya meraih sebuah tiara yang terpajang rapi di meja kecil. Seketika, Hinata terhisap ke dimensi lain.
Naruto yang sejak tadi waspada di samping Hinata sangat kaget melihat gadis itu menghilang lagi.
“Sai? Shika?” tanya Naruto meminta penjelasan temannya.
“Tunggu, Naruto. Aku yakin Hinata aman. Jutsu bunga lili tidak digunakan untuk melenyapkan seseorang,” ucap Shikamaru.

HINATA’s POV
Tiba – tiba saja Hinata sudah berdiri di barisan kavaleri pasukan siap tempur. Mereka terlihat mematung, tanpa ada pergerakan sama sekali. Salah seorang panglima perang maju menghadap Hinata.
“Assalamualaikum. Salam hormat, Byakugan No Hime…” ucapnya seraya bersimpuh.
“Waalaikumsalam. Siapa kalian?”
“Kami pasukan Hamura. Mohon tuan putri membantu kami…”
“Apa yang bisa aku bantu?”
“Keturunan keluarga cabang klan Ōtsutsuki akan menghancurkan dunia dengan menggunakan tenseigan. Dia harus dicegah. Hanya tuan putri harapan kami,”
“Baiklah,” Entah. Tiba – tiba Hinata memahami semua pernyataan panglima perang itu. Dia baru menyadari bahwa dirinya seorang Byakugan No Hime, keturunan asli klan Hyuga dari ayah dan ibu yang sama sama memiliki byakugan murni. Mungkin karena selama ini ia terlihat lemah karena hatinya dipenuhi dengan kasih sayang pada sesama. Dia yang tak pernah membunuh langsung setiap musuhnya. Hanya menekan titik – titik utama cakra penyerang dan memberinya kesempatan kedua untuk bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. ya, dia memang berhati lembut. tapi bukan berarti kekuatannya juga lemah. Dia kuat, sangat kuat….
“Arigatou gozaimasta Byakugan No Hime….”

Seketika semua edo tensei itu lenyap. Hinata merasa terlempar ke dunianya kembali. Ia duduk bersimpuh di atas altar lagi. Naruto dkk sangat bersyukur Hinata muncul lagi di tengah tengah mereka.
“Hinata, kamu tidak apa – apa?” tanya Naruto cemas.
“Aku baik – baik saja Naruto-kun,”
“Alhamdulillah. Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” jawab Naruto.
“Naruto-kun, shika-kun, sai-kun, aku perlu bantuan kalian untuk segera menemukan gua itu. Kondisi semakin gawat. Pintu gua itu berada di perbukitan di belakang desa mati ini. Kita harus kesana segera,” ucap Hinata bersemangat.
“haik….”
Semuanya bergegas keluar dari ruang bawah tanah itu.

(Bersambung ke chapter 6 ya… Tunggu update berikutnya…)

Ilustrasi pict the sealing altar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *