Chapter 30 Semarak Rasa

Piece of Life
Chapter 30
_Semarak Rasa_

Jika gelombang harus menerjang karang untuk bisa mencapai tepian, dan kapal harus memutar haluan untuk bersandar di pelabuhan. Maka aku harus menyeberangi lautan untuk memanen kerinduan.
Ada saat memupuk rindu, ada saat memangkasnya melalui temu. Ada saat duniaku sendiri pilu, ada kala semarak bersamamu. Dan menikmati prosesnya menjadi bagian perjalanan hidupku.
(Puspa Seruni)

Hinata menutup novel roman yang ia baca sejak tadi. Bentuknya yang kecil dan tipis memudahkan utuk disembunyikan di ransel ninjanya. Buku itu ia pinjam dari perpustakaan Konoha sebelum ada misi kepentingan klan (Tentu saja, ada ratusan buku yang tersedia di perpustakaan pribadi Hyuga. Tapi tak ada satupun yang bernuansa roman). Jadi sayang jika ditinggal. Membawa benda itu saat misi panjangnya tentu beresiko. Neji pernah memintanya untuk membuang saja buku-buku yang menurutnya tak bermutu. Hinata bersikukuh. Selain AlQuran, baca roman memberi hiburan tersendiri baginya.

Netranya menatap Hanabi yang terlelap di sampingnya. Untuk beberapa hari ke depan, ia akan membantu gadis kecil itu melatih kemampuan kekkei genkai byakugan. Seorang penerus Hyuga harus menguasai jutsu mematikan itu kan!

Dengan langkah kecil, ia mendekati jendela kamar yang terbuka. Menatap ke arah langit yang gelap. Semilir angin malam menyapu parasnya yang sendu. Ada sedikit cahaya rembulan yang hanya separuh tertutup awan pekat. Melambungkan khayal dan imajinasi yang tak terbatas. Berucap lirih, menyebut nama seseorang. Berharap beban rindu itu akan berkurang, walau sedikit.

=Saat yang sama, tempat yang berbeda=

Seorang pemuda bersurai kuning merebahkan dirinya di atap apartemen sederhananya. Menggunakan kedua tangan yang terlipat di belakang kepala sebagai bantalan. Mengenakan jaket hitam yang terbuka sempurna dan menampilkan kaos polos putihnya. Menatap cakrawala malam Konoha yang bersih berhias bulan separuh yang mengggantung di langit. Badannya terasa sangat lelah. Padahal beberapa hari sebelumnya ia hanya duduk di belakang meja rapat para pemimpin Konoha. Menjalani kehidupan yang tenang, ia justru merindukan sebuah pertarungan. Permainan yang bisa membahayakan keselamatan nyawanya. Menggunakan dan melatih kemampuan ninjanya. Menyusun strategi bersama rekan setim untuk mengalahkan lawan.
Menyebut kata rekan, mengingatkannya pada para sahabat shinobinya. Mereka yang telah menyelamatkannya dari jurang bernama kesepian.
Satu per satu wajah itu muncul di benaknya. Shinobi hebat dengan sisi manusiawi yang khas. Tukang tidur. Tukang makan. Tukang gosip. Tukang lukis. Si muka datar. Penggila senjata. Yang berisik. Yang semangat. Yang pemalu
Ehh…
hanya ada satu orang yang sangat pemalu.
Mengingat hal itu, kedua ujung bibirnya tertarik simetris.
“Bagaimana kabarmu, Hinata” ucapnya lirih.
Sunyi.
Tak mungkin ia berharap ada yang menyahut sapaan itu kan!

—–

Waktu bergulir begitu cepat saat begitu banyak hal yang harus diselesaikan.
Naruto tengah berada di salah satu ruang kantor hokage. Menatap serius data demografi penduduk Konoha, warga asli maupun pendatang. Jenis kelamin. Rentang usia. Pendidikan. Mata pencaharian. Berusaha untuk menghubungkan angka-angka itu dengan kondisi di lapangan.
“Shikamaru, coba perhatikan data ini!”
Pemuda Nara yang tengah asyik menyesap kopi hitamnya itu tak bergeming.
“Data pasien Mental Health Hospital. Bukankah ini yang sedang ditangani Sakura dan Ino?”
“Hm…”
“Ternyata dampak peperangan sangat membekas, apalagi anak-anak. Apakah kita sudah menjamin kehidupan mereka?”
“Pendidikan sudah digratikan untuk semua anak, Naruto!”
“Maksudku bukan itu. Bagaimana kehidupan sehari-hari mereka? Selepas dari rumah sakit, mereka akan tinggal dimana?”
“Selama ini, mereka kembali bersama keluarga masing-masing…”
“Lalu, bagaimana yang yatim piatu. Banyak dari mereka yang kehilangan orang tua kan!”
Tumben, Naruto mencerca Shikamaru dengan berbagai pertanyaan.
“Kau sedang membicarakan masa lalumu?” tanya Shikamaru bernada retoris.
“Mmm.. Iya, sedikit. Hidup sendiri dan kekurangan itu sangat menyakitkan! Aku tak ingin ada anak yang mengalaminya lagi.” Naruto memejamkan matanya. Mencoba menahan rasa sakit yang menyusup ke dalam rongga dadanya.
Shikamaru mendesah kasar. Bangkit dari tempat duduk dan menaruh gelasnya yang telah kosong ke atas meja.
“Lalu, apa rencanamu?”
“Aku ingin membuat semacam panti asuhan yang dekat dengan akademi. Jadi mereka nggak perlu berjalan jauh saat sekolah. Semua anak bisa diterima, warga Konoha maupun dari luar desa. Bagaimana?”
Shikamaru hanya menganggukkan kepala.
“Setelah menjadi hokage nanti, aku akan memintamu mengerjakan proyek ini.” Dengan mantap, Naruto mengacungkan jari telunjuknya ke arah menantu keluarga Sabaku itu. Plus cengiran khasnya.
“Mendokusai…”
“Eh, apakah Temari akan ke Suna?”
“Apa urusanmu dengan istriku!”
“hei, aku cuma bertanya. Sensitif banget kalau menyinggung Temari…”
Shikamaru hanya mendelik kesal ke arah naruto.
“Kalau Temari pergi ke Suna, tolong bawakan senbei ya? Itu enak banget.”
“Disini juga banyak.”
“Yang khas Suna lebih enak. Oh ya, sama tomorokoshi ya!”
“Di Suna nggak ada tanaman jagung, baka!”
“Tapi Gaara sering mengajakku makan itu.”
“Temari bukan pedagang makanan!”
“Aku hanya kangen makanan Suna. Boleh aku kesana?”
“Keluar dari Konoha sekarang, jangan pernah bermimpi jadi Hokage lagi.”
Shikamaru mulai kesal. ia tahu, butuh usaha ekstra agar bisa menahan calon hokage ketujuh itu agar tidak kluyuran ke luar desa, apalagi dengan hiraishinnya.
“Baiklah, Tuan Penasihat!” Naruto mengangkat tangan kanannya sampai pelipis. “Kalau tidak mau memberikan aku makanan, cepatlah beri aku keponakan!” lanjutnya dengan nada memelas.
“Iya. Eh,- appa!” Tak sadar dengan jebakan Naruto, Shikamaru mendengus kesal sekaligus malu. Naruto berani bersumpah, muka Shikamaru yang memerah terlihat lucu sekali.
“haha ha ha…..” Naruto tertawa puas bisa menggoda si tuan pemalas. Suaranya yang keras sampai mengagetkan beberapa orang di lua ruangan itu.
Shikamaru mati-matian menyembunyikan wajahnya yang memanas dengan memandang keluar jendela ruangan.
‘Awas kau, Naruto!’ rutuknya dalam hati.

—–
Senja yang cerah. Tak ada arakan awan yang memantulkan sisa-sisa pancaran sang surya. Semburat jingga di ufuk timur cukup memanjakan para penikmat sore.
Berjalan dengan berpikir dan ditambah keraguan, membawa kaki Naruto tepat di hadapan manshion Hyuga. Hanya 3 meter dari gerbang pintu kediaman klan bangsawan Konoha itu. Iris biru lautan itu hanya menatap kosong.

“ehem…”
Suara batuk yang dibuat-buat itu membuyarkan lamunannya. Refleks ia membalikkan badan. Dan mukanya langsung pias menatap sosok di depannya.
“Oh, Hiashi-sama…” Badannya membungkuk hormat pada pria paruh baya itu.
“Mau berkunjung ke kediaman kami, Naruto?” sapa ketua klan Hyuga itu ramah.
“Mm.. Gomennasai Hiashi-sama, mungkin lain kali.”
Sekali lagi badan tegap itu membungkuk. Mau ngapain ke manshion Hyuga jika tidak ada tujuan?
“Shouka. Aku permisi dulu,” Hiashi melewati pemuda Kyubi yang berdiri kikuk itu dan langsung memasuki kediamannya.

“Hh.. yakin ga mau masuk, Naruto!” sapa Neji geli. Hyuga bersurai coklat ini memang sejak tadi mendampingi Hiashi.
“Huh… Awas kau, Neji!” Naruto memberengut kesal digoda sepupu Hinata itu. “Aku tadi mau ke distrik Uchiha. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Sasuke,” ujarnya menutupi malu.
“Ke distrik Uchiha belok kanan, Naruto! Salah arah, heh!”
blush..
Naruto semakin merona, ketahuan jika ia mencari-cari alasan.
“Lagipula, percuma saja kau kesini. Hinata sedang tidak ada!” ujarnya.
Mendengar nama gadis itu disebut, Naruto yang tadinya sudah melangkah pergi langsung berhenti.
“Apa maksudmu, Neji? Bukankah rombongan Hyuga sudah sampai tadi siang?” tanya Naruto penasaran.
“Benar. Tapi Hinata dan Hanabi masih tinggal disana untuk beberapa bulan ke depan,”
“Berapa lama?”
“5 bulan. tapi mungkin bisa lebih lama lagi.”
‘Kusoo’ rutuknya dalam hati.
“Bagaimana keadaan mereka? Apakah aman?”
“Kau meragukan kemampuan Hyuga menjaga diri?”
“Tentu saja tidak!”
“Mengapa kau khawatir?”
Naruto tersentak. Ia sendiri yang yakin kalau Hinata akan menyelesaikan misinya dengan gemilang, tapi ia juga yang meremehkan Hinata. Neji benar, ia tak seharusnya khawatir. Yang ia harus lakukan adalah menunggu wanita itu.
“Aku tak harus menjawab pertanyaanmu, kan!” kilahnya sembari memalingkan muka.
“Huh…” Neji mendesah kasar. Percuma berdebat dengan pria satu itu.
“Aku pergi dulu. Jaa…” Naruto membalikkan badan. Baru lima langkah, ia berhenti lagi. “Oi, Neji. Tadi sore Tenten pulang misi dalam keadaan terluka. Aku sudah menjenguknya di rumah sakit. Kau tidak kesana, ne?”
Neji yang juga sudah berada di depan gerbang pun sontak menghentikan langkahnya saat mendegar nama itu disebut. Dan tanpa bertanya lebih lanjut, tubuhnya sudah menghilang menjadi kepulan asap. Naruto menatap dengan senyum tersungging.

—–

Lanjut ke chapter berikut kuyyy….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *