Chapter 29 Lampu Kuning


Piece of Life
Chapter 29
_Lampu Kuning_

Jika tak ada misi, pemuda kyubi itu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan bergelung di bawah selimut. Mulai hari itu, ia harus bangun pagi. Mengawali ativitas barunya untuk mempersiapkan diri menjadi hokage baru Konoha. Impiannya sejak kecil.

Jam 7.30
Ruang hokage tampak ramai dengan beberapa shinobi yang bertugas pagi itu.
“Jadi, apa yang harus aku kerjakan pagi ini sensei?”
“Pukul 9 nanti ada rapat dengan bagian keuangan. Kurasa kau harus mulai belajar tentang pengelolaan keuangan pemerintahan. Bahan rapat sudah disiapkan. Coba pelajari berkas ini ya.” Tumpukan kertas itu berpindah tangan.
“Banyak sekali, sensei.”
“Jangan kaget, Naruto. Tiap hari, seorang hokage harus bercengkrama dengan lembaran-lembaran putih. Jika tidak segera diselesaikan, mereka bisa berkembang biak dan semakin menumpuk di mejamu…”
Naruto terkekeh mendengarnya.
“Kau bisa mempelajarinya dengan Shikamaru di ruang sebelah,”
“Haik…”

Dengan kasar Naruto mendaratkan pantatnya di kursi. Pemuda Nara yang tengah asyik mencermati data di hadapannya terkesiap.
“Ada apa, Naruto?”
“Sensei memintaku mempelajari ini denganmu,”
“Mendokusai…” desahnya pelan. Sejak awal, Shikamaru memang berniat untuk berusaha membantu sahabat kuningnya menjadi hokage. Maka ia harus menyiapkan kesabaran ekstra saat diskusi seperti ini. Maklumlah, kecerdasan naruto berada beberapa level di bawahnya.
Meletakkan pena yang dipegangnya, Shikamaru membaca sekilas berkas-berkas itu. Suasana jadi hening sesaat.
“Oi, Shikamaru. Kuperhatikan, sejak menikah dengan Temari-san, kebiasaan menguapmu itu seperti hilang. Ada apa, hayooo…”
Naruto tersenyum jahil menggoda. Semburat merah tipis langsung merona di wajah penerus klan Nara itu.
“Sekarang, bukan saatnya bercanda, Naruto! kalau kau tidak serius, aku akan pergi! Pelajari sendiri berkas ini!”
“Iya.. iya…” Naruto mengalah. Menampilkan mimik serius.
“Ehem, orang yang sudah menikah, auranya memang beda ya!”

Plak
Sebuah buku mendarat tepat di muka Naruto disusul dengan suara tawa yang tertahan.

Seharian berkutat dengan berkas, Naruto berusaha keras untuk tetap waras. Jika ditanya, tentu ia akan memilih bertarung melawan musuh. Demi melindungi seluruh Konoha, ia bertahan menyelesaikan segala tugas administrasi yang menjadi bagian penting dari jabatan hokage.

Hari pun beranjak senja. Kakashi selesai membereskan beberapa gulungan di meja kerjanya. Sebelum ia keluar dari kantor hokage, Naruto memanggilnya.
“Ada apa, Naruto?”
“Gomen sensei, sebetulnya aku ingin mengatakan ini sejak pagi….”
“Tentang Hinata lagi?”
“Bagaimana sensei bisa tahu?”
“Wajahmu itu mudah sekali ditebak. Dan akhir-akhir ini, selalu masalah itu yang mengganggumu kan!”
Naruto mengangguk pelan.
“Tunda dulu keinginanmu itu!”
“Kenapa lagi!” Naruto geram.
“Siang tadi, Hiashi-sama minta ijin pergi ke luar desa. Ada kepentingan klan. Hinata dan Hanabi ikut serta.”
Wajah Naruto berubah jadi murung. Gagal lagi.
“Apakah mereka akan pergi lama?”
“Entahlah. Mungkin 2 atau 3 minggu.”
“Begitu ya. Baiklah, sankyu sensei….” Naruto pergi begitu saja dari hadapan Kakashi. Pikirannya kacau.
‘Apakah Hinata akan dijodohkan dengan orang lain? Dengan siapa? Apakah Hinata akan menerimanya? Masih adakah kesempatan buatku?’ Naruto menduga-duga sendiri berbagai kemungkinan yang terjadi. Sepertinya dia perlu memperbanyak doa agar hatinya lebih tenang.

—–

Hidup di klan seperti Hyuuga membuat Hinata tidak bisa bermalas-malasan. Setiap saat ada saja yang harus ia kerjakan. Berlatih saat pagi adalah rutinitas yang dijalani oleh Hinata dan para anggota Hyuuga lainnya agar kemampuan mereka tidak berkarat.

Letih berlatih, Hinata duduk di pinggir kolam di dalam manshion Hyuga sembari mengalirkan air segar ke dalam tenggorokannya yang mengering. Hanabi menghampirinya.

“Nee-chan, touchan mengajakku pergi ke Nadhesiko no Sato siang ini. Maukah kau menemaniku? Kumohon…” Wajah Hanabi memelas.
“Ini masalah klan Hanabi. Dan aku sudah menyerahkannya kepadamu kan! Tenang saja, Touchan dan Neji-nii pasti akan mendampingimu.”

“Nee-chan… aku tidak pantas dengan semua ini. Seharusnya semua ini menjadi milikmu. Semua ini adalah hak-mu.”
Suara Hanabi berubah lirih. “Seharusnya yang menjadi pewaris adalah kau… bukannya aku.”

“Hanabi, kita sudah membahas ini sebelumnya.”

“Nee-chan, mengapa kau dengan sukarela menyerahkan sesuatu yang jelas-jelas merupakan hak-mu?! Aku tidak menginginkan ini!”

“Orang yang pantas menjadi pewaris adalah kau.” Hinata mencoba bersikap tegas. “Aku tahu itu. Otou-san tahu itu. Para tetua juga tahu itu.”

“Lalu bagaimana denganmu?!”

“Aku tidak keberatan dengan hal ini.”

“Maksudku…” Hanabi menatap kakaknya dengan gusar. “Apa yang akan kau lakukan setelah tidak menjadi pewaris?”

Hinata mengerjapkan matanya. “Tentu saja melanjutkan kehidupanku seperti biasanya. Berlatih… menjalankan misi… menemui teman-teman…”

Hanabi mengerang. Terkadang kakaknya ini sulit sekali diajak berkomunikasi.
“Yang kumaksud adalah masa depanmu! Kau adalah puteri ketua klan Hyuuga… mustahil kau diijinkan menikah dengan pemuda yang berasal dari kalangan biasa.” Ekspresi Hanabi berubah masam.
“Setelah gagal menikah dengan kazekage muda itu, bukan hal yang mustahil jika para tetua berencana menikahkanmu dengan… seseorang yang mereka anggap pantas.”

“Aah…” Hinata hampir melupakan hal itu. “Kira-kira dengan siapa aku hendak dinikahkan…”

Hinata berusaha menerka-nerka calon suaminya dengan hati yang pahit.

Klan Hyuuga menganggap diri mereka sendiri sebagai klan terbaik di Konoha dan memandang rendah klan-klan lainnya. Sejak dulu klan Hyuuga mengatur dengan ketat pernikahan anggota klan mereka demi reputasi klan dan menjaga kemurnian byakugan. Pernikahan dengan seseorang yang dianggap rendahan dan tidak selevel adalah sesuatu yang tabu dan dilarang. Jika ada seseorang yang membangkang, maka dia akan dijatuhi hukuman atau yang paling berat yaitu dieksekusi mati.

Ekspresi Hanabi berubah gelap. “Aku tanpa sengaja mendengar nama Hyuuga Daichi disebut-sebut hendak menjadi pendampingmu.”

Seorang souke tidak boleh menikahi bunke.
Hyuuga …
dia adalah putera bungsu salah satu tetua klan.
Daichi adalah seorang souke…
ninja yang hebat…
berasal dari klan Hyuuga…
usianya tidak berbeda jauh dengan Hinata…
tak heran dia dianggap sebagai salah satu kandidat yang akan menjadi calon suami Hinata.

Hinata mencoba bersikap positif.
“Menikah dengannya bukan hal yang buruk. Setidaknya dengan begitu aku masih tetap berada di Konoha.”
Hinata tidak bisa membayangkan seandainya dia harus menikah dengan pemuda yang berasal dari luar Konoha. Ia tidak sanggup membayangkan harus berpisah dengan keluarga dan teman-temannya.

Hanabi mengangguk sebagai tanda setuju.

Meski begitu…

“Nee-chan, kau dan Uzumaki Naruto…”

Membicarakan pemuda kyubi itu, Hanabi harus menahan geram. Jika meminjam istilah dari para tetua Hyuuga, penampilan Naruto di matanya bisa disebut sangat tidak berkelas. Mungkin itu dipengaruhi kehidupannya yang tanpa keluarga. Kakaknya itu memang Hyuuga yang aneh, oleh karena itu Hanabi berusaha memaklumi jika selera kakaknya dalam memilih pemuda juga sangat aneh.

“Hmmm… Entahlah Hanabi. Aku tidak terlalu yakin tentang itu. Mungkin dia sudah kecewa karena aku pernah memilih Gaara-sama, sahabatnya sendiri. Masihkah aku bisa berharap? Terlebih, dia terlalu tinggi untuk kugapai…”
“Tentu saja. Naruto-nii itu orangnya pemaaf kan. Aku bisa melihat kalau dia juga sudah membalas perasaan nee-chan. Kalian pasangan yang serasi…” Mata Hanabi berbinar-binar. Hinata jadi tersipu malu dengan polah adiknya itu.

Cinta bukan hal yang paling utama dalam hidup. Hinata tahu itu. Klan Hyuuga sama sekali tidak mengutamakan cinta dalam pernikahan. Perjodohan adalah hal yang umum dilakukan oleh anggota klan Hyuuga demi menjaga kemurnian byakugan, bahkan dulu ayah dan mendiang ibunya juga menikah karena perjodohan.

Ayahnya secara tidak langsung pernah mengatakan jika Hinata kelak akan menikah dengan anggota klan Hyuuga atau menikah dengan seseorang yang dianggap ‘sederajat’. Ayahnya juga pernah membahas mengenai Naruto. Seandainya Hinata bisa menikahi Naruto maka klan Hyuuga tidak akan keberatan, bagaimanapun juga Naruto adalah calon Hokage oleh karena itu memiliki menantu seorang Hokage adalah hal yang menguntungkan bagi klan.

“Sudahlah Hanabi. Aku tak mau berharap lebih. kita lihat saja nanti…”

Hanabi dan Hinata saling melempar senyum. Tanpa mereka sadari, ada Hyuga lain yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.

“Hanabi-sama, Hiashi-sama memanggilmu. Ada beberapa hal yang ingin beliau sampaikan sebelum keberangkatan Hyuga nanti siang..”
“Oh, Neji-nii. Baiklah. Aku pergi dulu, Nee-chan…”
Hanabi berlalu meninggalkan Neji dan Hinata di tepi kolam.
“Hinata-chan, aku mendengarkan percakapan kalian tadi. Gomen ne…”
“Tak masalah Nii-san. Bukan hal yang sangat penting,” Hinata tersenyum. Neji pun duduk di sampingnya.

“Hinata-sama, aku tidak keberatan jika kau dan Uzumaki itu bersama.” Neji melipat tangannya di dada.
“Aku hanya ingin kau mengingat fakta jika kau adalah puteri Hyuuga yang terhormat. Kau berhak mendapatkan pria yang terbaik untukmu.”

“Nii-san…” Hinata sangat jarang mendengar Neji yang berbicara terus terang seperti ini.

Ekspresi Neji terlihat serius.
“Apa kau yakin jika Uzumaki Naruto itu adalah pilihan yang terbaik?”

Hinata menatap Neji sesaat. Tak bisa membalas pertanyaan itu.
“Naruto memang pemuda dengan hati yang baik dan tulus. Ia juga ramah dan suka membantu. Sulit menjumpai seseorang dengan hati yang hangat sepertinya. Tapi dia juga memiliki kekurangan. Apa kau tahu apa itu?”

Hinata menggeleng. Di matanya, Naruto itu sempurna. Tidak ada yang perlu diubah lagi. Hinata menyukai Naruto apa adanya.

“Naruto memiliki hati yang terlalu luas dan lapang.”

“Apakah itu bisa disebut… kekurangan?”

“Dia menyukai segala hal… dia menyukai semua orang… sulit menjadi orang yang paling berharga di hatinya karena Naruto menganggap semua orang itu berharga. Seandainya kalian berdua bersama lalu Naruto menjadi seorang Hokage… apakah kau yakin jika dia akan selalu mengutamakanmu? Apakah kau yakin jika dia akan selalu ada untukmu?”

“Aku selalu berkata pada diriku sendiri… selama aku bisa bersanding dengannya dan mencintainya, aku tidak akan menginginkan apapun lagi.”

Seandainya Naruto selalu berusaha mengutamakan kesejahteraan Konoha, maka Hinata akan selalu mendukungnya. Hinata tidak akan cemburu dan tidak akan menuntut…

“Tapi aku tidak ingin kau menjalani hidup seperti itu.” Neji menepuk-nepuk pundak Hinata dengan perlahan. Untuk seseorang yang kaku seperti Neji, tindakan kecil seperti ini bermakna besar.

“Nii-san?”

“Aku tidak ingin kau bersanding dengan pria yang tidak bisa menjadikanmu nomor satu di hidupnya. Aku tidak ingin kau bersanding dengan pria yang selalu mengutamakan pekerjaannya dan mengabaikanmu. Aku tidak ingin membayangkan setiap hari kau selalu mengerjakan pekerjaan rumah sendirian tanpa ada yang membantumu. Aku tidak ingin membayangkan setiap hari kau menyantap makan malam sendirian tanpa ada yang menemanimu dan menanyakan keadaanmu. Aku tidak ingin membayangkan setiap malam kau duduk sendirian di dapur dengan secangkir kopi ditangan sambil melihat ke arah jendela dan bertanya-tanya kapan suamimu pulang. Aku tidak ingin anak-anakmu merindukan ayahnya yang jarang pulang karena tenggelam dalam pekerjaannya.”

Hinata terdiam. Ia tidak pernah menyangka Neji nii-san sudah berpikir sampai sejauh itu. Seandainya ia dan Naruto pada akhirnya bisa berakhir bersama, hidup mereka berdua tidak akan berakhir seperti itu… kan?

“Setiap kali membayangkan itu semua, hatiku menjadi sakit. Hinata-sama, kau sangat berharga bagiku dan bagi keluarga Hyuuga. Aku berharap kau bisa menemukan orang yang mengutamakan dirimu melebihi dirinya sendiri.”

Neji menutup kedua matanya. Menghembuskan napas dengan kasar.

“Yahh… Sebetulnya aku dulu sempat meragukan Naruto. Tapi keraguanku padanya semakin pudar,” Neji menarik bibirnya sedikit ke atas. “Kulihat ia sungguh-sungguh memperjuangkanmu. Mungkin dulu memang dia orang yang bebal. Tapi, sekarang dia telah berubah. Aku bisa melihat itu dari matanya. Kuharap dia tidak mengecewakanmu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian…”

Perkataan Neji yang begitu tulus dan jujur membuat Hinata terharu.

Hinata menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan sepasang matanya yang basah.

.

Selama ini Naruto adalah tujuan hidupnya… inspirasinya… cintanya… Hinata selalu berusaha melakukan yang terbaik agar layak bersanding di sisi Naruto. Ia ingin kuat agar bisa bertarung di sisi Naruto. Ia ingin menjadi seseorang yang dikagumi Naruto.

Selama ini Hinata selalu menganggap Naruto sebagai mataharinya… Naruto adalah seseorang yang selalu bersinar dan hangat. Tapi bukankah matahari adalah hal yang tidak mampu digapai oleh manusia biasa? Apakah Hinata tidak akan bisa menggapai mataharinya meski ia telah berusaha berlari dengan sekuat tenaga?

Ayahnya selalu mengatakan sejauh apapun perjalanan yang ditempuh, pasti akan ada akhirnya. Hinata sudah lama menempuh perjalanan cintanya, namun kapankah semua ini akan berakhir? Jika suatu saat nanti memang berakhir, akan seperti apakah kisah yang diterima Hinata?

Ia tidak menyesal karena telah jatuh cinta pada Naruto, ia hanya menyesal karena pernah berbuat salah yang menyakiti Naruto. Meskipun pemuda itu berkata memaafkan semuanya, tapi Hinata merasa tak pantas lagi mengharapkannya.

=====

Satu chapter sebelum momen penting yakk…

Gomen ne
Diulur terus updatenya…

ilustrasi : kolam dalam rumah
bayangin aja kolam ini berada di manshion hyuga yang luas
Sumber : pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *