Chapter 28 Found You


Piece of Life
Chapter 28
_Found You_

Hari sudah malam saat rombongan Daimyo sampai istana Negara Api. Daimyo cukup terkejut mendapati Naruto sudah berdiri di gerbang bangunan megah itu.
“Naruto-san, kau sudah sampai di istana. Ada keperluan mendadak kah?”
“Benar, Daimyo-sama.”
“Masuklah, kita bisa bicarakan di dalam.”
“Haikk…” Naruto membungkukkan badannya.
Rombongan melanjutkan lagi perjalanan memasuki istana. Hinata yang berjalan melewati Naruto tidak menoleh sedikitpun. Seolah tidak saling mengenal. Hati Naruto mencelos melihat perubahan sikap gadis Hyuga itu. ‘Secepat itukah kau berubah, Hinata?’ bisiknya dalam hati.

Di selasar istana, Daimyo bertanya tentang keperluan pemuda kyubi itu.
“Apakah ada permasalahan penting, Naruto-san?”
“Sebetulnya tidak, Daimyo-sama. Saya hanya ditugaskan untuk segera meminta Hinata-san untuk segera kembali ke Konoha. Gomennasai Daimyo-sama, kami ada kepentingan yang sangat mendesak yang berkaitan dengan Hinata-san. Saya mohon ijin untuk segera membawa Hinata kembali ke desa kami,”

“Kami baru saja sampai. Tidakkah kau bermalam dulu disini? Semalam saja mungkin?”
“Arigatou, Daimyo-sama. Saya hargai permintaan Anda. tapi kami memang harus segera kembali ke Konoha malam ini juga,”
Hinata yang berdiri di belakang Daimyo hanya diam, padahal benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan.

“Bagaimana Hinata-san? Kau pulang sekarang?”
Hinata gelagapan saat ditanya langsung oleh Daimyo. Naruto yang menatapnya penuh dengan pengharapan.
“Et-to.. Saya akan mengikuti keputusan Anda Daimyo-sama.” jawabnya sambil menunduk.
“Shouka. Mungkin hokage memang sedang membutuhkanmu. Kamu bisa pulang sekarang. Jika urusanmu sudah selesai, silahkan kembali ke istana untuk membicarakan tawaranku tadi pagi. Bagaimana?”
“Baiklah, Daimyo-sama. Saya permisi dulu.”
Lelaki lebih dari paruh baya itu menganggukkan kepala.
Naruto dan Hinata pun undur diri.
.
.
Kedua shinobi itu berjalan beriringan keluar istana. Di dekat pusat keramaian kota.
“Naruto-kun, aku lapar. Aku mau makan dulu,” dan tanpa menunggu persetujuan Naruto, Hinata sudah melangkahkan kakinya ke toko yakiniku yoshinoya yang berada di seberang taman kota.
Hinata memesan satu porsi makanan yang katanya terkenal di kota itu. Hanya satu. Ia memilih duduk di dekat jendela. Pemandangan kota di malam hari ternyata indah juga. Tak lama, pesanannya telah tiba. Dengan lahap ia menyantapnya.
Naruto yang duduk di hadapannya hanya memandangi gadis Hyuga itu tanpa berucap sepatah katapun. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan tubuh bersandar di senderan kursi. ‘Senang bisa melihatmu lagi, Hinata. Sepertinya aku datang tepat waktu sebelum Daimyo mengubah kehidupanmu. Aku tidak akan rela jika kau berubah hanya karena tenggelam atas penderitaan dan kepedihan hidup. Aku sudah pernah melewati masa itu. Dan aku tak ingin kau mengulanginya lagi,’ bisiknya dalam hati.

“Apa kau akan kenyang dengan memandangiku seperti itu, Naruto-kun?” oceh Hinata di sela acara makannya, tanpa menatap pemuda yang duduk di depannya. Naruto tersenyum.
“Aku tidak lapar, Hinata. Kau mau lagi?”
“Kau mau membuatku gendut?”
“Hihihi… Aku tahu, seberapa banyak pun kau makan tak akan membuatmu melebar…”
“Iya, tapi kantongmu yang mengering…”
Naruto tertawa lebar.
Hinata yang sudah selesai makan hanya mendengus sebal. Berniat ke kasir untuk membayar pesanannya, niatnya dicegah Naruto. “Aku sudah membayarnya. Kita bisa pulang sekarang?”

Hinata membulatkan matanya tanda tak suka diperhatikan berlebih. Tetap diam, ia pun melangkah mendahului Naruto.

Memasuki hutan yang temaram di luar kota, hanya disinari purnama yang masih membulat. Naruto yang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat merasakan Hinata tak lagi mengikutinya. Gadis itu berhenti di tengah jalan.
“Kenapa berhenti, Hinata?”
“Katakan padaku, kalau ucapanmu soal kepentingan mendesak dari hokage itu adalah bohong.”
Naruto berdiri mematung. Jaraknya hanya sekitar 5 meter dari hadapan Hinata.
“Haruskah aku mengatakannya?”
“Apa maksudmu, Naruto-kun?”

Naruto menghela napasnya pelan. “Iya, kau benar. Bukan sensei yang memintamu segera pulang. Tapi,… aku…”
“Kenapa?”
“Aku sudah tahu semua Hinata. Tentangmu. Tentang Gaara….” Naruto menjeda ucapannya sejenak. “Jangan kalah dari semua penderitaan, Hinata. Tak perlu pergi jauh untuk menghindari kepedihan. Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Hatimu akan terus tersakiti.”

Hinata mengepalkan tangannya erat. matanya bergerak gelisah memikirkan apa yang sebaiknya ia katakan pada Naruto.

Hinata menggigit bibir bawahnya, ah.. ia tidak ingin menangis namun jantungnya berdebar hebat. Bagaimanapun juga Hinata tak bisa membohongi perasaannya sendiri, Ia mencintai Naruto dengan sangat. Sekalipun ia sempat mempertahankan Gaara tapi hatinya tak bisa berbohong bahwa ada kelegaan yang lain ketika hubungan mereka akhirnya tak dapat berjalan seperti yang diharapkan.

“Tak usah pedulikan aku! Biarkan aku pergi Naruto-kun…” suara Hinata terdengar serak menahan rasa yang membuncah.

“Apapun yang terjadi, kehadiranmu sangat berarti bagiku… mm.. maksudku.. semuanya akan selalu berada di sampingmu. Ino, Sakura, Shikamaru, Kiba, Sino, Lee, Tenten… kami semua. Jadi, jangan merasa sendiri saat kau sedih.”

“Kau salah, Naruto-kun! Keputusanku tidak ada kaitannya dengan kalian semua. Aku bukan siapa-siapa lagi. Jadi, tak ada yang akan dirugikan,” Hinata menepis rasa sedihnya. Ia berusaha untuk tegar dan tetap memegang pendirian.

Naruto berjalan mendekati Hinata. “Tak semua hal yang kita rencanakan akan berjalan sempurna, Hinata. Jadilah dirimu sendiri, apapun yang terjadi.”

Hinata menatap netra biru lautan yang menghantarkan kedamaian di hatinya. “Naruto-kun…” suaranya lirih.
“Menangislah, jika itu akan membuatmu lega.” ucap Naruto mencoba untuk menenangkan gadis Hyuga itu.
Hinata masih berusaha tegar. “Ak-aku membencimu, Naruto-kun. Kau sudah berhasil menghancurkan semuanya. Aku membencimuuuu….”
Pertahanan Hinata jebol. Sekuat apapun usahanya untuk menghapus semua tentang Naruto hanyalah menemui kata gagal. Ia terlanjur dalam terjebak pada pesona pahlawan dunia shinobi itu. Buliran liquid bening berhamburan dari mata lavendernya. Ia berlari ke arah hutan sembarang arah. Beberapa kali ia terjatuh menabrak bebatuan atau batang kayu yang teronggok di tanah. Sesuatu yang mustahil terjadi jika ia berlari dengan benar, apalagi ia menguasai kekkei genkai byakugan. Pergerakannya terhenti di tengah padang rumput luas dengan beberapa perdu yang tumbuh disana sini. Tangisnya meledak.
Naruto dengan mudah mengikuti semua arah kepergian Hinata. Dengan tenang, ia duduk di samping anggota tim Kiba dan Sino itu. Menunggu hingga kakak Hanabi itu tenang.

“Ak-aku telah gagal, Naruto-kun! aku gagal….” ucap Hinata terbata-bata di tengah tangisnya.
“Tenanglah Hinata. Kau tidak gagal. Anggap saja misimu harus diselesaikan dengan cara berbeda.”

“Pergilah, Naruto-kun. Tak perlu lagi mempedulikan aku. Pergilah. Cari saja gadis lain. Biarkan aku sendiri… Hiks hiks hiks…” Benaknya membayangkan wajah-wajah cantik para gadis yang berkeliaran di sekitar putra Minato itu. Dan itu semakin membuatnya terpuruk.

“Saat mengetahui rencana pernikahan itu, aku mencoba merelakanmu Hinata. Sebisa mungkin aku berusaha menghargai keputusanmu dan Hiashi-san. Tapi sekeras apapun itu, jauh dalam hatiku, aku tetap tak bisa menerima kenyataan bahwa aku akan segera kehilanganmu untuk pria lain. Dan pria itu adalah sahabatku sendiri. Tapi, saat Gaara secara sepihak mem
batalkannya, dadaku ikut merasa sakit. Ya sudahlah, tak perlu membahas hal itu lagi.” ucap Naruto tanpa menatap lawan bicaranya.

Hinata memang berhati rapuh. Ia akan mudah sekali menangis jika hatinya sangat tersakiti.
Naruto tersenyum meski hatinya terasa tertusuk duri tajam. “Minumlah, mungkin akan membuatmu lebih tenang!”
Ia menawarkan sebotol teh ocha dingin dalam botol yang sempat ia beli saat di toko yakiniku tadi. dengan ragu Hinata menerimanya. Beberapa teguk cairan manis itu sukses mengaliri tenggorokannya yang mengering.
“Seharusnya kau membenciku, Naruto-kun. Aku gadis yang lemah…” Hinata masih menghapus jejak-jejak air mata di mukanya. So insecure…
“Siapa bilang kau lemah, Hinata. Nggak ada yang berani melawan Byakugan No Hime sepertimu.”
“Itu dulu. Sekarang kondisinya berbeda.”
“Dulu atau sekarang, bagiku kau tetap sama.” Naruto memandangi bayangan pohon yang terlihat bercorak absurd di permukaan tanah. Seabsurd jalan hidupnya.

“Kenapa, Naruto-kun?” tanya Hinata meminta penjelasan.
“Kau ingin tahu?”
“Mm…” Hinata mengangguk lemah.
“Akan kukatakan nanti,” Naruto berdiri dan menghempaskan debu-debu yang menempel di celananya setelah duduk di tanah. “Di depan Hiashi-san. Di manshion Hyuga.” lanjutnya.
“Mengapa harus di hadapan touchan?” jawab Hinata dengan polosnya.

(Aduuhhh, Hinata… masak kamu nggak tahu arah pembicaraan Naruto sih. Author jadi gemes dwehhh…. hihihi)

Pemuda bersuari kuning itu hanya tersenyum. “Kita pulang sekarang?” ajaknya.
“Mm…” Hinata bangkit. “Sebentar…” Ia berjalan ke arah sungai kecil yang mengalir di tepi padang rumput itu. Mengambil sejumput air lalu membasuh mukanya. Terasa segar. Perasaannya lebih tenang kini. Seharian berjalan hingga malam, kakinya baru terasa pegal. Dipijitnya kedua kaki yang terbungkus sepatu ninja itu. Sebetulnya dia membutuhkan istirahat sebentar. Tapi….

“Kau lelah?”
“Mm.. sedikit…”
“Biar cepat sampai Konoha, kita pulang dengan hiraishin…”
“Bisakah jurus teleportasimu itu membawaku juga?” tanya Hinata memastikan. Setahunya, jutsu itu hanya untuk pemakainya saja.
“Aku sudah menyempurnakannya…”
Naruto menghulurkan tangannya.
“Pegang lenganku!”
Dengan ragu Hinata memegang lengan kekar Naruto yang terbungkus jaket hitam.
“Pegang yang erat!”

blummm….
degup jantung Hinata berlompatan
“Tutup matamu. Jangan dibuka sebelum kita sampai”

Perlahan Hinata mengatupkan rapat kedua matanya.

Wuushhhh…
Angin kencang seakan menerpa wajah Hinata. Cahaya kuat yang menyilaukan mata. Tubuhnya terasa ringan seakan terbang. Iapun memperkuat pegangannya, takut jatuh. Dan itu berarti semakin dekat pula tubuhnya dengan tubuh Naruto.
Hanya sekejap saja.
Kakinya terasa menginjak bumi lagi.
Tapi ia masih berpegangan erat pada Naruto dengan mata terpejam.

Naruto tersenyum geli. Ia biarkan saja Hinata memegang erat lengannya. (Beda banget ya perlakuannya pada Shion… hihihi..?)

1 menit
2 menit
3 menit
4 menit
5 menit

“Naruto-kun, apakah kita sudah sampai?” tanya Hinata ragu.
“Sudah,…” Hinata membuka pelan matanya. Ia takjub sudah berada di depan gerbang Konoha. “Sudah sampai lima menit yang lalu,” lanjut Naruto sambil menahan senyum.

Hinaya cengo. dan baru sadar masih memegang erat lengan Naruto. Segera saja ia hempaskan pegangannya. Mukanya memerah. “Kenapa tidak bilang sejak tadi, Naruto-kun….” Ia menutupi muka dengan kedua tangannya. Apalagi penjaga gerbang juga melihat adegan yang memalukan itu dari kejauhan.

“Gomen, Hinata..” Naruto masih terkikik menahan geli. “Wajahmu tadi lucu sekali…”
“Naruto-kun jahat…” Hinata memukul lengan Naruto yang sedari tadi ia pegang erat. Lalu berlari pergi menjauh dari gerbang desa. Ia ingin segera pergi ke kamarnya dan mengubur dirinya dalam selimut tebal.

Calon nanadaime hokage itu tersenyum puas penuh kemenangan. Anggap saja Naruto memang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan. Hihihi…. (jangan ditiru ya gaess….?)
.
.
.
Hinata langsung menutup pintu kamarnya. Lalu merebahkan tubuhnya di futton dan membungkusnya dengan selimut. Wajahnya masih memerah. Kepalanya menggeleng cepat berusaha menghilangkan ingatan kejadian yang membuatnya malu setengah mati tadi. Seandainya ia menguasai genjutsu dari sharingan seperti Uchiha Sasuke itu, ia pasti akan melakukannya.

Tok
tok
tok

“Nee-chan, apakah kau sudah pulang?” suara Hanabi setengah berbisik di luar pintu, khawatir mengganggu anggota keluarga yang lain.
Hinata diam nggak mau menjawabnya.
“Nee-chan, aku masuk ya…”
Hanabi tetap saja masuk ke kamar kakaknya. Ia tahu kalau saudara perempuannya itu ada di dalam. Meskipun belum sempurna, ia juga sudah menguasai byakugan. Tanpa perlu mengaktifkan jurus itupun, gadis kecil ini juga sudah merasakan cakra kakaknya.

Melihat Hinata yang meringkuk tertutup selimut, Hanabi jadi penasaran.
“Nee-chan, seharusnya kau baru sampai di istana Negara Hi kan? Cepat sekali sekarang sudah sampai rumah.”
Perkataannya tak digubris, Hanabi menarik selimut yang menutupi tubuh Hinata.
Hinata yang masih menyembunyikan rasa malunya berusaha agar wajahnya tak terlihat siapapun saat ini.
Terjadilah aksi saling menarik selimut yang akhirnya dimenangkan Hanabi. Ia menyingkap selimut Hinata hingga sebatas dada. Hinata pun mengambil bantal untuk menutupi mukanya.
“Nee-chan, ada apa sih?” Hanabi menarik juga bantal laknat itu.
“Kau ini kenapa nee?”

Hinata bangun dan duduk, kedua alisnya bertautan dan pipinya menggembung.
“Mukamu merah. Pasti ada yang baru saja terjadi. Biar kutebak.”

Hanabi memang dikenal cerdas dan pandai menganalisa.
“Nee-chan pulang ke rumah dengan sangat cepat. Wajahmu merah. Pasti ada kejadian yang memalukan. Sepanjang pengetahuanku, tak ada yang bisa membuatmu seperti ini, kecuali… Na…”
Hinata langsung membungkam mulut kecil itu.
“Hppphpp… hah” Hanabi berusaha melepaskan diri dari sergapan itu. Tangannya menggelitiki tubuh kakaknya, hingga ia pun terbebas.
“Jadi benar, semua karena Naruto-nii. cie cie…”

Hanabi tertawa melihat betapa lucunya Hinata hari ini. Muka Hinata semakin merah, semerah cabai besar merah.
“Diamlah, Hanabi!”
Hinata memberengut kesal.
“Ceritakanlah padaku, nee-chan.” bujuk gadis kecil yang penasaran dengan kisah cinta kakaknya itu.
“Tadi kami pulang dengan hiraishinnya. Rasanya seperti terbang. Dengan mata tertutup aku memegang lengannya erat sekali, takut jatuh. Ternyata hanya hitungan detik kami sudah sampai Konoha. Dan ia tidak memberitahuku. Jadi aku terus memegangi lengannya lama. Dia malah tertawa menjengkelkan. Dan penjaga gerbang juga melihatnya. Aku malu Hanabiii…”
Hinata tak kuasa, ia menidurkan dirinya kembali dengan posisi tengkurap. Jangankan Hinata yang pemalu, Hanabi saja yang menggodanya bersemu merah.

“Haaahft.….. pantas saja Onee-chan begitu mencintai Naruto-nii. Aku juga ingin punya suami yang seperti ituuuu…”

Buughk…

Sebuah bantal mendarat di wajah Hanabi.
“Berhenti menggodaku Hanabi-chaan..” ucapnya samar karena teredam bantal.

“Hehehe…. Mau bagaimana lagi, kalian ini lucu sekali.”
Mereka terdiam, Hanabi menyibukkan diri dengan memijat pipinya yang terlampau pegal karena tertawa sejak tadi.

“Setelah Gaara-sama mundur, apakah Naruto-nii akan maju, nee-chan?”
“Sudahlah Hanabi. Aku tak mau berharap banyak. Aku merasa sudah bekas orang lain. Siapa yang mau menikah denganku!”
“Nee-chan bukan bekas orang lain. Pernikahan ini kan belum terjadi.”

“Iya.., tapi aku merasa Touchan bersikap biasa pasti untuk menutupi rasa malunya. Touchan pasti malu memiliki anak gadis sepertiku, seperti wanita yang tak laku.”

“Hust… Tidak baik mengatakan hal seperti itu nee-chan. Menurutku tou-sama bukan malu, dia hanya tidak percaya ada yang menolak anak gadisnya yang manis dan pemalu ini.”

Hanabi tersenyum lembut, namun tidak juga dengan Hinata.

“Nee-chan sudahlah…, semua orang tau nee-chan gadis yang baik.”

Hinata terdiam, ia mengalihkan wajah melihat keluar jendela. Meskipun telah meminta maaf berkali-kali, perasaan itu tak juga menguap. Perasaan yang sama seperti ketika ia kecil dulu. Merasa tidak berguna, tidak berbakti dan hanya membuat malu ayahnya saja.

“Onee-chan, dengarkan aku.” Hanabi meraih jemari Hinata, meremasnya dengan keyakinan yang meluap.

“Onee-chan sudah melakukan hal yang benar. Meskipun nee-chan sempat memilih orang lain, tapi aku yakin sejak dulu jauh di dalam hati Naruto-nii adalah nee-chan, seorang perempuan yang ia cintai. Setelah sekian lama, bukan hanya Hinata-nee, tapi Naruto-nii juga telah lama menantikan hari ini. Hari dimana cinta terasa benar, hari dimana semua perasaan dapat terbalas.”

Hinata memandang lekat mata adiknya, seakan ia benar-benar meresapi apa yang hanabi rasakan melalui ucapannya itu.

“Lagi pula….” Hanabi tersenyum tipis “kalau bukan Naruto-nii, siapa lagi yang Nee-chan harapkan hmm?…

“Tapi Hanabi, aku masih memikirkan Gaara-kun.”

“Nee-chan sudahlah.!” Hanabi menaikkan suaranya. Hinata sampai terkesiap. Sangat jelas hinata menyaksikan senyum itu tiba-tiba saja hilang dan digantikan raut kemarahan hanya dalam beberapa detik saja.

namun seketika itu pula.
“Hinata-nee, maaf…” suara hanabi melembut, ia sadar dengan ketidak sopanannya
“Tapi berhentilah memikirkan pria itu. Aku yakin Gaara-sama membatalkan pernikahan kalian bukan hanya karena syarat yang mereka ajukan, tapi juga karena ia ingin melihat Hinata-nee bahagia. Hinata-nee sama sekali tidak mencintai Gaara-sama, kau hanya terobsesi dengan tujuanmu.”

Pandangan Hinata meredup. Semua yang dikatakan Hanabi memang benar. Ketakutannya selama ini membuatnya menutup mata dan telinga. Ia hanya terpaku pada Gaara meski ia tau bahwa itu semakin menyiksa dirinya dan Naruto.

“Mengenai klan, Desa ataupun Negara Hi. Aku mengerti, sebagai anggota klan Hyuga dan kandidat tunggal Hokage kehidupan kalian terikat kuat dengan hal itu…”
“Apa yang kau bilang, hanabi? Kandidat hokage?” hinata terkejut dengan kabar itu.
“Iya. hari ini baru saja diumumkan oleh tetua.”
Hinata diam. Ia merasa dirinya semakin kerdil dibandingkan pencapaian Naruto.

“Sudah begitu banyak kalian menghabiskan hidup dengan pengorbanan sebagai shinobi. Sekarang adalah saatnya kalian menjalani kebahagiaan tanpa dibebani orang lain. Kalian berhak, dan layak untuk mendapatkannya nee..”

“Dia semaikin tinggi untuk kugapai, hanabi.”
“Harapan itu selalu terbuka, nee-chan. Percayalah!”
Hinata tersenyum, begitu pelan dengan bibir yang bergetar. Ia amat tersentuh, merasa begitu banyak orang yang menyayanginya setelah semua hal yang ia lalui.

“Jangan menangis Nee-chan.” Hanabi mengusap air mata di pipi Hinata.
“Hanabi…, arigatou. Hontouni arigatou.”

Hanabi tersenyum lebar. Meskipun airmata dan isakan Hinata semakin menjadi, tapi ia melihat senyum bahagia yang merekah disana.

—–

Fyuhhh….
Akhirnya NaruHina ketemu sama happy
#lapkeringet

Mau dilanjut nggak fanficnya?
Komen ya reader….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *