Chapter 27 Merelakan

Piece of Life
Chapter 27
_Merelakan_

Di pinggir taman yang temaram, tampak dua shinobi Konoha tengah berbicara serius.
“Jadi begitu rupanya,…”
“Aku sendiri tidak tahu persis alasan Gaara-san mengambil keputusan mendadak itu.”
Tangan Naruto mengepal, menahan amarah. Ia merasa telah berkorban banyak untuk kebahagiaan Hinata. Tapi kenyataan yang terjadi sungguh diluar perkiraannya.
“Aku merasa bersalah sudah melibatkan Hinata untuk mencapai kebebasanku. Kurasa, cukup sampai disini aku membuatnya menderita.”
“Apa maksudmu, Neji?”
Naruto menatap tajam ke arah pemuda Hyuga berambut coklat di sampingnya.
“Hahh… Ya, aku akan berusaha untuk menerima takdirku. Kebebasan yang kuimpikan tak sebanding dengan pengorbanan saudaraku. Biarlah semua tinggal mim….”
“Hei.. Neji!” Naruto memegang kerah baju shinobi kuat murid Might Guy itu. “Semudah itukah kau menyerah! hah! Dimana Neji yang kukenal selama ini!”
Neji menepis tangan Naruto.
“Neji, dengar ya! Kita sama-sama terlahir dengan kondisi yang tidak diinginkan. Bedanya, kau masih bisa merubah takdirmu. Sedang aku harus menerima sepenuhnya. Kenapa kau menyerah?”
“Aku tidak akan mengorbankan orang lain! Titik!”
“Dan aku tidak akan berhenti sebelum janjiku terwujud!”
“Dasar keras kepala!”
“Jika kau mengharapkan aku menyerah, kau akan menungguku selamanya.”
“Naruto….”
Naruto bangkit dan pergi meninggalkan Neji yang masih saja dibuat bengong dengan keteguhan sikapnya.

—–

Naruto bergegas ke kantor hokage dan menemui Shikamaru yang tengah mendapat giliran jaga malam.
“Aku akan ke Suna.”
“Malam ini? Ini sudah hampir tengah malam Naruto.”
“Hn. Sebelum subuh aku akan kembali lagi ke Konoha.”
“Soal Hinata lagi?”
Naruto diam. Rasanya tak perlu menjawab pertanyaan itu.
“Sadari batasanmu, Naruto!”
“Aku tahu!”
Shikamaru terpaksa melepas kepergian Naruto. Percuma saja mencegah pemuda kyubi itu. Dengan hiraishin, ia bisa pergi kemana saja yang ia suka.
“Mendokusai….”

—–

“Naruto-san…”
Tiga shinobi penjaga gerbang Suna menunduk hormat pada Naruto.
“Sampaikan ke kazekage. Aku tunggu di roof top istana barat.”
Sering ke istana Suna, Naruto sudah hafal betul denah bangunan disana. Ia juga sering ngobrol dengan Gaara di lokasi itu. Sesama jinchuiriki, ada ikatan tak kasat mata yang menghubungkan keduanya.
“Haikk…”
Pofff…
Naruto menghilang.
.
.
.
“Sibuk?”
“Tidak juga.”
Gaara meghampiri Naruto yang berdiri di tepi pagar lantai paling atas gedung bertingkat lima itu.
“Cuaca cerah…”
“Hn.”
Gaara diam. Dia tahu Naruto sedang berusaha menata perasaannya. tak seperti biasanya, bicaranya bertele-tele. Meski tahu apa yang ingin sahabatnya itu bicarakan, ia memilih untuk menunggu.
“Aku menantangmu, hanya dengan taijutsu.”
Gaara mengangkat ujung bibirnya sedikit. Sudah lama ia tidak bertarung melawan Naruto, lawan seimbang. Terlebih, ia agak bosan dengan pekerjaan administratif sebagai kazekage. ‘Kurasa, aku perlu sedikit bersenang-senang,’ bisiknya dalam hati.

Dengan tangan kosong, Naruto mulai menyerang pemimpin negeri pasir itu. Hanya pukulan biasa. Dengan gesit, Gaara mengelak. Ia tetap tenang menghadapi terjangan yang menghampirinya. Sesekali ia membalas serangan Naruto.
“Kau melemah, Gaara!”
“Aku hanya mengalah.”
“Kau meremehkanku.”
“Menurutmu?!”
Naruto menyerang Gaara dengan kecepatan tinggi. Meski tak sehebat Rock Lee dalam hal taijutsu, tetap saja serangannya bisa mematikan lawan.

Merasa puas bermain-main dengan Gaara, Naruto memilih untuk duduk dengan bersandar pada kedua lengannya. Gaara pun dengan tenang mengikutinya. Dua orang pelayan mengantarkan minuman pada keduanya.

“Tak ada angin tak ada hujan…”
“Kau pasti sudah tahu apa maksudku menemuimu.”
“Soal itu…”
Gaara menikmati rembulan yang bersinar sempurna lalu menghembuskan napasnya dengan kasar seolah ingin membuang beban di hatinya. “Aku tak ingin menyakiti sahabatku,” lanjutnya.
“Tapi kau telah melukainya…”
“Luka pertama dan terakhir..”
“Kukira aku menyerahkannya pada orang yang tepat, untuk selalu menjaganya…”
“Aku mungkin bisa memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya. Dan itu sama dengan mengembalikanku ke masa lalu. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi.”
Naruto menunduk dalam. Antara kesal, marah, bingung, menyesal.
“Naruto, berjanjilah padaku. Kembalilah padanya. Hatinya milikmu.”
“Kau memberiku pilihan yang sulit, Gaara!”
Gaara menatap tajam ke shinobi di sampingnya.
“Jangan bilang kalau kau tak mau dengannya lagi! Aku sudah berkorban banyak untukmu!”
“Kau tahu, aku merasa menjadi orang ketiga yang telah menggagalkan pernikahan sahabatku sendiri. Itu sangat memalukan!”
Naruto meremas kasar surai kuningnya.
“Kau salah. Justru aku orang ketiga yang berada di antara kalian!”
“Hah… semua jadi membingungkan…”

Keduanya terdiam. Mencoba untuk melihat permasalahan dari berbagai sisi.

“Kembalilah. Kau orang yang paling tepat untuk mendampinginya,”
Gaara berdiri dan tetap menatap ke depan.
“Aku tidak akan membatalkan beberapa poin kerjasama dengan Hyuga meskipun pernikahan ini tidak jadi digelar. Saling menguntungkan. Dan kau tetap bisa berusaha mewujudkan janjimu pada pemuda Hyuga berambut coklat itu.”
“Gaara,.. kau…”
Naruto memandang pria bersurai merah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Dua kali kau menyelamatkan aku dari kematian. Kurasa apa yang kulakukan belum sepadan. Kita masih berteman kan!”
Gaara menoleh ke Naruto dan menghulurkan tangannya.
Perlahan, Naruto bangkit dan menyambutnya lengan yang dibungkus dengan baju merah itu.
Meraka tersenyum hangat.
“Arigatou, Gaara…”
“Hn…”

Angin malam berhembus, terasa lebih dingin saat kau berada di padang pasir seperti Suna. Tapi hati yang hangat mengalahkan semuanya.

“Kurasa tak lama lagi aku akan mengundangmu minum teh di Suna,” ucap Gaara dengan tenang. “Setelah jabatan hokage kau raih,” lanjutnya.
“Tentu saja. Aku berjanji untuk menghadiri undanganmu,”
.
.
.
.
.

Pagi yang cerah di langit Konoha. Naruto sudah berada di rumah sakit untuk mengecek kembali Karashi dan Ryu. Kondisi mereka semakin membaik. Ino berhasil mengembalikan kesadaran mereka.
“Mereka masih perlu istirahat. Nanti saja jika ingin introgasi lebih lanjut,”
“Shouka. Sankyu, Ino…”
“Istriku memang paling hebat…” Sai tiba-tiba sudah berada di ruangan serba putih itu dengan tepuk tangannya yang pelan.
“Sai-kun,” Ino bergelayut manja di lengan suami tercintanya.
“Halo… jangan beradegan mesra di muka umum!”
Naruto memalingkan mukanya dari pasangan suami istri di hadapannya.
“Bilang saja kamu pingin, Naruto. Dasar dokushin!” Ino menjulurkan lidahnya. “Makanya, cepat menikah sana!”
Sai tertawa melihat kelakuan istri dan rekannya itu.
“Naruto, bersiaplah. Kenakan hakama, hokage akan menunggumu satu jam lagi di ruang pertemuan adat,” ucap Sai.
“Pertemuan? Ada apa?”
“Entahlah. Aku hanya ditugaskan memberitahumu agar segera bersiap diri.”
“Mungkin hokage-sama akan menikahkanmu dengan wanita pilihannya,” goda Ino yang tertawa cekikian melihat Naruto yang mukanya memerah.
“Apaan sih, Ino. Aku pergi dulu. Sankyu, Sai!”
Naruto segera berbalik dan menjauh dari pasangan Yamanaka itu.
“Ada apa, Sai-kun?”
“Kurasa impian Naruto tak lama lagi akan terwujud. Aku turut bangga dengan pencapaiannya.” jelas Sai yang masih saja menatap arah Naruto menghilang. “Kau masih ada pasien lagi, anata?”
“Tidak, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di Divisi Introgasi,”
“Mau kutemani? Kita searah…”
“Tentu saja, suamiku yang paling tampan…” Ino menangkup gemas wajah yang mirip Sasuke itu lalu berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit dengan bergelayut manja di lengan suaminya. Beberapa perawat yang bersimpangan dengan pasangan muda itu hanya tersipu melihat keromantisan keduanya.
(yang jomblo pura-pura nggak baca bagian ini ya. takut senyum-senyum sendiri…)
.
.
.
.
Di ruang hokage

“Kau memanggilku, sensei?”
“Oi, Naruto. Kau sudah siap?”
“Sebetulnya aku ingin meminta bantuanmu, sensei. Aku…”
“Nanti saja. Sekarang, ada hal lain yang jauh lebih penting dan harus kau lakukan.”
“Ada apa sensei? Kenapa harus pakai hakama segala!”
“Para tetua adat akan mengadakan pertemuan. Mereka akan memutuskan penerus hokage berikutnya.”
“Bukankah sensei masih sangat mampu untuk memegang jabatan itu?”
“Harus ada regenerasi, Naruto.”
“Maksudmu, aku akan menggantikanmu?”
“Hn. Tak ada kandidat lain sekuat dirimu kan..”
Naruto bengong. Secepat inikah ia akan menggapai impiannya. Menjadi hokage? Benarkah!!!
“Kau tidak senang, Naruto? Bukankah sejak kecil kau sudah bercita-cita jadi hokage.”
“B-bukan begitu sensei. Aku hanya terkejut.”
“Shouka. Kita ke ruang pertemuan adat sekarang. Tenang saja, aku tetap akan mendampingimu.”
Kakashi menepuk pundak Naruto pelan.
.
.
.

Menjelang senja, pertemuan adat baru selesai. Penunjukkan Naruto sebagai kandidat utama nanadaime hokage bukan tidak rumit. Ada beberapa tetua yang masih meragukan kemampuannya terlebih usianya yang masih sangat muda. Ditambah lagi ada anggota klan Uzumaki yang pernah menjadi anggota Akatsuki. tapi sebagian tetua mendukung penuh usulan Kakashi agar Naruto bisa menduduki jabatan utama di Konohagakure itu. Mengingat jasa-jasa Naruto untuk Leaf Hidden Village dan juga perdamaian dunia shinobi. Darah Namikaze Minato, sang Yondaime Hokage juga mengalir dalam tubuhnya. Kedekatan hubungan Naruto dengan para pemimpin desa shinobi yang lain juga menjadi pertimbangan.
“Baiklah, kami para tetua Konohagakure telah memutuskan, Uzumaki Naruto akan menjadi kandidat hokage berikutnya. Naruto harus mengikuti program persiapan hokage selama masa 6 bulan. Rokudaime hokage akan membantu Naruto selama masa persiapan.”
“Haikk…”
Semua orang menunduk menyetujui keputusan para tetua Konoha tersebut.

Selepas dari pertemuan adat itu, Naruto menuju ruang hokage. Ada beberapa orang yang masih membicarakan keputusan para tetua Konoha disana.
“Wah, selamat ya Naruto. Omedeto…” semua rekan shinobi memberikan ucapan selamat atas pengukuhan Naruto sebagai kandidat Nanadaime hokage. Prestasi yang luar biasa untuk shinobi muda seperti dia.
“Arigatou minna. Mohon kerjasamanya. Aku tak bisa mengemban amanah ini tanpa bantuan kalian semua,” Naruto membungkukkan badan menghadapi mereka semua.

Setelah ngobrol sebentar, satu per satu para shinobi itu itu undur diri menyisakan Kakashi, Shikamaru dan Sai.
“Sensei, aku butuh bantuanmu!”
“Tentang?”
“Hinata…”
“Oo… jadi kau sudah tahu ya. Gomen, Naruto. Saat kau melaporkan misimu kemarin aku tak sempat membicarakan hal ini. Jadi, apa rencanamu sekarang?”
“Aku akan melamarnya!”
“Appa!” Sai terkejut. Shikamaru dan kakashi tetap saja dengan muka datar mereka.
“Kau yakin lamaranmu akan diterima?” Kakashi duduk bersandar di kursi kebesarannya. Naruto menoleh ke gurunya, ia merasa diremehkan. “Tunda saja keinginanmu itu.”
“Apa maksudmu, sensei?”
“Tadi pagi Hinata ada misi solo, mengantar putri bungsu Daimyo negara Hi pulang. Malam ini rombongan mereka mungkin baru sampai ke istana.”
“Kenapa harus Hinata?” tanya Naruto dengan nada tidak terima.
“Tuan putri yang memilihnya.”
Kakashi berdiri dan mendekati murid terhebatnya itu. “Satu lagi, Hinata meminta ijin untuk bergabung ke ANBU!”
“Ini gila! Kau tidak mengijinkannya kan, sensei!”
“Tentu saja tidak, tak mudah bagiku menuruti keinginannya itu. tapi dia memaksa. Kurasa ia sangat sedih dengan kegagalan pernikahannya.”
Tangan Naruto menggebrak meja hokage. Mukanya memerah menahan amarah.
“Aku akan menyusulnya ke istana. Sekarang!”
“Tunggu, Naruto. Tenang dulu!” Sai memegang pundak rekan setimnya itu.
“Shikamaru…” Tanpa menoleh, Naruto meminta sahabat nanasnya itu untuk menjelaskan maksud tindakannya itu.
“Hm… Mendokusai..” Pemuda Nara itu pun angkat bicara. Otaknya yang cerdas dapat dengan cepat menangkap penyebab amarah Naruto. “Menjadi bagian ANBU adalah pilihan paling mengerikan yang pernah diambil oleh Hinata. Kau tentu bisa membayangkannya, Sai.”
“Shouka. Kehidupan yang gelap, mematikan hati dan perasaan. Kurasa Hinata tak pantas berada disana.” sahut Sai.
“Naruto lebih cemas jika Hinata akan dijadikan pengawal elit Daimyo. Seperti Asuma sensei dulu. Bukan lagi shinobi desa, tapi mereka berada dibawah kendali Daimyo. Apapun yang terjadi di Konoha, mereka tak boleh campur tangan.”
Shikamaru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berdiri bersandar dinding. “Hinata mungkin berencana menjauhkan diri dari Konoha. Apalagi ia sudah terlanjur melepaskan gelar heiress klan Hyuga ke Hanabi.”
Naruto memukul lagi meja yang tak bersalah itu lagi.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Sensei, aku pergi sekarang!”
“Jangan buat keributan disana Naruto! Ingat! Sekarang kau adalah kandidat utama penerus hokage. Jaga sikapmu!”
“Aku tahu, sensei. Permisi!”

poff…
Naruto menghilang.
“Mendokusai.”
“Masalah perempuan itu sangat kompleks. Jadi, jagalah istri-istri kalian biar tidak membuat masalah!” pesan kakashi pada kedua shinobi muda itu yang hanya dijawab dengan senyuman geli.
.
.
=====

Naruto mode on fire nih.
Apakah Hinata mau diajak kembali lagi ke Konoha?
Cari jawabannya di chapter berikutnya….

Jaa…

Like n comment kamu sangat berarti buat author….
🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *