Chapter 26 Aurora Rasa


Piece of Life
Chapter 26
-Aurora Rasa-

Gerbang Konoha

Kotetsu dan Hiko menunduk hormat saat Naruto dan Hinata berjalan bersisian melewat pos penjagaan itu. Keduanya hanya diam tanpa percakapan. Naruto memandang ke depan, arah matahari tenggelam yang terhalang arakan awan. Sementara Hinata hanya menatap jalanan berdebu yang ia lewati, entah apa yang menarik dari corak tanah itu.

“Naruto-kunnn….”
Mendekati tikungan yang bercabang 4, langkah naruto terhenti. Dari arah kiri, terlihat seorang gadis tengah berlari mendekatinya. Naruto tampak kaget saat pemilik rambut kuning platina itu bergelayut manja di lengan kirinya.
“Kau kemana saja! Aku sudah menunggumu dua hari ini,” suara lembut itu terdengar manja
“Eh, Shion…” Naruto tampak risih dengan perlakuan gadis didepannya. Hinata yang menyaksikan adegan drama itu hanya membisu. Ia memalingkan muka, hatinya benar-benar hancur.

Naruto mencoba melepaskan tangan mungil Sara yang menggamit lengannya erat.
“Aku baru pulang dari misi. Ada urusan apa ke Konoha?” tanya Naruto mengalihkan suasana canggung yang ia rasakan.
“Kerjasama dengan Konoha terkait beberapa proyek di negeriku. Kau sudah lama sekali tidak berkunjung, Naruto-kun….”
Ayolah, Naruto memang tak pernah mengunjungi Shion. Terakhir bertemu memang ia sedang ada misi untuk menyelamatkan Shion dari para pengkhianat di negerinya, itupun dibantu Neji Hyuga, Rock Lee dan Sakura. Dan ia memang tidak ada niat untuk berkunjung. Ia tak ingin hubungan mereka lebih dari sekedar klien.
“Gomen. Aku sibuk disini. Oh ya, Shion. Kenalkan, ini Hinata Hyuga, temanku,” Naruto menarik atensi Hinata yang terlihat canggung.
‘Uh, teman ya. Memang aku harus diperkenalkan sebagai apanya Naruto! Baka kau, Hinata!’ rutuk Hinata dalam hati.
Shion mengulurkan tangan, disambut Hinata dengan senyuman tipisnya.
“Setelah ini, kau mau kemana, Shion?”
“Ke kantor hokage, masih ada beberapa hal yang harus kami bicarakan sebelum aku pulang besok pagi. Kau mau mengantarku, Naruto-kun?” pinta Ratu Negeri Rawa itu seraya memeluk kembali lengan kekar yang dulu pernah menolongnya.
“Mm… Hinata, bukankah kau searah dengan Shion. Bisakah kau mengantarnya sebentar? Aku harus ke rumah sakit. Timku terluka dan harus segera diperiksa,”
Naruto menatap Hinata dengan bola matanya yang bergulir ke arah Shion. Hinata membulatkan bibirnya mendengar permintaan pemuda Kyubi itu.

‘Kenapa harus aku?’
‘Karena nggak ada orang lain selain kamu disini..’
‘Nggak mau!’
‘Kamu tega sekali, Hinata!’
‘Selesaikan saja urusanmu sendiri!’
”Ayolah Hinata, tolong aku dari wanita ini. Ya. Pliss.. Kumohon!’

Naruto dan Hinata saling bercakap tanpa suara. Melihat Naruto yang terlihat lucu dengan puppy eyes itu, Hinata luluh. Bagaimanapun juga, pemuda itu tetaplah temannya. Dan sebagai teman, harus saling menolong kan! Heii.. bukankah ia juga akan merasa senang saat Naruto bisa jauh dari gadis penggoda itu! Husshh…baka. Hinata memaki dirinya sendiri.

“Mm..Baiklah. Shion-san, kita bisa pergi ke kantor hokage. Naruto-kun memang sudah ditunggu di rumah sakit sejak tadi. Mari…” Hinata mengulurkan tangan untuk mempersilakan Shion jalan terlebih dahulu.
“Kau dengar, Shion. Hinata akan mengantarmu. Aku pergi dulu. Jaa..”
“Tapi, Naruto-kun. Ak-”

Poff…
Naruto menghilang dengan cepat.

Shion memberengut kesal. Ia pun terpaksa berjalan diiringi Hinata dengan menghentakkan kakinya.

Langit senja semakin temaram. Sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Ingin rasanya Hinata segera berlari dan pulang ke rumah. Mendampingi wanita yang berjalan lamban ini memaksanya untuk bersabar.

“hei.. Hinata-san. Kau temannya Naruto-kun. Kau pasti tahu banyak tentang dia.”
“Tidak juga Shion-san,” Hinata menunduk. Dan tanpa Shion sadari, semburat merah merona tipis di pipi Hinata.
“Et-to.. Apakah Naruto-kun punya teman yang dekat di Konoha? Seperti kekasih mungkin?”
“Soal itu, anda bisa menanyakan sendiri ke Naruto-kun…”
“Begitu ya.”

Keduanya kembali diam, larut dalam pikirannya masing-masing.

“Mm.. Anda sendiri, kelihatannya sangat dekat dengan Naruto-kun, Shion-san!” tanya Hinata ragu.
“Dia itu penolongku, Hinata-san. Shinobi hebat dan juga… tampan. Negeriku sangat berhutang budi padanya. Dulu aku sempat menawarinya untuk tinggal lebih lama. Berharap ia terus selamanya mendampingiku,” ucap Shion pelan. Kepalanya ikut menunduk. “tapi, ia menolaknya.” lanjutnya.
“Tapi, aku tak akan menyerah. Suatu saat, Naruto-kun pasti mau.” ucap Shion bersemangat.
Hinata mendengar perkataan Shion hanya menarik sedikit sudut bibirnya ke atas. Tersenyum kecut.

“Eh. Apa kau cemburu padaku, Hinata-san?”

Hinata blushing.
Apa tadi, cemburu!
Buat apa dia cemburu!
Dia tak berhak untuk cemburu.
Dia hanya sekedar ‘teman’ bagi Naruto kan!
Ya.
Hanya teman.

“Ti-tidak begitu Shion-san. Kami hanya berteman,” Hinata tersenyum kikuk.
“Tapi kalian terlihat akrab…”
“Tentu saja. Kami kan rekan shinobi di tim Rocky 12,” jawab Hinata meyakinkan.
Sebelum Shion bicara lebih jauh lagi, Hinata langsung memotongnya.
“Shion-san. Kita sudah sampai di kantor hokage,”
“Oh, iya…”
Kedua perempuan itu berhenti. Dan dua orang pengawal menghampiri Shion.
“Shion-sama, kami sudah menunggu anda.”
Shion mengangguk.
“Gomen, aku harus segera pulang Shion-san.”
“Arigatou, Hinata-san.”
Shion membungkuk hormat dan melangkah menuju gedung dimana Kakashi menyelesaikan tugasnya.

Poff.
Hinata pun juga menghilang dengan cepat.

=====

Hinata menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia lelah. Bukan hanya fisik, hatinya juga. Matanya masih terasa berat akibat terlalu banyak menangis tadi.
‘Apa-apaan itu tadi! Huuuhhh….’ Hinata kesal.

Tok tok tok…
“Nee-chan…”
“Masuk, Hanabi!”
Pintu kamarnya terbuka. Kepala adik tersayangnya itu muncul.
“Sudah pulang rupanya. Nee-chan tadi kemana?”
“Ada. Cari udara segar.”
“Nee-chan baik-baik saja kan?” tanya Hanabi khawatir.
“Aku baik saja, Hanabi-chan. Beberapa jam kutinggal, kau merindukanku, ne?” goda Hinata. Hanabi hanya tersenyum hangat dan balas memeluk kakak tersayangnya itu.
“Semenjak pertemuan dengan kazekage-sama kemarin, Neji-nii dan touchan mengkhawatirkanmu nee-chan.”
Hinata mengukir senyum hangat dan membelai rambut coklat Hanabi.
“Jangan khawatir, Hanabi. Aku bisa menguasai diri. Semua akan baik-baik saja. Percayalah,”
“Umm…” Hanabi mengangguk. Dia yakin kakaknya gadis yang kuat. tentu saja, seorang Hyuga pasti kuat.
“Nee-chan…”
“Iya..”
“Bau….” Hanabi menutup hidung mungilnya dengan kedua tangannya.
“sudah tahu nee-chan belum mandi, kenapa tadi memelukku, hanabiiii…”
Hinata langsung bangkit dan menuju kamar mandi. Hanabi hanya cekikian melihat tingkah lucu kakak tersayangnya itu.

=====

“Bagaimana keadaan Karashi dan Ryu, Sakura-chan?”
“Masih sama sejak kau bawa mereka kemari, Naruto. Sebetulnya apa yang terjadi?”
“Kami semua pingsan. Mungkin bisa sehari semalam, aku tidak ingat pasti berapa lama kami pingsan. Lalu bermimpi. Ini hampir seperti Mugen Tsukuyomi. Hanya saja mimpi ini tidak menceritakan bagaimana kebahagiaan yang kita inginkan. Aku dan Shouji bisa cepat terbangun karena dorongan kuat untuk segera keluar dari mimpi buruk itu.”
Naruto berdiri di antara ranjang Karasi dan Ryu yang terpisah. Tangan mereka masing-masing telah tersambung dengan cairan infus.
“Karashi dan Ryu mungkin saja sedang melakukan perjalanan di mimpinya. Mereka sadar kalau ini tidak nyata. Ada hal yang mereka rasa harus segera diselesaikan.”

“Ini aneh. Aku belum pernah menemui kasus seperti ini.”
Sakura memegang urat nadi Karashi. “Detak jantungnya agak melemah. Tadi sudah kucoba menggunakan pembalik genjutsu, tapi tak berhasil. Aku tak bisa memasuki alam pikiran Karashi.”

“Kurasa, kita perlu bantuan Ino,”
“Aku akan menyuruh orang untuk mencari Ino. Sebaiknya kau pulang dulu, Naruto. Badanmu bau…”
Sakura mendorong Naruto ke pintu.
“Iya.. iya.. nanti aku kesini lagi. Tolong jaga mereka ya…”
“Tentu saja. Sudah sana, pergi…”

Naruto segera keluar dari rumah sakit. Berniat pulang ke apartemen jalan kaki, urung ia lakukan. Ia memilih melompati rumah-rumah warga. Mengapa? Tentu saja untuk menghindari Shion yang bisa muncul dimana saja, meskipun tadi dia bilang mau ke kantor Hokage. Demi Tuhan, ia melihat kilatan tidak suka di wajah Hinata saat melihat Shion memeluk lengannya tadi.
‘Apakah dia cemburu? Mmm… rasanya tidak mungkin. Dia sudah memilih Gaara. hah… semua ini memusingkan,’ Naruto mengusap asal surai kuningnya.

=====

Sementara itu, Sai tengah duduk di sebuah taman dengan hiasan bunga wisteria yang sangat indah. Tangannya memegang sebuah lukisan bunga cantik, secantik Ino – istrinya. Ya, sejak menikah, mereka sering menghabiskan waktu di taman ini. Sekedar melepas lelah, memanjakan mata dengan aneka bunga yang berwarna merah, ungu, putih, kuning dan biru yang tergantung memenuhi tempat rambatannya yang dibuat seperti atap lengkung di jalan taman. Meskipun indah, tetapi bunganya beracun dan tidak boleh tertelan. Kata Ino, tanaman ini bisa menimbulkan mual, muntah dan sakit diare.
Biasanya, banyak muda-mudi yang berfoto selfi di di taman ini karena memang bunganya yang indah itu terlihat luar biasa jika jumlahnya banyak. Karena hari sudah senja, taman terlihat lengang.

“Sedang melukis apa, Sai-kun?” tanya seorang wanita yang dengan santainya menempatkan dirinya di samping Sai.
“Anata, sudah pulang. Bagaimana kau menemukan aku disini?”
“Shikamaru tadi bilang kalau kau ingin ke taman,”
“Hn…”

Keduanya tampak duduk bersisian di bangku taman dengan bahu yang menempel. Terlihat lelah, Ino pun menyandarkan kepalanya di bahu sang belahan jiwa.

Senja segera menyambut malam, memandikan segala yang ada di bawahnya dengan berkas cahaya oranye yang memanjakan mata, tak luput dua orang yang tengah menikmati hamparan bunga berkelopak ungu itu. Menimati semu sang surya yang mengguyur wajah mereka sebelum ia kembali ke peraduan.

“Cantik…”
“Arigatou, Sai-kun..”
“Bunganya..”
Huh. Bibir Ino mengerucut sebal. Sebuah cubitan kecil hinggap di perut pemuda berambut eboni itu. Ternyata Sai sudah bisa ngebanyol juga.

“Anata, boleh aku bertanya?”
“Umm. Apa?”
“Apakah kau menyesal menikah denganku?”
“Pertanyaan macam apa itu…”
“Tadi aku mendengar dua orang yang sedang bertengkar. Tidak sengaja, karena suara mereka yang terlalu tinggi. Jadi, jangan salahkan aku. Salah seorang dari mereka marah karena pasangannya orang yang tidak berperasaan. Bukankah aku juga seperti itu? Kau tahu, masa laluku sangat suram. Apa yang kau harapkan dari orang sepertiku, Ino?”

“Haruskah aku ulangi jawabanku, Sai-kun? Kau sudah terlalu sering menanyakannya…” Ino mengeratkan pelukannya di lengan Sai.

Apa… apa yang kau lihat dari seseorang yang rusak seperti diriku, Ino?”
“Aku tak peduli dengan masa lalumu. Aku hanya mensyukuri kehidupan kita sekarang dan harapan kita di masa depan.”

Sai tak berbicara apapun, ia hanya memandanginya dalam perangkap bola mata jelaganya yang sekelam malam — membuat Ino seketika terbisu. Apa yang sedang dipikirkannya sekarang ini? Sai masih saja punya raut ekspresi yang kadang tak bisa diterjemahkan begitu saja.

Sai selalu merasa tak pernah pantas menerima perhatian sebesar itu dari gadis ini, ralat- istrinya ini. Tapi Ino selalu begitu peduli.

Sai merengkuh Ino dalam dekapannya dan mencium pucuk kepala belahan jiwanya itu pelan. ‘Terimakasih, ya Allah. Engkau telah hadirkan seorang malaikat dalam hidupku,’ syukurnya lirih.

(Berduaan dengan pasangan setelah menikah itu lebih menenangkan guys… Sabar ya, yang jomblo. Ini ujiann… 🙂 )

Ehem… ehemm…
Kepala Sai seketika menoleh ke asal suara yang jelas dibuat-buat itu. Ino pun refleks menegakkan sendiri badannya.

“Gomen, Sai-san, Ino-san. Mengganggu waktu anda. Sakura-san mencari Anda, Ino-san. Ada pasien yang memerlukan pemeriksaan Anda, anggota tim Naruto-san yang terluka,”
Seorang shinobi berdiri tak jauh dari Sai dan tetap menunduk selagi ia menyampaikan tujuannya.
“Haik. Aku akan segera kesana. Arigatou,”
Shinobi muda itu pun berlalu.

“Sebaiknya kau mandi dulu, anata. Ini juga sudah mau maghrib. Nanti aku antar ke rumah sakit,”
“Umm…” Ino menuruti perkataan Sai. Keduanya pun segera bergegas pulang ke rumah.

====

Sudah mandi, sholat dan makan beberapa potong kue yang dibeli di jalan, Naruto merasa segar dan kembali lagi ke rumah sakit. Bagaimana pun, ia yang bertanggung jawab atas keselamatan anggota timnya.

Ino tampak menganalisis kondisi Karashi dan Ryu secara bergantian. Membuat beberapa catatan di buku kecil yang ia bawa. Selanjutnya, ia memakai teknik dasar shintenshin yang digabungkan dengan shindenshin no jutsu. Kunoichi itu tidak bisa sembarang menggunakan jutsu-nya karena objek sasarannya saat ini tengah menutup kesadarannya sendiri.

Beberapa menit pertama sejak menggunakan jutsu-nya, awalnya sama sekali tak ada pertanda apa-apa. Namun putri Yamanaka Inoichi itu tak lekas putus asa. Ia mengerahkan lebih banyak lagi chakra-nya.

Merasa tak cukup hanya dengan dua teknik andalannya, Ino kemudian berinisiatif untuk memadukannya dengan elemen yin dan yang yang dimilikinya. Perlahan-lahan, tekniknya barusan sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Ia mulai dapat merasakan dinding energi lain yang menghalanginya meski belum memperoleh gambaran secara utuh. Tapi ini suatu kemajuan.

Rupanya ide memanfaatkan elemen yin dan yang ternyata benar-benar tepat. Ino sungguh bersyukur usahanya menunjukkan hasil, meski menggunakan dua jutsu sekaligus—ditambah penggunaan dua elemen khusus secara bersamaan—telah membuat chakra dan energinya habis terkuras. Napasnya bahkan sampai terengah-engah.

“Kurasa aku sudah tahu mengatasi jutsu ini. tapi butuh cakra yang besar, bisa 10 sampai 15 kali lipat. Staminaku tak cukup,” ucap Ino sambil berdiri menyandar di dinding sambil mengatur kembali pernapasannya.
“Aku bisa membantu dengan cakraku, Ino.” tawar Naruto.
“Sayangnya, teknik ini tidak bisa dilakukan dengan metode asupan chakra, Naruto.”
“Lalu?”

Jalan satu-satunya adalah dengan mentransfer jutsuku sedikit demi sedikit secara teratur dan terus-menerus. Namun risikonya, metode ini akan membutuhkan waktu agak lama. Aku akan membicarakan hal ini dengan Sakura untuk perawatan selanjutnya,”

“Baiklah. Kau memang yang terbaik, Ino. Arigatou…”
Ino hanya tersenyum tulus.

“Aku tinggal dulu, mau laporan dulu ke hokage,”
Kunoichi pirang itu pun menganggukkan kepalanya pelan.

=====

Sai masih berdiri di depan rumah sakit. Beberapa meter di depannya, terlihat Sasuke tengah berbicara dengan Sakura di selasar bangunan putih itu. Sebentar kemudian si bungsu Uchiha menghampirinya.

Sai tersenyum tipis. Suasana malam kali ini tak terlalu dingin. Langit cerah meski tak ada bulan yang menerangi. Ia melanjutkan langkah, mengangkat tangan kanannya untuk menyapa Sasuke.
Tanpa sepatah katapun, mereka berjalan beriringan.

“Haah…” Sai menghela nafas dan tersenyum lebar.

Matanya jadi menyipit.
“Ada apa?”

“Kenapa malah mengikutiku Uchiha Sasuke? Tidak takut dikira saudara kembar lagi?.”

Sasuke tersenyum miring, ia ingat beberapa bulan yang lalu mereka pernah diundang ke akademi. Itu semacam kunjungan teratur oleh para jounin sekedar untuk memberikan inspirasi, motivasi dan sedikit praktek istimewa. Apa yang menarik dari kegiatan rutin itu? Para murid akademi mengerubuti mereka dengan mata berbinar-binar karena mengira Sasuke dan Sai adalah saudara kembar yang hebat.

“Menjadi saudara kembarmu itu mengerikan, Uchiha Sasuke.”

“Terserah, setidaknya kulitku tidak sepucat kau.”
Sai tergelak dengan sindiran Sasuke.
“Terimakasih pujiannya, Sasuke…”
Sasuke tersenyum, sedikit mendengus mandengar jawaban Sai.

“Eh, Teme. Sai. Kalian mau kemana?”
Naruto sedikit berlari mengejar kedua rekannya di tim 7 itu. Mereka hanya mengedikan bahunya sedikit.
“Ah, kurasa kalian masih menunggu Sakura dan Ino memeriksa Karashi dan Ryu. Gomen, sudah menyusahkan istri-istri kalian,”
“Biasa aja, Naruto. Mereka memang medic-nin.”
“Kurasa aku bisa minta bantuan kalian untuk menjelaskan area misi terakhirku itu,”
“Hn.”
“Kita bicarakan di kantor hokage,”
Ketiganya langsung berjalan ke arah yang dimaksud.

====

“Ini laporan misiku senshei,”
Naruto menyerahkan sebuah gulungan ke kakashi yang masih betah berada di kursi kebesarannya. Beberapa hari terakhir ia memang disibukkan dengan banyak urusan. Jadi sering lembur.
Lelaki berambut perak itu mendesah sebentar, mencoba membuat tubuhnya lebih rileks.
“Baiklah, tadi Shouji sudah menjelaskan sedikit tentang kesulitan kalian di misi terkahir. Menurutmu, bagaimana itu bisa terjadi, Naruto?”
“Entahlah, senshei. Semua terjadi begitu cepat. Bukankah hanya Madara yang bisa mengaktifkan Mugen Tsukuyomi?”
“Kurasa ini berbeda,” sahut Sasuke. “Lebih ke arah genjutsu tapi sudah dimodifikasi.”
“Daerah ini ya, sepertinya waktu masih di ANBU, aku pernah melewatinya. Tapi tak ada kejadian apapun disana,” tambah Sai. “Hanya saja, kami sempat menemukan jejak Akatsuki tak jauh dari pulau di tengah delta sungai itu.”
“Hmm. Shouka,” timpal Naruto lagi. Dahinya berkerut tanda ia sedang berpikir keras.
Kakashi diam sambil mengamati percakapan para muridnya itu.
“Sasuke, aku memintamu untuk mengecek kembali wilayah ini. Usahakan untuk menghilangkan jutsu itu, mungkin rinnegan-mu bisa membantu. Aku khawatir jika ada shinobi lain atau warga sipil yang menjadi korban jutsu ini dan tidak segera tertolong,”
“Hn.”
“Sudah malam. Kurasa punggungku sangat merindukan tempat tidur,” Kakashi menegakkan badan dan merentangkan kedua tangannya. “Sudah tiga malam aku bergelut dengan berkas-berkas ini. Pertemuan dengan beberapa kepala negara juga sudah selesai. Ada yang ingin kau bicarakan lagi, Naruto?”
“Kau mengusir kami, senshei?” sahut Naruto dengan smirk smile nya.
“Menurutmu?” kakashi tak acuh menatap ketiga shinobi hebat Konoha itu. Ia sungguh lelah. Berdiri dan merapikan beberapa lembar dokumen.
“Jadi hokage ternyata sangat merepotkan,”
“Apa kau tak ingin mencapai cita-citamu itu, Naruto?” tanya Sai meremehkan.
“Tentu saja. Aku akan tetap mengejarnya, tebayyo…”
“Otakmu tak akan bisa menyelesaikan semua pekerjaan seorang hokage, Dobe!” giliran Sasuke yang memancing emosi. Dengan santai ia keluar ruangan.
“Kamu salah, Teme. Biarpun otakku pas-pasan, tapi aku dikeliling para shinobi cerdas,”
“Apa kau yakin mereka akan membantumu?” lagi-lagi Sai menimpali.
“Tentu saja. Iya kan, Teme! Oi.. Teme… hah, dia sudah kabur. Kami pergi dulu senshei,” Naruto melambaikan tangan ke Kakashi sementara Sai membungkukkan badannya tanda penghormatan untuk hokage Konoha itu.
‘Mereka murid-murid yang berbakat’ syukur Kakashi dalam hati seraya menyunggingkan senyum dibalik masker yang menutupi sebagian wajahnya itu.

=====

“Setelah ini, kau mau kemana Sai?”
“Ke rumah sakit, menjemput Ino.”
“Mm. Sasuke?”
“Sama.”
“Shouka. Sampaikan terimakasihku untuk Sakura dan Ino. Aku mau pulang saja. jaa…”
Naruto melangkah berlawanan arah dengan kedua rekannya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Berjalan pelan sambil menatap langit Konoha.
‘Pulang. Mmm.. Mungkin kata ini akan menyenangkan saat kita punya rumah dimana seseorang menunggu kepulangan kita.’ Naruto meletakkan telapak tangan kanannya di dada kiri, mencoba memberikan kehangatan untuk hatinya yang terasa sepi.

Beberapa meter lagi, Naruto sampai di apartemennya. Langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya. Pemuda kyubi ini pun menoleh ke asal suara. Nampak shinobi di hadapannya mendekat dengan wajah yang terlihat cemas.

——–

Haduhhh….
Bikin penasaran aja ya
Ada apa lagi ini?
Bagaimana kelanjutan perjuangan Naruto menggapai mimpi dan harapannya?
Chapter berikutnya jadi makin seru…

Ikuti terus ya
Fanfic Naruto Santripudden ini
Like dan Comment kalian membangkitkan semanagt author untuk melanjutkan tulisan …

Sankyu minna…
jaa

———-
ilustrasi
Naruto and the gank tengah menikmati malam Konoha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *