Chapter 25 Harapan Kedua


Piece of Life
Chapter 25
-Harapan Kedua-

Belasan kilometer di bagian tenggara Konoha

Naruto kini menapak di rerumputan. Di hadapannya ada hamparan bunga lavender. Matahari yang hampir terbenam terasa sungguh-sungguh dekat dengan matanya, dan ia bisa merasakan hangatnya.

Ketika ia melihat ke depan, nafasnya tertahan melihat Hinata yang sedang duduk di atas batu besar sambil memejamkan mata menikmati semilir angin senja yang mengibarkan jilbab ungunya. Sewaktu perjalanan pulang tadi, Naruto memang merasakan ada cakra Hinata di sekitarnya. Ia cukup heran karena gadis itu sendirian dan sepertinya tidak sedang ada misi. Akhirnya ia putuskan untuk menemuinya.

Di mata Naruto
Gadis itu…
terlihat
…. sangat cantik.

Hinta membuka matanya yang putih, netra yang telah menarik dunia dalam pusaran keindahannya. Ia menatap mentari senja, tanpa menyadari ada Naruto di samping kanannya tengah memperhatikannya.

Ia mengangkat tangannya. Dan seketika kelopak-kelopak lavender terbang dengan angin mengikuti gerakan tangannya. Hinata melompat dari batu besar itu, mendarat dengan anggun menggunakan ujung kakinya.

Uzumaki Naruto terpesona, tanpa ia sadari ia menatap gadis di depannya tanpa berkedip.

Kelopak-kelopak lavender itu menyelubungi tubuh gadis pewaris klan Hyuga itu. Hinata perlahan-lahan berubah menjadi kumpulan kelopak lavender kecil, bergabung dengan lavender sebelumnya danterbawa angin.

Angin itu lalu berputar-putar ke segala arah yang setiap pergerakannya akan Naruto catat baik-baik dalam memorinya. Hinata berubah lagi ke bentuk semula.

Hinata tertawa-tawa bahagia dan berteriak, “Ini menyenangkan!”. Ia pun menjatuhkan dirinya ke belakang. Sekumpulan kelopak lavender tadi menyatu menjadi hamparan seperti kasur yang menangkap tubuh gadis itu. Hinata jath ke dalam pelukan lavender yang menangkapnya dengan indah, masih tertawa-tawa dengan riangnya.

Naruto melihat semua adegan itu dengan rasa takjub. Setahunya, hanya Konan yang bisa melakukan jurus seperti itu. Wajah Hinata yang tertawa riang menghangatkan hatinya, membuat jantungnya berdetam tak beraturan. Perasaan geli dirasakannya di dadanya, dan ia tak tahu apa itu.

‘Ayolah, Naruto. Dia akan menikah dengan sahabatmu. Kendalikan dirimu!’ suara lain dalam hatinya bersuara. Dan itu cukup untuk menyadarkan Naruto.

Perlahan ia mendekati kakak Hanabi itu.
“Hei, Hinata. Sudah sore, kenapa masih di tempat seperti ini?” teriaknya

Hinata terusik dari kesenangannya menikmati taman lavender itu. Menoleh ke kanan dan mendapati Naruto sudah berdiri tak jauh darinya. Pemuda dengan surai kuning jabriknya dan jaket orange yang selalu dipakainya. Seketika jantungnya bergolak. Ia sungguh tak menyangka akan bertemu pemuda itu di tempat tersembunyi ini.

“E-eto, Naruto-kun!” Mukanya merah padam menahan malu, membayangkan Naruto melihat adegannya bermain-main dengan bunga lavender tadi. Jujur, mendengar suara yang sangat ingin didengarnya saat ini, Hinata benar-benar bahagia. Ia mengangkat wajahnya dan memberikan senyum terbaiknya.

“Aku baru pulang dari misi. Lalu melihatmu disini. Sendirian. Sepertinya tak pantas seorang calon pengantin bermain sejauh ini,” ucap Naruto yang memilih menatap sang surya yang hampir saja kembali ke peraduannya. Ia tak berani menatap wajah cantik itu berlama-lama.

Tanpa Naruto sadari, muka Hinata menjadi pias. Tampak menahan kesedihan yang mendalam. Hampir saja buliran cairan bening keluar dari iris lavender itu.

“Sudah hampir malam. Sebaiknya kau segera pulang,” Naruto berjalan ke depan membelakangi Hinata. Ia berhenti beberapa langkah di depan Hinata, membuat bayangan tubuhnya memanjang karena cahaya keperakan matahari.
“Jika terjadi apa-apa padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Itu janjiku pada Gaara, calon suamimu,” di bagian akhir kalimatnya, suara Naruto melemah. Serasa ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya, bersamaan.
Sejenak kemudian, ia melanjutkan langkahnya pelan. Berharap Hinata mengikutinya untuk segera pulang ke desa.

“Mmm… Na-naruto-kun…”
Langkah pemuda kyubi itu kembali terhenti.
“Iya…” kepalanya tertunduk.
“Et-to. Apakah kau membenciku?” tanya Hinata ragu.
“Tak ada alasan bagiku untuk membencimu,” balas Naruto, tanpa berpikir panjang. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya untuk membenci Hinata. Setelah mengetahui kenyataan kalau Hinata telah sekian lama memperhatikannya, memandangnya dari kejauhan, memendam sendiri perasaannya, rasanya Naruto harus banyak-banyak bersyukur pernah menjadi seorang yang istimewa bagi Hinata. Meski pil pahit yang kini justru harus ia telan.
“Ada. Kau harus membenciku!” ucap Hinata tegas.
“Aku tak bisa…”
“Harus!”
“Tidak!”
“Harus!” sahut Hinata tegas. Mematahkan semua jawaban Naruto yang justru dirasakannya sangat menyayat hati.
“Untuk apa aku membencimu! Pernikahanmu memang sangat menyakitkan bagiku. Bukan berarti aku harus membencimu. Tidak semua takdir bisa diubah, Hinata.”
“Kau benar. Untuk itu, kau harus membenciku!”
“Sudahlah. Sampai kapan pun aku tidak akan bisa membencimu.”

Angin sepoi-sepoin di senja itu membuat hening yang dirasakan kedua orang ini semakin pekat, pikiran mereka hanya ada satu kata, ‘kenapa’.

‘Kenapa’ Hinata memintaku untuk membencinya? Aku pernah merasakan sedikit kepedihan saat menyaksikan Sakura akhirnya bersanding dengan Sasuke. Tapi hal itu tak membuatku membenci kedua sahabatku itu. Tetap saja aku menganggap mereka rekan setim yang terbaik. ‘Mungkin Hinata memang sangat sakit hati aku tak bisa memperjuangkannya.’

‘Kenapa’ Naruto tidak mau membenciku? Bukankah aku sudah pernah berpaling darinya, memilih orang lain untuk bisa membantuku mencapai tujuanku. Dan orang lain itu adalah sahabatnya. Souke dan Bunke itu sungguh sangat menyesakkan. Naruto layak membenciku karena aku sempat meragukan kemampuannya. Betapa bodohnya aku, mengambil keputusan terlalu cepat, saat itu. Aku seperti membohongiku diriku sendiri, ucapanku ketika invasi pain. Seharusnya aku tak mengucapkannya. Aaargghhh… aku bingung…
Hinata mengusap kasar mukanya. Pikirannya kalut.

Selintas, terngiang di kepalanya, sebait syair yang ia baca di novel beberapa hari lalu.

==Ketika hatimu bercabang, maka pilihlah orang terakhir
Karena tidak akan ada orang kedua jika kau benar-benar mencintai yang pertama==

Ahh, ucapan itu seakan tak ada artinya. Harapannya telah hancur.

‘Naruto-kun pulang dari misi. Dia pasti belum mengetahui kabar itu. Ya Tuhan, bagaimana aku menyampaikan ini! Aku tak bisa lagi berharap padanya..’ batin Hinata berkecamuk. Ia pun terduduk, tak kuasa menahan air matanya yang berlompatan keluar tanpa kendali.

Mendengar tangisan pilu Hinata, Naruto hanya diam. Ia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran perempuan. Memilih tetap terlihat tenang, berharap Hinata bisa menguasai kepedihannya. Tak ada yang bisa ia lakukan, lebih dari itu.

17 menit berlalu
Hinata sudah bisa mengendalikan diri.
“Gomen ne, Naruto-kun,”
Ia segera bangkit dan langsung melesat meninggalkan Naruto yang lagi-lagi dibuatnya bengong.
‘Wanita itu memang sulit sekali dimengerti. Tadi sangat gembira, langsung sedih. Terus sekarang meninggalkanku. Shika, kali ini aku pinjam kata-katamu. mendokusai….”
Naruto pun melompat menyusul pergerakan Hinata yang menuju ke arah desa Konoha.

=====

Waduh, ada apa dengan Hinata ya?
Mimin juga ikut deg-degan ini. Kapan sih pasangan ini bisa happy ending gitu…..
hehehe… ngarep…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *