Chapter 24 Mugen Tsukuyomi-ha seibutsu


Piece of Life
Chapter 24

Mugen Tsukuyoi-ha seibutsu

“Misi kalian cukup sederhana. Mengumpulkan beberapa tanaman obat yang hanya bisa diperoleh di sekitar perbatasan Kaze-no-kuni. Kalian harus waspada. Menurut data yang sudah diperoleh Ino, dua shinobi medis pernah hilang dengan tugas yang sama di wilayah ini beberapa tahun lalu tanpa ada laporan rinciannya. Naruto, pastikan semua anggota tim pulang dengan selamat,”

“Haik, sensei….”

“Baiklah, kalian bisa berangkat sekarang. Semoga berhasil…”

Naruto bersama tiga orang chuunin muda itu bergegas meninggalkan Konoha. Karashi, Shougi, dan Ryu, mereka merasa senang dan bangga bisa menjalankan misi bersama shinobi legend Konoha itu. Setelah beberapa kali gagal ujian chuunin, Naruto tetap saja berpengaruh besar di dunia ninja, terutama bagi Konohagakure. Mungkin bisa dibilang dia adalah salah satu dewa hidup dunia shinobi. Kalau sudah begitu, bahkan para tetua desa pun tampaknya tidak akan peduli kalau Naruto masih berstatus genin jika kelak akan diangkat jadi hokage.
Dan sekarang, untuk pertama kalinya Naruto memimpin sebuah tim chuunin menyelesaikan sebuah misi. Biasanya, tugas pembimbing seperti ini diberikan pada ninja level jounin. Tapi, ya begitulah. Naruto, dengan segala kelebihannya, sering membuat hal-hal baru yang menabrak aturan sebelumnya.

Seharian menyusuri hutan timur Konoha, tim sampai di sebuah perbukitan gersang. Melepas penat, mereka beristirahat di bawah pohon besar.
“Di balik bukit ini, masih ada hutan yang harus kita lewati. Selepas itu ada sungai yang sangat lebar. Ada delta pertemuan tiga sungai, disana ada sebuah pulau kecil. Disitulah tanaman obat yang kita butuhkan. Jika cepat, kita bisa sampai disana besok pagi. Itupun jika kalian sanggup untuk terus berjalan di malam hari,” jelas Naruto seraya menggelar gulungan peta tempat misi.
“Haik…” ketiga chunin itupun mengangguk. Tatapan mata mereka sangat yakin bisa segera menyelesaikan misi penting pertamanya.

Selepas menunaikan sholat dzuhur, perjalanan dilanjutkan. Tak ada hambatan yang berarti. Hingga malam sudah berjalan separuh, mereka terus saja melompati dahan di pepohonan hutan yang rindang. Mereka beruntung, malam itu bulan bersinar sempurna.

‘Fisik mereka boleh juga,’ gumam Naruto melihat para chunin itu masih bisa melanjutkan perjalanan. Namun, ia melihat salah satunya berwajah sedikit pucat.

“Minna, kita istirahat disini. Kalian sepertinya mulai lelah,”
Dengan wajah malu sekaligus bersyukur, ketiga shinobi muda itu mengikuti senpainya menuju tempat datar di bawah pohon maple yang cukup besar.

“Shouka, kalian bertiga tunggu disini. Aku akan mencari kayu bakar dulu,”
“Haik, senpai…”

Sepeninggal Naruto, mereka berbagi peran. Ada yang menata matras, membersihkan dedaunan, dan menyiapkan makan malam berupa nasi kepal dan namasu.
Belum selesai mereka mengatur, tiba-tiba ada gerakan yang mencurigakan dari balik semak-semak. Refleks memasang kuda-kuda. Semak-semak itu tepat ada di depan Karashi, Ryu dan Shougi berada dua meter di sampingnya.

“Karashi, berhati-hatilah!”
“Ck, aku tau!” Karashi mundur beberapa langkah saat melihat semak semak itu bergerak dengan keras.

Happp…
Tiba-tiba muncul seekor sabre antelope menerjang mereka. Dengan sigap mereka menghidar.

“Huffftt… Hanya seekor rusa..” ucap ketiganya bersamaan.

Semak-semak di belakang mereka masih bergerak-gerak. Ketiga pasang mata itu membelalak kala melihat sosok lain yang keluar. Makhluk itu mirip dengan jubi kecil yang ada di perang.

“Fuin jutsu!” Ryu mengeluarkan segel yang membuat monster itu mendadak berhenti. “Aku akan menghabisimu!” kata Ryu yang akan melayangkan tendangan.

Grepp
Secepat kilat, monster kecil itu menahan kaki Ryu hingga membiru.

Sseett…
Karashi yang hendak menolong Ryu kaget ada tangan tambahan makhluk kecil itu yang tiba-tiba memukul wajahnya hingga ia terpelanting ke belakang

Shougi pun tak tinggal diam. Ia melayangkan tinjuan keras ke arah monster itu dan melepaskan Ryu. Serangan ini hanya membuat sang monster terhuyung sebentar. Ia pun bersiap membalas serangan Shougi dengan cakar yang runcing dan gigi yang gemeratak menahan amaarah.

Rasen Shuriken….
Tepat sebelum si monster itu mengenai tubuh Shougi, Naruto sudah melayangkan serangannya.

“Kalian tidak apa-apa?” tanya Naruto cemas.
“Kami baik senpai. Kaki Ryu terluka karena makhluk itu,” jawab Shougi yang masih mengatur pernapasannya.

Nampak Ryu meringis menahan sakit.
“Aku bukan medic-nin, tak bisa menyembuhkan luka seperti ini,”
“Tenang saja, senpai. Dengan ramuan herbal keluargaku ini, luka di kaki Ryu akan segera sembuh,” ucap Karashi sambil mengoleskan salep yang ia simpan di ransel ninjanya.
“Shouka… Kita istirahat disini. Sepertinya sudah aman,” sahut Naruto.

Hari semakin kelam, kayu bakar sudah terlihat terang di hutan yang gelap ini. Mereka berempat sedang menikmati makan malam walau sebatas nasi kepal dan namasu.
Merekapun akhirnya tertidur melingkari api unggun. Tetap saja, malam itu masih saja terasa dingin.

Keesokan harinya, tim Naruto mulai memasuki hutan di balik bukit. Perjalanan mereka tak secepat sebelumnya karena kaki Ryu belum sembuh 100%.
Menjelang tengah hari, sampailah mereka di sungai yang sangat lebar. Memanfaatkan batang-batang kayu yang berserakan lalu diikat, jadilah sampan sederhana yang bisa digunakan untuk menyusuri aliran air yang cukup tenang itu.

Dua jam kemudian, sampailah mereka di pulau yang dicari. Menambatkan sampan sederhana itu dan mengikatnya menggunakan akar tanaman merambat. Perlahan, tim Naruto menjajaki pulau kecil yang tak berpenghuni itu. Ada yang aneh, sepanjang jalan tidak ada satupun hal yang membahayakan seperti yang tertulis di gulungan. Bukannya ingin ada bahaya, hanya saja ini membuat mereka sedikit curiga dan bingung.

Sekarang mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Tumbuhan obat yang dimaksud ada di tepi jurang, dan kini telah didapatkan. Hari menjelang malam, dan mereka sudah kelelahan. Setelah menempuh jarak sekitar tiga kilometer dari jurang, tim memutuskan untuk istirahat.

“Senpai, apa tidak sebaiknya kita melanjutkan perjalanan. Aku merasa ada yang aneh disini,” ucap Shougi. Naruto terdiam, iapun juga merasakan hal yang sama. Sengaja ia tak membicarakan hal itu agar timnyatak merasa was-was. Tapi, melihat kondisi Ryu, akhirnya ia memutuskan untuk tetap istirahat. Lagipula, misi mereka sudah selesai 80%, sisanya saat mereka sudah sampai di desa.

Naruto berusaha untuk tidak cemas. Dia bahkan memaksa untuk menutup matanya sejam yang lalu. Sekarang, matanya terasa sakit karena memaksa tidur. Entah mengapa dan dia sangat yakin, ada hal buruk yang akan terjadi. Hei, dia juga lelah. Namun bagaimana lagi. Semuanya terasa tidak meyakinkan.

Kepalanya menoleh menatap para chunin itu. Shougi yang sejak tadi juga hanya membaringkan badan akhirnya duduk.
Melihat Narut terjaga, ia pun berkata, “Senpai, sepertinya ada aura yang aneh disini.”

“Hm..” Naruto mengaktifan sage mode untuk memeriksa keadaan sekitar. Tidak ada apapun.

“Senpai…” suara Shougi melemah.

Bruk

Shougi tak sadarkan diri. Naruto tidak menolongnya. Bukan, lebih tepatnya ada sesuatu yang membuat mereka semua tak sadarkan diri.

—-

‘Hmm… Dimana ini?’
Kepala Naruto terasa pening. Perlahan ia mendudukkan diri. Matanya takjub dengan pemandangan yang terpampang di hadapannya. Ia kini berada di bawah pohon sakura yang bunganya begitu lebat hingga berjatuhan karena tertipu angin. Dikelilingi hamparan bunga lavender setinggi pinggang – yang bahkan tak terlihat ujungnya. Langit biru cerah berhias awan sebagai pemanis.

‘Aku merasa belum pernah menemui tempat seindah ini,’ batin putra Namikaze Minato itu.
“Hai, Naruto…”
Pemuda jabrik kuning itu terlonjak mendengar ada yang menyapanya.
“O.. hai Sakura,”
Hati Naruto senang bisa menemui Sakura, gadis yang dulu pernah ia sukai, di tempat yang sangat menawan itu.
“Mengapa kau disini, Sakura?”
“Mengambil beberapa bunga sakura untuk kupajang di rumah,”
Sakura berdiri dan bersiap untuk pergi. Keranjang di tangannya sudah penuh dengan bunga khas Jepang itu.
Naruto tersenyum. “Sakura, e-tto… Maukah kau menemaniku sebentar disini. Lihatlah… Pemandangan disini indah sekali bukan!”

“Siapa yang akan menemanimu disini, baka Dobe!”
Tiba-tiba si rambut raven muncul dari balik pohon. Dengan nada bicara yang dingin dan muka yang datar.
“Eh, Teme.. Kau juga disini?”
“Dia itu istriku. Kau ingat!” Sasuke menatap tajam ke arah Naruto. “Sakura, ayo pulang!”
“Gomen ne, Naruto. Kami harus kembali sekarang. Jaa…”
Sakura menggandeng lengan kekar suaminya dan pergi meninggalkan rekan setimnya itu sendirian.

Hati Naruto meringis, sangat sakit. Luka yang tak berdarah tergores. Ia mengambil napas dalam dan menghembuskannya kasar.
“Dasar baka!” rutuknya sendiri.
Ia sangat menyadari bahwa tindakannya tadi mungkin keterlaluan. Berharap sesuatu yang bisa saja menyinggung perasaan sahabatnya sendiri.

Matanya kini tertuju pada satu titik di bawah bukit sana. Seorang gadis tengah memetik beberapa bunga lavender. Jilbab ungu, jaket lavender. Penampilan yang sangat familiar. Tak salah lagi.
“Hi-hinata…” ucapnya tergagap. Semula, dia enggan untuk menyapa gadis Hyuga itu. Namun, monster bernama kesepian yang mulai membekukan hatinya itu harus dilawan. Baru tiga langkah kakinya bergerak ke depan, ada bayangan merah yang telah mendekati Byakugan no Hime itu. Terlihat Gaara tengah meraih tangan mungil Hinata dan mengajaknya untuk segera pergi. Keduanya tampak berjalan beriringan. Tiba-tiba, tapak kaki mereka berhenti dan menoleh ke arah Naruto serta melambaikan tangan. Tak berselang, bayangan keduanya lenyap.

Naruto hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya. ‘Apa maksudnya ini? Apakah ini nyata?’
Shinobi Konoha itu merenung sejenak. Lantas mengaktifkan sage mode-nya. Iris matanya berubah menjadi orange.
‘Ini, seperti mugen tsukuyomi, tapi aura cakranya lebih kecil. Siapa yang menggunakannya? Bukankah Madara sudah tewas di peperangan lalu? Aku harus keluar dari sini…’

–Naruto POV–

Perlahan, aku bisa melihat cahaya putih yang begitu kuat masuk ke dalam mataku. Ternyata ini hanya mimpi, tapi terasa sangat nyata. Eh? Sudah pagi rupanya. Hmm… Ada yang tak beres disini. Mengapa rasanya tempat ini sangat berbeda dari sebelumnya? Kulirik ke samping, melihat Karashi, Shougi, dan Ryu. Mereka masih tidur dan tertutup daun-daun kering yang sudah menguning. Bukannya kami pingsan tadi malam? Arrgghh… Aku tidak mengerti.

Kuedarkan pandangan ke seluruh arah. Mengapa aku tidak bisa mengenali wilayah ini? Jalan keluar seperti menghilang. Baiklah, kutunggu mereka terbangun dulu.

–POV end–

“Shouji, akhirnya kau sudah bangun,” Naruto melihat ke arah Shouji yang balik menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.

“Eh, ini kenapa, senpai?”

“Aku juga tidak tahu. Aku bangun dua hari yang lalu. Kalian belum bangun juga. Kucoba membangunkan juga tidak bisa. Baru kau yang bangun sekarang,”
Shouji mendekati senpainya dan duduk di dekatnya.
“Apa yang kau rasakan tadi, Shouji?”
“Aku seperti bermimpi di masa lalu. Kemudian tercampur dengan harapan-harapan yang belum terwujud. Sangat membingungkan,”

“Kalau begitu, ini jebakan tentang masa lalu,” ucap Naruto tegas.
“Lalu, mengapa kita terbangun dengan waktu yang berbeda, senpai?” tanya Shouji bingung.

“Sepertinya, ini tentang bagaimana keinginan kita untuk segera mengakhiri mimpi itu. Dalam mimpiku, aku sangat merasa sedih dan ingin melupakan kejadian itu,”

“Aku juga. Aku merasa sakit disini,” Shouji menunjuk dadanya, “dan ingin pergi dari sana.”

“Ini berarti, Karashi dan Ryu mungkin saja sedang melakukan perjalanan di mimpinya. Mereka sadar kalau ini tidak nyata. Ada hal yang mereka rasa harus segera diselesaikan. Ini hampir seperti Mugen Tsukuyomi. Hanya saja mimpi ini tidak menceritakan bagaimana kebahagiaan yang kita inginkan,”

“Lalu, bagaimana kita keluar dari wilayah ini, senpai?”

“Aku sudah mencobanya. Tapi gagal. Setelah bertanya ke Fugukaku-sama, lewat telepati, barulah aku mengerti cara keluar dari wilayah ini. Kita harus segera membawa mereka ke Konoha untuk ditangani para medic-nin,”

Kagebunshin no jutsu
Pofff

Muncul dua bunshin Naruto.
“Shouji, bunshinku akan menggendong Karashi dan Ryu. Kau masih sanggup untuk melanjutkan perjalanan kan!”
Shouji menganggukkan kepala.

“Kita pulang sekarang,”
“Haik…”

Tim memulai perjalanan. Naruto telah memindai wilayah itu dengan sage modenya hingga mereka lebih mudah menemukan sampan sederhana yang mereka tambatkan di pinggir sungai sebelumnya. Dengan tambahan cakra, sampan itu bergerak lebih cepat melawan arus, menuju titik di tepi hutan.
Naruto memberikan sebagian cakranya untuk Shouji sehingga dalam waktu beberapa jam saja mereka sudah hampir mendekati Konoha.
Gerbang desa kurang 10 km lagi. Naruto tiba-tiba berhenti.
“Shouji, sebentar lagi kita sampai. Kalian lanjutkan perjalanan dulu ya. Bunshinku akan mengantar Karashi dan Ryu ke rumah sakit. Cepat laporkan kondisi mereka ke hokage. Aku segera menyusul kalian. Aku pergi dulu, ada hal penting yang harus aku lakukan. Assalamualaikum,”
“Haik, senpai…”

Pofff…
Naruto asli langsung menghilang.

—–

Kemana Naruto kabur ya?
Author juga penapsaran nih
Chapter berikutnya udah ready juga nih.
Langsung ke tkp yak, minna

jaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *