Chapter 23 Floral and Root


Peace Of Life
Chapter 23
-Floral and Root-

Oranye kemerahan.

Seperti itulah warna langit barat Konoha saat ini. Pendaran lukisan alam yang mempesona, pertanda gelapnya malam segera menggantikan peran terangnya siang. Matahari baru saja terbenam dan hari sudah semakin gelap. Lampu-lampu mulai dinyalakan, bersiap menyambut malam yang akan tiba.

Di suatu ruangan kompleks kantor hokage, tepatnya Divisi Intelegensi, masih ramai dengan beberapa shinobi yang menjalankan tugasnya. Termasuk kunoichi cantik yang rambut pirangnya tertutup rapat dibalik jilbab putihnya, Yamanaka Ino.

Sepasang aquamarine-nya terbuka, menatap langit dari balik jendela ruang kerjanya.

Warna oranye ini … mengingatkannya pada kostum seorang pemuda legendaris yang kini menjadi selebriti paling populer di seantero dunia shinobi. Ya, sosok bernama Uzumaki Naruto yang dielu-elukan warga sebagai salah satu pahlawan Perang Dunia Shinobi Keempat.

Ino tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Ia sangat tidak ingin mengunjungi masa lalunya, terutama saat – saat perang yang menyisakan kepingan patah-patah bagi seorang Yamanaka Ino.

Tepat sebelum ia melangkahkan kaki hendak pulang, sang hokage memintanya mengumpulkan beberapa data penting yang akan dipakai untuk misi keesokan harinya. Meski misi rank C, tapi Rokoudaime meminta Naruto untuk menemani para jounin muda menyelesaikan misi ini. Jadilah ia membuka kembali komputer yang tadi telah mati.

Di samping layar yang telah menyala, terpampang lukisan sketsa yang menarik, gambar dirinya dan Sai, pemuda berambut eboni yang kini telah menjadi suaminya. Tanpa diminta, memorinya langsung menayangkan ingatan sesaat setelah sketsa itu ada di tangannya, beberapa bulan sebelumnya.

.
.
.
.

Lelah sekali, Ino langsung melepas rompi jouninnya. Menatap kamar yang sedikit berantakan karena beberapa hari tak sempat disentuh, membuat tangannya bergerak otomatis. Ia memang pecinta kerapihan. Setelah merapikan sprei dan pakaian bersih yang teronggok di samping lemari, matanya pun jengah melihat buku dan berkas-berkas yang tak beraturan di meja kerjanya. Segera saja ia merapikannya. Tak sengaja, ia menemukan buku sketsa yang diberikan Sai seminggu yang lalu. Ia tak sempat membuka buku itu, buku murah yang dijual bebas di pasar.

Tangannya meraih buku bersampul putih itu. Membuka halamannya perlahan, satu per satu. Sketsa gambar yang sangat indah. Bunga dengan beraneka bentuk. Ahh, dia memang pernah membantu Ino menjaga toko bunganya. Waktu itu, Ino tak sengaja bertemu Sai dan mempersilahkan masuk ke toko. Sai hanya duduk dan memperhatikan Ino yang tengah melayani pembeli. Momen itu pun tak luput dari goresan pena Sai. Ada juga lukisan patung para hokage, perumahan penduduk, foto beberapa anggota Rockie 12, dan masih banyak lagi.

Sepasang manik indah itu pun terperangah melihat gambar di halaman terakhir. Lukisan dirinya dan Sai yang tengah tersenyum hangat. Sepanjang pengetahuannya, Sai tak pernah melukis dirinya sendiri dengan senyum seperti itu. Hanya ada satu lukisan yang pernah dibuatnya dengan pose yang sama, saat ia bersama Shin, seseorang yang sudah dianggap sebagai saudaranya.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Ada panggilan darurat dari kantor hokage yang membutuhkan bantuannya. Tanpa berpikir panjang, Ino pun segera bangkit memenuhi tugasnya. Lelah yang tadi ia rasakan seakan lenyap, entahlah.

Saat duduk di depan komputernya, gadis itu masih saja mengulang kalimat mantranya sambil mengerjakan laporannya.

Hanya penasaran. Hanya penasaran.
Tidak lebih dari penasaran.

Entah sungguhan penasaran atau karena apa. Kenyataannya, jemarinya sudah bergerak sendiri di atas papan kunci komputernya dan mengakses salah satu data bebas di sana. Mungkin saat sadar nanti, gadis itu akan berani bersumpah, baru kali ini dirinya benar-benar dibuat penasaran akan seseorang hingga berbuat sejauh ini. Bukan karena data nuke-nin, penjahat, atau missing-nin yang membuat onar. Tapi seseorang yang membuat hatinya berdebar hebat.

Memang benar kan? Ia hanya ingin tahu lebih banyak tentang pemuda itu.

Ya Tuhan. Untuk kali ini saja, ampunilah dirinya.

Dan file itu pun terbuka.

Tak banyak yang bisa ia ketahui dari sebuah file singkat yang ternyata minim informasi. Namun ada juga satu kenyataan yang membuatnya tercengang di tengah ketidaksadaran.

Nama asli: Tidak diketahui

Nama sekarang: Sai

Tanggal lahir: 25 November

Golongan darah: A

Rank ninja: Chuubu

Nomor registrasi: 012420

EH?

Iris matanya melebar.

Tunggu.

Sampai sini, gadis itu merasa menemukan kejanggalan.

Tenang, Ino. Tenang. Gunakan kemampuanmu. Bukankah mengolah informasi adalah keahlianmu?

Insting intelijensi Ino yang mendadak muncul tampaknya berhasil mengembalikan kesadaran kunoichi pirang itu.
Ino mencoba menarik napas satu kali, lalu melanjutkan dengan konsentrasi penuh sebagaimana ia berada dalam misi.

Miris sekali nasib pemuda ini. Bahkan nama aslinya pun ia tak tahu. Ino yakin 1000%, panggilan Sai itu pasti disematkan oleh Danzou, ninja tua yang terkenal bengis menghadapi musuh-musuhnya. Danzou juga yang memberikan segel khusus yang ditanam di lidah Sai. Segel itu hilang saat Danzou tewas oleh serangan Sasuke yang masih di bawah pengaruh akatsuki.

Sepasang aquamarine-nya kini menatap penuh selidik file di hadapannya sementara alis pirangnya berkerut.

Bukankah kalau tidak salah …

Jemarinya bergerak, membuka data lain.

Tepat.
Nomor registrasi Ino ketika terdaftar sebagai murid akademi adalah 012604. Teman-teman seangkatan Ino di akademi pun memiliki nomor registrasi 0126xx.

Jika nomor registrasi Sai adalah 012420, itu berarti Sai telah mendaftar akademi setidaknya dua tahun lebih dulu darinya.

Tapi….
Pandangan Ino beralih ke arah lain dan segera mencocokkan data tersebut.

—di sini tertera bahwa tahun kelahiran Sai sama dengan tahun kelahiran Lee, yang berarti pemuda pucat itu hanya terpaut satu tahun di atasnya.

Kalau begitu ?

Kalau begitu …

Ino merasa kepalanya mulai berdenyut saat mencoba menyatukan keping-keping informasi tersebut dan menyusunnya menjadi sebuah fakta yang mencengangkan. Ia mengeratkan pegangannya pada tepi meja sementara sel abu-abu dalam kepalanya dipaksanya terus bekerja.

Berarti pemuda itu mendaftar akademi di usia 5 tahun? Kemudian lulus akademi usia 9 tahun? Dan menjadi chuunin di usia 10 tahun?

Ya Allah…

Pegangan Ino terlepas.

Seseorang.

Bisakah bantu Ino berdiri?

….
Tubuhnya lemas.

Ia seperti bertumpu pada jelly…

Baiklah.

Ia sudah begitu meremehkan pemuda tersebut selama ini dan hanya melihatnya dari kulit luarnya saja.

Jika dulu ia bisa berbangga karena nilai rata-ratanya adalah yang tertinggi saat kelulusan akademi, bahkan mengalahkan Uchiha Sasuke dan Aburame Shino, tapi di depan pemuda ini, Ino tak mampu berkutik.

Telak.

Seperti de javu.

Menyedihkan tatkala ia menyadari, dirinya sudah lebih dari dewasa untuk mengerti apa yang tengah terjadi dengannya saat ini.

Jelas, ini lebih dari sekadar penasaran. Lebih pula dari sekadar ingin tahu. Rasanya, ia sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. Tapi…

Tidak.

Apa pun namanya, itu harus enyah.

Ia pun segera menutup file itu.

Berusaha menenangkan diri untuk segera menyelesaikan laporan yang telah ditunggu sang hokage.

Keesokan harinya, ia sudah bisa menata hati setenang mungkin. Ayolah, ia perlu persiapan jika tiba-tiba bertemu pemuda itu. Mereka sama-sama bekerja di area kantor hokage. Jadi, bisa saja kan mereka tak sengaja bertemu…

Sehari…
Dua hari…
Tiga hari…

Aman.
Sai tengah pergi menyelesaikan misi. Ino cukup tenang.
‘Mungkin, ia pergi agak lama,’ batinnya.
Baru saja ia bernapas lega, Ibiki memintanya untuk melengkapi laporan dengan data-data yang hanya dimiliki Sai.
“Ia sudah pulang tadi pagi, ada di ruangan sebelah, temui sekarang,” jelas atasannya.

Glek…
Tenggorokan Ino seakan kering, sulit untuk menelan air liurnya sendiri.

Baiklah.
‘Bekerja profesional, Ino. Kesampingkan perasaan,’ bisiknya meyakinkan diri sendiri.

Perlahan ia mengetuk pintu. Seseorang memberikan isyarat agar ia masuk. Di dalam ruangan ada beberapa shinobi yang sedang diskusi.
“Eh, Ino. Mau bertemu siapa?” tanya Ryu.
“Ada Sai?” jawab Ino tenang. Ia menunjukkan gulungan yang dipegangnya.
“Oh, Sai baru saja keluar. Akan ada rapat penting setelah ini. Mungkin dia akan balik sebentar, ada berkasnya yang ketinggalan di meja,”
“Shouka. Kalau begitu nanti saja. Arigatou…”
Ino pamit dan memilih keluar ruangan.

Pandangannya tertunduk, menatap ubin yang terpasang rapi di selasar ruangan perkantoran itu.
‘Tenang, Ino. Tenang…’ suara hatinya berbunyi lirih.

“Ino-chan…”
Panggilan itu.
Tak salah lagi. Hanya dia yang memanggilnya dengan intonasi seperti itu.

Ehemm..
Ino berdehem sebentar untuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak berirama.

“Sai-kun, boleh aku meminjam gulungan yang membahas kode ini?”
Ino menunjukkan sebuah gambar sketsa.

“Gomen, Ino-chan. Aku sedang ada tugas dari hokage yang harus diselesaikan. Bisakahkah kau ambil sendiri gulungan yang kau perlukan? Ada di rak paling atas, sebelah kiri. Ada gulungan kecil berwarna merah. Bukalah dengan jutsu yang pernah aku ajarkan padamu. Ini kunci ganda apartemenku. Setiap saat kau membutuhkan, bisa kau gunakan…”

Ino terkesiap. Kemarin ia menemukan sketsa yang membuatnya tak bisa tidur. Sekarang ia mendengarkan ucapan pemuda itu yang diluar dugaan.

“S-Sai-kun….”
Ino merutuki dirinya sendiri. Kenapa jadi gagap seperti Hinata saat bertemu Naruto. Mungkinkah ini karma karena ia pernah menyinggung gadis Hyuga itu?

Sai hanya tersenyum tipis melihat kunoichi di hadapannya itu. “Benar. Terimalah! Itu jika kau mau…”
Sekali lagi pemuda Shimura ini mengacungkan kunci dengan hiasan pita hitam putih itu di hadapan Ino.

“B-baiklah,…”

“Simpanlah baik-baik ya! Aku permisi dulu…” Sai meninggalkan Ino yang masih bengong.

Ok. Ino ingin tenggelam ditelan bumi sekarang.
(Di chapter sebelumnya, sudah diceritakan ya, tentang bagaimana Sai melamar Ino. Kali ini lewat sudut pandang Ino…)

Dan sebulan kemudian, Sai berganti klan, menjadi bagian dari keluarga besar Yamanaka. Proses yang cepat.

.
.
.

Ino tersenyum. Jemarinya kini mulai menekan tuts-tuts hitam yang ada didepannya. Sesekali matanya serius menatap hasil pencariannya. Saat tengah berpikir, tangan kanannya menopang dagu dengan jari telunjuk yang menutup hidungnya. Terlihat serius.

Tiga jam berlalu. Ino rasa informasi yang dibutuhkan sudah cukup. Ia menggeliat, meluruskan punggungnya yang terasa kaku. Nyonya Shimura ini sudah menuliskan semua informasi penting itu. Saatnya pulang.

Jam 10 malam.
Ino melangkah di gang yang sepi. Rute tercepat agar ia segera sampai rumah. Ini masih di dalam wilayah Konoha, jadi seharusnya aman.

Tiba-tiba langkahnya terhenti.

Di depannya kini berdiri sesosok bayangan hitam bertopeng yang siap menyerangnya.

Ino tersenyum. Ia justru mendekati ninja yang wajahnya tertutup penuh, seakan tak ada ancaman serius untuknya.

“Sai-kun,…” sapa Ino seraya meraih lengan kekar itu.
Huhh.. Sai mendesah kesal.
“Penyamaranku terbuka,” ucapnya sambil melepas topeng dari mukanya.
“Mana mungkin aku tidak mengenali cakra suamiku sendiri. Lagian, tak ada satu pun shinobi di dunia ini yang beraroma musky bercampur tinta sepertimu,”
Ino menyandarkan kepalanya di bahu Sai seraya terus berjalan.
“eh.. Tadaima, anata…” ucap Sai.
“Okaeri, Sai-kun,” bibir Ino tersenyum, manis sekali. “Kenapa pakai topeng itu lagi?”
“Misi penyamaran di Kiri, sekalian mendampingi ANBU muda,”
Sai memang sudah lama tidak bergabung di ANBU. Hanya bila ada tugas khusus dari hokage, ia kembali mengenakan seragam pasukan pengintai sekaligus eksekutor paling top di Konoha itu.
“Jam segini, baru pulang, anata?”
“Ada beberapa informasi yang harus aku kumpulkan untuk misi Naruto besok pagi,”
Sai mengangguk pelan, memahami tugas istrinya yang bekerja di Divisi Investigasi. Sejujurnya, Sai ingin Ino sudah sampai rumah saat sore hari, menyambutnya pulang kerja, menyiapkan air panas untuk mandi dan makan malam. Tapi ia tidak egois. Ino punya segudang kemampuan yang sangat diperlukan Konoha.

Langkah keduanya semakin cepat. Berharap segera sampai di istana mungil mereka.

——–

Deng deng deng….
Naruto sedang istirahat untuk mengerjakan misi besok. So, chapter ini hanya mengulik episode singkat SaiIno. Salah satu pasangan popular di Konoha.

Ino, wanita cantik dengan penampilan yang modis, menjadi trendsetter sendiri bagi gadis-gadis muda Konoha. Supel, mudah bergaul, dan akrab dengan siapa saja, sangat peduli dengan kondisi teman-temannya. Beauty Outside and Inside. Seperti bunga yang bermekaran di taman kota. She is a beatiful flower.

Sai, mantan Ne ANBU Root. Shinobi kuat dengan jurus hebat. Sering bergerak di bawah tanah, misi tak terlihat. Sejak kecil dididik dengan sangat keras hingga hampir tak memiliki perasaan apapun. Sejak lulus akademi, langsung bergabung di pasukan elit Konoha. Baru mengenal arti persahabatan sejak bergabung dengan Tim 8, bersama Naruto, Sakura dan Sasuke. Berusaha belajar mengenal semua sisi perasaan manusia, sesuatu yang dianggap aneh bagi sebagian orang. Akhirnya, ia menemukan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya sejak peristiwa di Land of Silence.

Floral and Root, pasangan yang saling melengkapi. Yang satu nampak terlihat mempesona. Satunya lagi memilih bergerak tanpa sepengetahuan warga.

——

Chapter berikutnya akan dipercepat alurnya. Ada kejutan buat sang shinobi legenda kita.

Tetap pantau fp ini yak

Hontouni arigatou
Terimakasih sangat telah meninggalkan jejak disini
Like and comment nya author tunggu…

See you again
Jaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *