Chapter 21 Kepingan Rasa


Piece of Life
Chapter 22
-Kepingan Rasa-

Pandangan Naruto menatap lurus istana Suna yang berdiri megah di tengah gurun pasir yang seakan tak bertepi itu. Meskipun sudah berada di wilayah kazekage sahabatnya itu, ia memilih untuk sholat Ashar beralaskan bebatuan padat. Hingga maghrib dan isya tertunaikan, ia tak lekas memasuki bangunan kokoh itu. Menyalakan api unggun dan duduk menatap api yang bergejolak di hadapannya.

Terdengar langkah seseorang di belakangnya.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam,” Tanpa menoleh, Naruto membalas salam itu.
“Naruto-sama, mengapa Anda disini? Kazekage-sama tentu akan sangat senang menerima kehadiran Anda…”
Seorang shinobi penjaga Suna menghampirinya. Naruto sudah dianggap pahlawan oleh warga Suna, dan semua orang tentu mengenalnya.
“Katakan padanya. Aku ingin bicara dengannya disini,”
“Haik. saya permisi…”

Lagi, Naruto merenung dalam kesunyian malam di tengah gurun.
Tak lama, Shikamaru dan Gaara pun menemui Naruto.

Sebagai seorang sahabat dekat, Shikamaru merasa sikap Naruto mencurigakan. Pasti ada sesuatu hal yang penting sehingga ia meminta untuk membicarakannya di luar istana. Sebetulnya, Shika ingin langsung menyapa dan ngobrol dengan Naruto. Sudah lama mereka tidak bertemu. Tapi ia memilih diam karena ada kazekage di sampingnya, yang kini telah menjadi adik iparnya itu.

Gaara berdiri menghadap sang pahlawan shinobi. Ia tidak ingin membuka percakapan.

Saat pria bersurai merah itu nampak di mata Naruto, ia gelagapan dan langsung menghampirinya. Mendorong pundaknya keras dan membuat pria itu tersungkur ke belakang.

Shikamaru kaget dengan tindakan Naruto. Tapi ia tak merespon berlebihan. Ia menangkap ada kesalahpahaman saja.

“Apa-apaan ini?” Kata Gaara kesal, lalu bangkit berdiri.

“Mengapa kau tega melakukan itu? Hah!?” Naruto kini berani berteriak.

Gaara masih diam. Ia tak tahu harus merespon seperti apa. Ia hanya menatap Naruto seperti biasa. Dingin, tanpa ekspresi.
Sepertinya ia sudah tahu, ke arah mana pembicaraan yang unramah itu.

“Jawab aku! Jangan diam saja!” Naruto kembali berteriak kasar, tidak menghiraukan keadaan sekitarnya. Toh juga ia tak membuat keributan di desa, karena suaranya teredam oleh kesunyian gurun. Jari-jarinya kini tak lepas dari kerah pemuda tak beralis itu.

“Lepaskan aku,” kata Gaara kalem, seakan tak terjadi apapun, seakan sang jinchuuriki kyuubi ini bukan ancaman baginya.

“Kussooo!” teriak Naruto, lalu meninju pipi Gaara.

Gaara yang tidak waspada akan pergerakan Naruto pun terkejut, ia terhempas beberapa langkah ke belakang.

Beberapa kali pukulan hingga pipi Gaara hancur menjadi pasir-pasir. “Sudah puas?” tanyanya lagi.

Mendengar kata-kata sarkartis penuh sindiran yang diucapkan Gaara membuat Naruto menjadi muak, dan mengambil ancang-ancang untuk memukulnya lagi. Kepalan tangannya kembali teracung di udara, dan akhirnya berhenti karena pasir-pasir yang serasa meremukkan pergelangan tangannya.

Tangan Naruto melemah, yang ia pukuli saat ini adalah sahabat baiknya. Bagaimanapun juga Gaara adalah seseorang yang ia lindungi, setidaknya ia telah dua kali menyelamatkan pemuda itu dari kematian. Tak seharusnya ia memukulinya seperti ini.

Naruto mengangkat badannya, dan menduduki batu di sampingnya. Mukanya tertunduk menyesal, beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya.

Gaara pun ikut bangkit dan duduk, pipinya sudah kembali seperti semula. Ia memandang lagi kawan baik yang menjadi inspirasinya selama bertahun-tahun ini, yang menunjukkan ekspresi penyesalannya walau tidak kentara. Sebuah senyum iba tipis muncul di wajah pemuda merah itu.

“Kenapa memukulku?” tanyanya pelan.

Shikamaru pun ikut duduk berseberangan di hadapan kedua shinobi hebat. Sepertinya mereka perlu waktu untuk bicara.

“Karena kau sudah berani melamarnya…” jawab Naruto dengan tetap menunduk di antara dua kakinya.

Gaara mengernyit bingung. Setahunya, Naruto dan Hinata tidak ada hubungan apapun, untuk apa ia marah? Kata anak muda sekarang, Hinata itu available, jadi siapapun bisa mendekatinya, tak terkecuali Gaara.

“Apa hakmu marah-marah?” tanya Gaara kembali.

Desah nafas Naruto yang tadinya kuat dan pendek-pendek itu mulai tenang dan teratur, tertegun akan kata-kata Gaara. Benar kata lelaki merah ini, dia punya hak apa? Dia siapa?

“Aku… aku… aku adalah orang yang dicintainya.”
ucap Naruto tergagap. Entahlah, ia sendiri tak begitu meyakini dengan ucapannya sendiri

“Benarkah? Bukankah kau tak pernah menerima perasaannya? Semua orang di Konoha juga tahu, kalau kau justru dekat dengan gadis pink itu…”

“Dia hanya rekan timku. Dan memang, aku sering menggodanya, sebatas teman. tak lebih…” Muka Naruto makin tertunduk.
“Aku baru menyadari, kalau aku sangat mencintainya.” Katanya pelan, sangat pelan.

“Begitu ya. Apa boleh buat, kami semua sudah menyetujui rencana pernikahan ini,” sahut Gaara lagi. Sebuah pernikahan dengan begitu banyak kesepakatan perjanjian di baliknya.

Kembali, Naruto hanya diam. Ia tak tahu harus berkata apa.

“Dia… bahagia menerimanya?” tanya Naruto.

“Mungkin saja.”

Naruto mengangkat kepalanya, menumbukkan pandangan matanya kearah mata hijau Gaara yang melihatnya intens.

“Apakah pipinya selalu memerah saat bertemu denganmu? Apa dia pernah pingsan karena ulahmu? Apa dia pernah sembunyi-sembunyi hanya untuk melihatmu? Apa dia pernah membuatkanmu kue ulang tahun? Apakah dia pernah membuatkanmu bento terindah di dunia? Apakah dia pernah membuatkanmu syal agar tetap hangat?” Naruto menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba mengingat semua hal yang berkaitan dengan Hinata dalam hidupnya.

“Apakah dia pernah membuatmu merasa sangat bersalah karena menyakitinya, mengabaikan perasaannya bertahun-tahun lamanya? Apakah dia pernah membuatmu cemas setengah mati karena takut kehilangannya? Apakah dia pernah membuatmu begitu… merasa begitu dicintai?”

Terkejut tentu saja. Ternyata arti seorang Hinata bagi Naruto cukup besar.

“Tidak. Tidak pernah.” Jujur Gaara belum pernah diperlakukan demikian, dan ia sedikit mengharapkannya.

“Kalau begitu, nanti ia akan berbuat lebih dari yang ia perbuat kepadamu ketika kami menikah nanti.”

Pemuda merah itu bangkit berdiri, lalu menepuk-nepuk debu yang ada di baju dan bahunya. Ia lalu menepuk bahu Naruto sedikit dan beranjak pergi.

“Gaara…” ucapan lemah Naruto menghentikan langkah shinobi pasir itu. “Jika memang sudah takdir, aku akan mengikhlaskan semuanya. Kau benar, aku tidak punya hak apapun atasnya. Buatlah ia bahagia, itu sudah cukup untukku,” suara naruto bergetar. Ia tak sanggup untuk meneruskan perkataan. Meski terasa sangat berat, pemuda kuning itu harus benar-benar menerima keadaan.

Tanpa menengok ke belakang, Gaara hanya menganggukkan kepala lemah. Berusaha tetap tenang meskipun kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.

Tinggallah Shikamaru dan Naruto di sekitar perapian itu.

“Kenapa kau tidak menyusulnya, Shikamaru? Kudengar kau sudah menjadi kakak iparnya….” sindir Naruto.

“Mendokusai…” Pria nanas ini pun bangkit dan duduk di samping Naruto, sahabat bakanya. “Aku masih ingin melihat seorang shinobi paling hebat Konoha menangis karena perempuan…”

Merasa diejek, Naruto memukul lengan Shikamaru pelan.
“Aku tak selemah itu,” ucap Naruto dengan senyum yang dipaksakan.
“Benarkah? Wajahmu tak seperti ucapanmu…”
Naruto memalingkan mukanya, menatap langit malam yang hanya dihiasi beberapa bintang.

“Eh, aku sampai lupa. Selamat ya atas pernikahanmu. Semoga samawa selalu…” Naruto menjabat tangan dan mendekap erat Shikamaru. Sejak kecil, pria inilah yang mau berteman dengannya. Dan mereka sudah melewatkan banyak hal dalam persahabatannya selama ini.

Shikamaru tersenyum dan membalas dekapan naruto dengan tepukan di pundak. “Sankyu, Naruto…”

“Aku tak tahu kau ada di Suna. Jadi, aku tak membawa apapun untukmu…”
“Santai saja, Nar. Aku akan mencatatnya sebagai hutangmu. Suatu saat aku akan menagihnya…”
“Huhh… dasar…”

Keduanya pun tertawa lepas.

“Ceritakan kepadaku. Bagaimana kau bisa menikahi Temari-san? Setahuku kau dulu sering bertengkar dengannya terkait ujian chunin. Dan lagi, bukankah dengan berkeluarga akan membuatmu semakin repot dengan makhluk yang bernama perempuan? Aku tebak, kau tidak bisa tidur seenakmu sendiri sekarang… hahaha… rasakan…”

Shikamaru tertunduk malu. Semua perkataan Naruto memang benar. ia tidak menyangkalnya.

“Kachan yang melamarnya tanpa sepengetahuanku, jadi ya… terpaksa…” Shikamaru kembali menunduk. Baru kali ini merasa malu menghadapi Naruto.

“Terpaksa, tapi kau suka… hahaha…” Naruto tertawa sarkastik. Hanya sebentar. Suaranya melemah saat berkata, “Beruntunglah kau masih punya kachan yang sudi mencarikan anaknya jodoh. Tidak sepertiku, hidup sendiri. Akhirnya kalah cepat dengan orang lain,”

Shikamaru turut merasakan kepedihan yang dirasakan Naruto. Ia menepuk pelan pundak pemuda kyubi itu. “Ayolah, kau seperti bukan Naruto yang aku kenal,”

Naruto menghirup udara malam yang mulai terasa dingin itu kuat-kuat lantas menghembuskannya perlahan. Diulangi lagi dan lagi. Shikamaru yang melihatnya hanya diam. Ia tahu, Naruto sedang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan.

“Nggak papa, Shika. Aku sudah terbiasa dengan sakit hati. Lagipula, siapa sih yang mau dengan monster seperti aku? Selama ini aku hidup sendiri. Sepertinya Allah masih ingin membuatku nyaman dengan kondisi ini,” Naruto menatap kosong api yang mulai meredup. Diambilnya beberapa ranting hingga perapian itu kembali menyala terang.

“Naruto, apapun yang terjadi, bertahanlah. Bukankah kau masih ingin menjadi hokage? Kau tahu, aku sudah bersusah payah belajar menjadi asisten Kakashi sensei agar kelak bisa mendampingimu saat kau telah menjadi hokage nanti. Jangan buat usahaku sia-sia, baka…”

Naruto tersenyum. Ia menyadari, bahwa kehadiran Shikamaru dengan otak jeniusnya itu akan sangat penting baginya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang akan dihadapi seorang hokage, mimpi yang ingin ia wujudkan. Dan Shikamaru adalah orang yang sangat mendukungnya untuk meraih keinginan besarnya itu.
“Arigatou, Shikamaru. Hontouni arigatou…” Naruto menjabat erat tangan sahabat baiknya itu.

“Ini sudah sangat larut, Shikamaru. Ada seseorang yang sudah menunggumu. Kembalilah ke Suna…”
“Hmm… Aku tadi sudah bilang padanya untuk menemuimu. Mana mungkin hanya bisa sebentar. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan…”
Belum selesai, ucapan Shika dipotong Naruto.
“Tunggu! Jangan bilang kalau itu hanya akalmu saja agar bisa lari dari rumah!”
“Mendokusai… Aku bukan laki-laki pengecut, Naruto no baka…”
“Hahaha….” Naruto tertawa puas melihat Shikamaru yang terlihat salah tingkah.
“Tiga bulan lebih, kau kemana saja, Naruto?” tanya Shika mengalihkan pembicaraan.

Dan sepanjang malam itu pun keduanya larut dalam obrolan hangat. Menjelang subuh, Naruto pamit undur diri.
“Mau kemana sekarang?” tanya pemuda Nara itu.
“Entahlah, aku perlu sedikit waktu untuk menenangkan diri,”
“Jangan terlalu lama galau. Hidup harus terus berjalan kan…”
“Iya, aku tahu itu. Tenang saja, aku masih bisa mengatasinya,”
“Sankyu, Shika, atas waktumu malam ini.”
“Tak masalah,”
Keduanya pun berpisah. Shikamaru memutuskan untuk segera kembali ke istana Suna. Dan Naruto, ia telah menghilang dengan jurus andalannya itu.

—-
.
.
Di apartemen Sai, nampak Ino tengah memotong sayuran untuk makan malam. Kadang ia memilih bermalam disini, suasananya lebih tenang. Tentu saja, di kediaman Yamanaka ada banyak orang. masih ada banyak anggota klannya yang tinggal di komplek perumahan yang besar itu, meski tak sebesar mansion Hyuga.
“Mau masak apa, Anata?”
Tiba-tiba Sai sudah datang dan langsung memeluknya dari belakang.
“Gyoza. Kau suka?”
“Apapun, asal kau yang masak, aku pasti suka,” ucap Sai seraya menyembunyikan kepalanya di ceruk leher istrinya.
“Mulai deh,” kadang Ino sebal dengan gombalan Sai, tapi ia menyukainya. Ia tak tahu, Sai harus membaca banyak buku untuk bisa menggombal manja pada perempuan yang sudah sah menjadi pendampingnya itu.
“Bagaimana dengan Naruto?”
“Ia pergi ke Suna..”
Ino terkejut dengan kabar itu. “Benarkah? Terus, bagaimana kalau ia membuat kekacauan disana?” Ia ingin menatap pemuda Shimura itu tapi pelukan di pinggangnya sangat erat.
“Tenang saja. Insya Allah Naruto tak akan berbuat nekad. Ada Shikamaru disana,”
“Alhamdulillah, syukurlah. Aku prihatin dengan nasib temanku yang satu itu,”
“Mmm.. kau lebih khawatir dengan si jabrik kuning itu daripada suamimu sendiri?”
“Ya enggaklah. Kan aku hanya bersimpati. Masa nggak boleh? Cemburu ya….”
“Bukan. tapi aku sudah lapar…”
“Bagaimana aku bisa menyelesaikan masakan ini kalau kau terus memelukku?” Ino mulai kesal.
“Iya iya… Selamat memasak istriku. Aku mandi dulu ya,” ucap Sai yang dengan santainya mencium pipi Ino kilat lantas pergi. Meski sudah menikah beberapa bulan, tetap saja wajah Ino menjadi merah dengan perlakuan Sai yang kadang kelewat manis.

—-

Tinggalkan sejenak kebersamaan pasangan SaiIno. Author takut yang masih jomblo jadi baper ??. Kita beralih ke couple muda Konoha yang lain.
.
.

Sakura duduk bersandar di futon berseprei kain putih polos itu. Ia belum mengantuk meskipun kaki dan pinggangnya berdenyut nyeri kelelahan setelah seharian kerja di Rumah Sakit. Merasa ingin me time, ia mengenakan kembali piyama yang ia beli dengan gaji pertamanya sebagai chunin dulu. Kondisi baju itu sendiri sungguh memprihatinkan. Baju dengan motif bunga sakura kecil yang sudah robek bagian samping dan bahu kiri, saku dada yang nyaris lepas dan bekas tumpahan tinta yang menyebar di sisi kakinya. Gadis musim ini tertawa saat bercermin. Penampilannya seperti gembel jalanan. Tapi ia sangat merasa nyaman dengan baju itu,

Matanya menangkap sebingkai foto di atas nakas. Segera ia mengambil foto itu, lalu meraba piguranya yang berwana biru tua. Dipandanginya foto tim 8 yang diambil saat pesta kembang api setelah perayaan pelantikan Kakashi sebagai hokage ke-6. Paling kanan, ada Sai dengan senyum palsunya. Lalu Naruto yang cengirannya kelewat lebar. Dirinya yang tampak manis dengan baju kimono merah. Kakashi yang tampak tersenyum meski raut mukanya tertutup masker. Terakhir, sang suami yang hanya sedikit menaikkan kedua ujung bibirnya.

Tersenyum sendiri membayangkan betapa konyolnya mereka saat itu. Sulitnya membangun kerjasama tim hingga harus berhadapan dengan bahaya yang bisa saja mengambil nyawa yang cuman satu itu.
“Kau memang baka sejak lahir Naruto,” ucap Sakura lirih seraya mengetukkan jari telunjuknya di dahi potret Naruto.
“Bagaimanapun, aku berterimakasih padamu karena telah menunaikan janji seumur hidup untuk mengembalikan Sasuke ke desa. Tanpa pengorbananmu, mungkin kami ak bisa menyatu sekarang,” Sakura tersenyum.
“Kenapa sih sulit banget memberikan masukan padamu! Sering bertindak sendiri. Kalau sejak dulu kau segera sadar dengan perasaanmu, kau tak akan kehilangan dia kan! Kau selalu saja membuat kami khawatir. Bukan Naruto namanya kalau cepat menyerah. Ahh… situasi jadi makin sulit kan sekarang….”

“Kenapa kau tidak mengatakannya langsung pada Naruto? Hmm..”
Sakura tersentak kaget ketika sang suami yang entah sejak kapan telah memasuki kamar mereka, menginterupsi ucapan solonya tadi. Seperti biasa, Sasuke tetap saja memakan tomat meski mau tidur.
“Sudah. Tapi nggak ditanggapi. Bebal banget si kyubi itu…” sungut Sakura kesal.
“Apa yang kau pikirkan sekarang?”
“Banyak…”
“Tentang dobe…”
“Aku hanya kasihan padanya. Di saat seperti ini, mungkin dia sangat perlu kawan yang bisa diajak bertukar pikiran. Kau tahu sendiri, otaknya yang pas-pasan itu. Sai dan Shikamaru sudah menikah. Dan kita,…disini… Aku jadi bingung sendiri,…”
Sasuke tersenyum tipis. “kau terlalu baik padanya…”
“Aku? Apa kau sadar, seringkali kau juga terlalu baik padanya, Sasuke-kun!”

“Tidak, aku hanya mengkhawatirkannya.”

“Hei, seharusnya aku yang bicara seperti itu!” Sakura manyun, kesal.
Sasuke hanya tertawa kecil seraya mengacak surai merah muda di depannya pelan.

“Sudah malam. Sekarang,..” Sasuke mengambil pigura di tangan istrinya dan mengembalikan ke nakas. lalu ia mengambil sebuah bantal dan memberikannya ke Sakura, “Kau pasti lelah, jadi cepatlah istirahat.”

“Mmm.. Arigatou Sasuke-kun,”
Sakura tersenyum manis dan bersiap untuk merebahkan tubuhnya di kasur.

“Hn.. ayo aku antar ke teras belakang.”

“Apa?”

“Aku tidak suka tidur dengan gelandangan. Mungkin kau akan lebih menghayati peranmu itu dengan tidur di teras belakang. Ada beberapa kardus yang bisa kau pakai untuk alas.”

“Sasuke-kun kejaaaammmm,” sakura bersungut-sungut, jengkel dengan ulah suaminya itu.

“Tidak, aku hanya pengertian…”

“Malam ini saja ya! Aku ingin memakai ini. Perempuan itu kadang merasa sangat nyaman dengan baju favoritnya meskipun kadang sudah robek dimana-mana. Boleh ya! Boleh ya!” Sakura beringsut memeluk Sasuke. Ia menatap Sasuke tepat di depan hidungnya, hanya berjarak satu senti, dengan wajah memelas. Tak lupa memasang puppy eyes nya yang berwarna hijau itu.

“Hn. Baiklah. Aku akan menggendongmu ke belakang. Ayok,” tangan Sasuke sudah menyelinap di lipatan paha sakura dan tangan satunya melingkar di bahu.

“Sasuke-kun jahaaattt….”
Sakura melompat ke pinggir ranjang. Dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai, ia segera mengambil piyama lain. Mana mau ia tidur di teras belakang yang banyak nyamuknya. Dingin lagi. Membayangkan saja ia tak sudi.

Sasuke menyeringai tipis. Mengambil tisu dan membersihkan sisa tomat di sudut bibirnya.

—-

Yups…
Sampai disini dulu ya chapter 21 nya
Sengaja, ada adegan roman di endingnya, biar nggak ikut galau seperti Naruto. ?

Terimakasih yang sudah mengikuti cerita Naruto Santripudden
Jika menurutmu asyik, komen dan share ya…

Sankyu minna
Ketemu di episode berikutnya, insya Allah…

Ilustrasinya Gaara saja ya. Dia lumayan good looking kok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *