Chapter 20 Terbukanya Tirai Hati


Piece of Life
Chapter 21
-Terbukanya Tirai Hati-

Adzan Maghrib bergema memenuhi langit Konoha. Semburat jingga di ufuk barat menyambut kehadiran sang Shinobi legenda. Selepas menunaikan sholat berjamaah, Naruto bergegas menuju Ruang hokage.

“Oi, Naruto. Untung kau cepat datang, baru saja aku akan pulang,”
“Tumben, masih jam segini sudah mau balik, sensei…”
“Dulu, aku pulang tengah malam pun tidak masalah. Sekarang, sudah ada seseorang yang menungguku di rumah,…” jawab Kakashi tersenyum di balik penutup wajahnya.
“Iya.. iya… Aku mengerti, sensei…”

“Jadi, bagaimana? Kau terima tawaran petinggi negara Hi?” goda pria Hatake ini.
“Sensei….” jawab Naruto sambil cemberut.
“Baiklah, aku sudah tahu jawabannya. Ada hal lain yang ingin kau diskusikan terkait misimu kali ini, Naruto?”
“Tidak ada, sensei. Semua sudah aku tulis di gulungan misi ini. Dan satu hal, sepertinya kau salah mengirimku, seharusnya Shikamaru atau Sai, kenapa aku tebayyo…” ucap Naruto kesal karena harus memeras otaknya yang pas-pasan. Dia lebih memilih menghadapi banyak musuh daripada berkutat dengan aneka gulungan itu.
“jangan salahkan aku, mereka yang memintamu…”

Naruto pun memilih segera undur diri, tak ingin menahan sang hokage lebih lama di ruangannya.

—-

Malam itu langit cerah. Beberapa bintang tampak mengintip di balik pelukan cakrawala malam.

Sial, Naruto tak kebagian ramen di ichiraku favoritnya. Entah kenapa, sejak pagi hingga sore toko itu penuh pembeli. Berniat membeli beberapa bahan makanan instan, netra Naruto bersirobok dengan orang yang telah lama tak ia temui.

“Iruka sensei….” Naruto mendekap erat sosok lelaki dewasa yang telah menjadi penasihat spiritualnya itu. Ia sangat merindukan nasihat yang mampu menyegarkan kembali jiwanya yang gersang.

“Naruto, lama tidak ketemu… Bagaimana keadaanmu?”
“Alhamdulillah, baik sensei…” senyum Naruto mengembang.
“Bagaimana kalau kau makan malam di rumahku? Ada banyak hal yang bisa kita bicarakan…”
“Tentu saja, tebayyo…”

—-

Setelah menikmati aneka hidangan enak dalam suasana penuh kehangatan, Naruto memilih duduk di teras rumah Iruka yang baru beberapa bulan di tempatinya.

“Sensei, apakah kau bahagia setelah menikahi Yuuna-san?”
Yuuna, shinobi asal Iwagakure. Kemampuannya memang masih di bawah rata-rata. jadi tak terlalu diperhitungkan dalam aliansi shinobi.

“Tentu saja. Orang bilang, aku terlambat mendapatkan pasangan. Bagiku, kehadiran Yuuna sudah melengkapi hidupku. Apalagi ada Reina di antara kami,”

“Siapakah orang tua Reina, sensei?” tanya Naruto penasaran pada anak perempuan mungil berusia lima tahunan itu.

“Ayah ibunya petani yang menjadi korban perampokan. Beruntung, Reina selamat setelah ditemukan pingsan di bawah dipan. Yuuna memutuskan untuk mengasuh anak itu, meski ia sendiri juga tak memiliki orang tua dan saudara. Keikhlasannya itu yang membuatku kagum dan akhirnya tergerak untuk menikahinya. Biarpun beda usia hampir 10 tahun, yang penting kami bahagia…”

“Dan sensei melupakan untuk mengundangku ke pernikahanmu,” rajuk Naruto.

“Gomen, Naruto…. Sebelum serangan meteor bulan, aku sudah berada di Iwagakure. ada beberapa hal yang harus kuselesaikan. Saat itu, aku sudah melamar Yuuna. Setelah kondisi keamanan stabil, aku memutuskan untuk segera menikah dalam upacara sederhana dan membawa Yuuna ke Konoha. Belum sempat bertemu, kau sudah pergi Getsu. Dan baru hari ini kita bisa bertemu…”

“Iya sensei, aku mengerti…” Naruto tersenyum hangat mendengar penjelasan sensei terdekatnya itu. Kehidupan Naruto memang lebih banyak menyelesaikan misi. Pulang dua atau tiga hari, pergi selama satu atau dua bulan. Dan ia tetap saja bersemangat menyelesaikan misi-misi penting yang ditugaskan. Baginya, itu adalah kesempatan untuk bermanfaat bagi banyak orang.

“Jika boleh aku berpesan, carilah pendamping hidup yang sekufu Naruto. Itu akan membuatmu tenang,”

Mmm… sekufu ya. Naruto sudah sering mendengar taushiyah seperti ini. Kepalanya menunduk, ragu untuk bertanya, “Apakah menurut sensei, aku tidak sekufu dengannya?”

Iruka menoleh dan menatap Naruto hangat. Ia tahu, siapa yang sedang dibicarakan murid istimewanya itu. “Sekufu bukan hanya soal derajat sosial atau harta semata Naruto. Bisa fisik, kemampuan, pendidikan, dan lainnya. Dan menurutku, kalian memiliki banyak persamaan…” Iruka melukiskan senyum di wajahnya.

“Hmm… Tapi dia memilih pria lain, sensei…”

Iruka telah mendengar kabar pernikahan itu. Melihat kesedihan Naruto adalah hal yang dikhawatirkannya sejak lama.

“Allah telah menentukan yang terbaik untuk kita. Jangan berputus asa dari rahmatNya. Kadang kita tak mengerti dengan kehendakNya, tapi jangan pernah lupa untuk bersyukur akan semua nikmatNya,”

Naruto hanya menutup matanya. Mencoba untuk memahami nasihat senseinya.

Malam yang penuh kehangatan keluarga, Naruto pun tahu diri untuk segera pamit. Rasanya ia ingin segera istirahat nyenyak di apartemennya.

—-

Matahari menyapa hangat alam semesta. Sinarnya tak memancar sempurna tapi cukup untuk membangunkan setiap yang bergelung dibawah selimut. Tak terkecuali tokoh utama kita.

Tak ingin mati ditelan kebosanan, menjelang siang Naruto berjalan menyusuri jalanan Konoha. Matanya tertuju pada toko suvenir yang sedang sepi. Setelah memikirkan cukup lama, ia telah menemukan kado perikahan yang tepat untuk rekannya, Shimura Sai. Atau mungkin ia telah berganti klan jadi Yamanaka.

“Assalamualaikum….” Naruto langsung memasuki toko bunga terkenal di Konoha itu.
Ino yang tengah menata sebuah buket bunga, tampak terkejut dengan kedatangan si jabrik kuning itu.
“Waalaikumsalam. Oi, naruto. Tumben sekali kau mampir kesini?”

Sai yang ada di belakang langsung bergabung dengan istrinya begitu mendengar suara putra Minato itu

“Aku hanya ingin memberikan sebuah kado pernikahan untuk kalian. Terimalah…” Naruto menyerahkan sebuah bungkusan besar.
Dengan wajah cerah, Ino langsung meraih pemberian itu.

“Aku buka sekarang ya Naruto,”

“Silahkan…”

Begitu bungkusan dibuka, seketika muka Ino langsung jengkel. “Kenapa semua isinya gelas, Naruto? Nggak ada hadiah lain yang menarik apa…”

“Sudahlah istriku, naruto mana bisa berpikir hadiah pernikahan yang berkesan…”

“Justru aku memberikan itu karena aku sangat memahami kalian. Sai, sejak kau menikah, sudah berapa gelas yang dipecahkan Ino? Dulu, dia senang sekali memecahkan gelas saat sedang emosi….”

“Narutooo…..” Perempatan langsung tercetak di dahi Ino. Menatap naruto dengan pandangan deathglarenya. Sai hanya berusaha menahan tawa karena pemberian Naruto itu memang sangat ia butuhkan.

“Sudah. Sudah… Ayo masuk Naruto, kita ngobrol didalam saja,”
Mengabaikan Ino yang masih geram, Sai dan Naruto langsung berjalan ke kebun bunga di belakang toko. Ada gazebo yang nyaman disana.

—-

“Jadi, bagaimana kau melamar Ino dulu?” tanya Naruto penasaran dengan si pockerface. Sai tersenyum sendiri membayangkan masa-masa itu.

==Flashback On==

“Sai-kun, boleh aku meminjam gulungan yang membahas kode ini?”
Ino menyerahkan selembar kertas pada Sai. Memilih bekerja di bagian Investigasi, Ino menemukan beberapa kode dan gambar unik setelah menggunakan jutsu shintensinnya pada para tersangka. Karena data di perpustakaan pusat terbatas, ia sering meminta tolong Sai yang memiliki banyak referensi yang didapatkan saat masih berada di ANBU dulu.
Kadang Ino sendiri yang mendatangi apartemen Sai. Beberapa kali ditemani Chouji.

Sai yang masih disibukkan dengan urusan di kantor Hokage tak bisa langsung mengambilkan gulungan yang diperlukan Ino.
“Gomen, Ino-chan. Aku sedang ada tugas dari hokage yang harus diselesaikan. Bisakahkah kau ambil sendiri gulungan yang kau perlukan? Ada di rak paling atas, sebelah kiri. Ada gulungan kecil berwarna merah. Bukalah dengan jutsu yang pernah aku ajarkan padamu. Ini kunci ganda apartemenku. Setiap saat kau membutuhkan, bisa kau gunakan…”

Sai menyerahkan sebuh kunci ke tangan Ino.
Ino tidak langsung menerimanya. Mukanya pucat terkejut kemudian berubah merona merah seperti kepiting rebus.

“S-Sai-kun….” tanya Ino meyakinkan lagi, ia masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Sai.

Sai hanya tersenyum tipis melihat kunoichi di hadapannya itu. “Benar. Terimalah! Itu jika kau mau…”
Sekali lagi pemuda Shimura ini mengacungkan kunci dengan hiasan pita hitam putih itu di hadapan Ino.

“B-baiklah,…” entah kenapa Ino jadi gagap. Dengan tangan gemetar, ia menerima pemberian Sai.

“Simpanlah baik-baik ya! Aku permisi dulu…” Sai meninggalkan Ino yang masih bengong.

Ino hanya menutup punggung Sai yang mulai berjalan menjauhinya. Semburat rona merah telah rata menghiasi wajah cantiknya.

(Di Jepang, seorang pemuda yang memberikan kunci ganda rumahnya kepada perempuan lain secara tidak langsung itu pertanda ia ingin melamar sang gadis–red)

==Flashback Off==

“Begitulah, seminggu kemudian aku resmi melamar Ino ditemani kakashi sensei dan sebulan setelahnya kami melangsungkan pernikahan…”

Naruto hanya cengo mendengar penuturan shinobi pelukis itu.

Sai yang memang terkenal bicara apadanya jadi tertarik untuk membicarakan kehidupan pernikahan barunya.

Mendengar Nartuo dan suaminya yang sering tertawa bersama, Ino jadi penasaran. “kalian membicarakan apa sih? Seru amat… Oh ya, silahkan diminum, Naruto!” ucapnya sambil menyerahkan sebuah nampan berisi ocha hangat.

Tanpa sepengatahuan Ino, Sai langsung menatap Naruto dan menaruh jari telunjuknya di bibir seakan menutupnya rapat. Matanya juga mendelik memperingatkan naruto.

“Ahh.. pembicaraan lelaki, Ino. kami hanya bercanda,”

Baru saja mendudukkan diri di samping suaminya, bel di toko bunganya berbunyi.

“kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Ada pelanggan. Aku tinggal dulu ya…”

Kedua lelaki itu hanya mengangguk pelan. Sepeninggal putri Inochin itu, mereka pun tergelak.

Sementara itu, Ino langsung ke depan menemui pelanggannya.
“Oi, Hinata! Kau datang! Hai hanabi” ia langsung mendekap erat sahabat pemalunya itu dan mencium singkat pipi cubby Hanabi.

Setelah berbasa-basi sebentar, Hinata pun mengutarakan maksud kedatangannya. “Ino-chan, aku ingin memesan sekitar 15 buket bunga meja dan rangkaian bunga untuk pintu masuk tamu undangan. Bisa kan!”

“Ohh… Tentu saja bisa, Hinata. Aku akan membuatkan yang terbaik untukmu,”

“Arigatou, Ino-chan. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Ayo, hanabi…”
Hinata hendak pergi dari toko bunga itu. tapi dicegah Ino.

“Hinata, maukah kau duduk sebentar disini. Kita bisa ngobrol sebentar di belakang. Sepertinya, ada seseorang yang ingin berbicara denganmu,” Ino memegang tangan Hinata. Berharap gadis Hyuga itu mau singgah sebentar di tokonya.

“Seseorang, siapa?” tanya Hinata penasaran

“Masuklah,” Ino menggandeng tangan Hinata dan mengajaknya ke gazebo belakang.

Begitu tahu siapa yang tengah berbincang bersama suami Ino, muka Hinata langsung pucat. Sungguh, pertemuan dengan pria itu yang ingin ia hindari selama ini. Naruto pun tampak terkejut dengan kehadiran Byakugan no Hime itu.

Tenggorokan Naruto terasa kering. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya.
“Hinata…”
“Naruto-kun…” suara Hinata sangat lirih. Mungkin hanya Hanabi yang ada disampingnya yang bisa mendengarnya.

Mendadak suasana jadi senyap. Tak ada yang mau memulai percakapan.

“Gomen, Hinata, Naruto. Aku rasa kalian perlu bicara. Setidaknya itu bisa mengurangi kesalahpahaman,” ucap Ino mencoba mengawali komunikasi. Ia mengajak Hinata duduk di kursi melingkar di seberang Naruto. Hanabi pun mengikuti kakaknya.

Sudah lama Sai dan Ino ingin mempertemukan Hinata dan Naruto. Sai sangat memahami bagaimana kepedihan Naruto saat Toneri hendak mempersunting Hinata, meski akhirnya gagal. Ino pun beberapa kali memergoki Hinata tengah menangis saat mempersiapkan pernikahannya. Jadi, Hinata dan Naruto sama-sama merasa tersakiti karena keduanya tak pernah berkesempatan mengutarakan perasaan.

Naruto merasa tak punya nyali untuk memulai buka mulut. Tapi, harga dirinya tergugah saat Sai menatapnya tajam lalu mengacungkan jari jempolnya ke bawah.

“Apa kabar Hinata?” tanya Naruto basa-basi.
“Alhamdulillah, baik,” Hinata menjawab dengan pelan dan kepala menunduk. Ia merasa seperti sedang duduk sebagai pesakitan yang hendak dihakimi.

Suasana kembali sunyi. Naruto mendesah kesal.
“Entah, aku harus mengucap apa atas rencana pernikahanmu dengan Gaara.” Langsung saja Naruto mengurai kegundahan hatinya.

“Kau sendiri akan menikah dengan putri petinggi negara Hi,”
Naruto sedikit terkejut mengetahui Hinata sudah mendengar kabar itu. Tatapan tajamnya kini mengarah ke si muka pucat. Sai hanya mengedikkan kedua bahunya dan memasang wajah innoscen. Menyebalkan.

“Aku menolaknya.” jawab Naruto.
“Kenapa?” Hinata sungguh penasaran dengan keputusan Naruto. Jika saja Naruto meneriwa tawaran itu, mungkin hatinya tak sepedih sekarang.

Ingatan Naruto melayang saat berbincang di istana negara Hi.

==Flashback On==

Naruto sudah tiga hari disini. Sejak kemarin, Yashuhiro hanya membicarakan masalah keaamanan dan pertahanan ibu kota. Seharusnya, Shikamaru yang lebih tepat untuk menangani misi ini. Semua orang mengakui bahwa pemimpin klan Nara itu lebih cerdas dalam strategi keamanan.

“Mengapa harus aku yang dikirim kesini, tebayyo!” Naruto merasa frustasi dengan beberapa gulungan misi yang tengah dihadapinya.

Pintu ruang tiba-tiba terbuka.
“Apakah aku mengganggumu, Naruto-san?” Yashuhiro segera memasuki ruangan luas dengan tumpukan gulungan yang tertata rapi di bagian dindingnya. Beberapa pengawal berdiri rapi di luar ruangan.

“Ohh, tidak Yashuhiro-sama. Aku hanya mengerjakan beberapa gulungan ini. Mungkin nanti siang sudah selesai,” jawab Naruto sambil berdiri menghormati sang tuan rumah.

“Shouka… Tak perlu tergesa-gesa, Naruto-san,” timpal lelaki paruh baya berperawakan tenang dan berwibawa itu. Ia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Naruto.

“Ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, nak…”
Mata Naruto membola. Panggilan nak untuknya itu sangat terdengar mencurigakan.

“Begini, aku berniat menikahkanmu dengan putri ketigaku, Keiko. Kukira kau sudah bertemu dengannya saat upacara penyambutan kemarin,”

Jantung Naruto seakan berhenti berdetak. Pernyataan seperti ini yang sangat tidak ia harapkan sejak memasuki istana kemarin.

“Siapa tahu, shinobi hebat sepertimu berkenan menjadi panglima perang istana Hi nantinya,” sahut Yashuhiro mencoba mempengaruhi pikiran pemuda Kyubi itu.

“Gomen, Yashuhiro-sama. Saya merasa tersanjung dengan tawaran Anda. Tapi, maaf. Saya tidak bisa menerimanya,” jawab Naruto tegas.

==Flashback off==

“Hatiku telah mati karena seseorang meninggalkannya…”
Naruto mendesah pasrah.

Hinata menyadari kalau perkataan Naruto itu mengarah padanya. Kini ia merasakan dirinya begitu jahat. “Kau mengabaikan kesempatan emas untuk masa depanmu Naruto-kun”

“Buat apa. Toh aku tidak akan bahagia di istana,” Lagi-lagi ucapan Naruto seakan mengiris kasar perasaan Hinata. Mata bulan itu mulai basah dengan cairan bening yang berlompatan keluar.

Kepedihan benar-benar menyiksa Hinata. Dengan terbata, akhirnya ia pun melanjutkan ungkapan hatinya,
“Masih ingat saat invasi pain, Naruto-kun? Aku kalah dalam waktu cepat. Padahal aku ingin sekali melindungimu. Sejak itu, aku merasa tak percaya diri lagi untuk bertarung, aku merasa lemah. Pun saat Perang Shinobi keempat, tak banyak yang bisa aku lakukan. Tapi Sakura selalu ada mendukungmu. Kau selalu begitu kuat dan hampir tak pernah kalah. Aku ini lemah, sangat lemah. Aku tak pantas berada di sampingmu,”
Hinata makin tersedu.

“Kamu pikir, lebih baik bersama Gaara daripada aku?” tanya Naruto, ada nada sindiran di dalamnya.
“Aku ada alasan tersendiri untuk menerima Gaara-sama”
“Mengapa kau yakin Gaara bisa menghapus aturan Souke-Bunke di klan Hyuga?” Kini, Hinata yang terkejut dengan perkataan naruto. darimana ia tahu kalau persoalan itu masuk dalam pertimbangannya saat menerima Gaara.

“Kami ada alasan sendiri. Gomen, itu rahasia Hyuga”

“Merubah Hyuga bukan hanya janjimu pada Neji, tapi itu juga bagian dari janjiku Hinata. Aku tak pernah melupakannya. Saat ujian Chunnin, aku memang mengalahkan Neji. Ia yang merasa kesal dengan segel terkutuk itu hingga tak bisa terbang bebas menentukan pilihan hidupnya. Dan sejak saat itu, aku sudah bertekad untuk membantunya terbebas,” Naruto berkata panjang lebar. Pandangannya hanya tertuju pada rangkaian bunga di meja kecil Ino, tak sekalipun berani menatap Hinata yang duduk berseberangan dengannya.

“Baiklah, menurutmu aku tak bisa membantumu mengubah aturan konyol itu?”
Hinata hanya terdiam dengan air mata yang beranak sungai.

“Tak perlu kau jawab. Aku memang tak punya kekuasaan besar seperti kazekage Gaara”
“Itu tidak benar,” kilah Hinata.
“Lalu yang benar itu apa?” sanggah Naruto.
Hinata menunduk. Matanya sudah memerah sejak tadi menangis.
“Aku sudah lama memikirkan ini. Dan tak ada harapan selain pernikahanku dengan Gaara,”

Kedua tangan kekar itu menggantung di sisi badan pemiliknya, bersamaan dengan menunduknya kepala Naruto sampai wajahnya tak terlihat lagi.

“N-Naruto-kun” Hinata bertanya, nada suaranya takut-takut dan ragu. Setelah beberapa saat, kepala penuh rambut pirang itu terangkat, hanya untuk memperlihatkan wajah yang kini dihiasi kesedihan yang mendalam yang mengakibatkan Hinata merasa jantungnya direnggut paksa.

“Jadi, bagimu aku ini apa…” tanya Naruto pelan dengan suara serak menahan pedih. Matanya begitu redup, tak ada cahaya seperti biasanya. “Seburuk apa aku di matamu, sampai kau tak ingin bersamaku…”

Naruto menggertakkan giginya dan mengepalkan tanganya kuat-kuat, sekuat tenaga berusaha menahan gejolak emosinya yang begitu menyiksa.

“Kau tahu, Hinata. Aku tak pernah meminta semua kekuatan ini. Aku tak pernah memohon agar Kyubi disegel dalam tubuhku. Aku hanya berusaha menerima kondisiku karena itu membuatku memiliki kesempatan untuk melindungi semua orang yang kusayangi. Jika boleh memilih, aku ingin menjadi orang biasa saja, menjalan hidup sederhana apa adanya,” Naruto diam sejenak, memberi jeda pada ucapannya.

“Saat tahu aku punya kekuatan ini, semua orang menjauhiku. Padahal aku tak pernah melakukan sesuatu yang buruk. Dosa apa yang telah kuperbuat sehingga harus dibenci layaknya makhluk terkutuk?”

“Naruto, tenanglah” hibur Ino yang menatap iba rekannya itu. Sai yang ada disampingnya hanya diam, menatap sendu sang putra Yondaime Hokage.

“Selepas mengalahkan Pain, semua penduduk desa tersenyum padaku. Apakah mereka hanya bersandiwara? Tanpa itu, apakah mereka akan terus membenciku sebagai orang yang disegel Kyubi yang telah menjadi salah satu kenangan terburuk bagi Konohagakure? Mungkin mereka menerimaku karena TERPAKSA,” Naruto memejamkan mata sejenak, berusaha menguasai emosi yang tengah bergemuruh dalam dadanya. “Jika aku shinobi biasa, mungkin perlakuan mereka tetap sama, tatapan yang menusuk dan ucapan yang pedas. Aku bukanlah siapa-siapa bagi siapapun, tak berarti di mata siapapun. Aku bukanlah Gaara, yang mendapatkan kepercayaan desa dan dicintai oleh semua penduduknya sebagai seorang Kazekage. Pantaslah kalau Hyuga memilih Gaara…”

“Hentikan ucapanmu, Naruto-kun…” suara Hinata memelas di antara derai tangisnya. Ia tak tahan dengan semua ocehan Naruto yang menusuk-nusuk hatinya. Kedua tangannya menutup erat telinganya.

“Jika dulu mereka mengucilkanku karena Kyubi, sekarang mereka menakutiku karena kekuatanku. Apa mereka hanya menganggapku seperti senjata yang harus diperlakukan baik-baik agar tidak berubah menjadi pengkhianat desa? Hahaha… tentu saja,” tawa Naruto terdengar menyayat hati, dadanya serasa remuk redam. Perasaannya sudah sebeku es. “Semuanya tak pernah berubah, tak pernah. Aku memang ditakdirkan untuk hidup diperlakukan seperti ini,”
Naruto melepaskan semua bebannya. Rasanya memang sangat menyakitkan, tapi ia tak bisa menghindarinya.

Sai memegang pundak Naruto, menepuknya perlahan. Berharap sang pemuda Kyubi itu bisa lebih tenang. Dia pun turut merasakan beban kepedihan yang dirasakan sahabatnya itu. Dari Naruto-lah ia belajar banyak hal tentang perasaan manusia. Senang, sedih, heran, kaget, senyum, tertawa, percaya diri dan peduli. Sesuatu yang sempat mati dalam hatinya sejak menjadi anak buah Danzo dulu.

“Hinata, kau benar. Kau seharusnya memilih Gaara, bukan aku. Tak ada seorangpun yang harusnya menemaniku. Aku hanyalah Jinchuiriki, manusia berbahaya yang menyimpan Kyuubi,” Setiap ucapan naruto terlepas bersamaan dengan sejumlah kesedihan tak tergambarkan. Pemuda itu membiarkan tubuhnya melemas bersandar di kursi, memejamkan matanya untuk mencoba pasrah.
“Aku tak pantas untuk siapapun, apalagi kau Hinata. Aku hanya seorang anak buangan, seekor monster. Aku hanya akan mencemari nama baik Hyuga,” Mata Naruto masih tetap terpejam.

“Berhenti bicara seperti itu…! Aku tak mau dengar lagi…” teriak Hinata sambil mengencangkan kedua tangannya di telinganya. Hanabi memeluk erat kakak tersayangnya itu. “Neechan, tenanglah…”

Ino yang sejak tadi turut menahan semua rasa di hatinya, juga ikut gregetan. “Naruto no baka. jangan berbicara seperti itu ke Hinata. Kau sangat melukainya,”

Naruto menatap lemah ke shinobi pirang itu. “Itu kenyataan Ino. Terus aku harus berkata apa? Berpura-pura bahagia di hadapannya?” kilahnya.

“Hatimu terbuat dari apa sih! Kamu tahu tidak! Sejak kita di akademi, Hinata sudah mengagumimu. Di antara shinobi Konoha, hanya Hinata kunoichi yang selalu bersikap sopan dan menghormatimu. Menganggapmu istimewa,…”

Naruto merenung. Ucapan Ino ada benarnya. Tapi itu tak merubah apapun dalam hatinya.
Untuk beberapa saat, yang bisa terlihat di ruangan itu hanyalah Naruto yang terpaku dan Hinata yang tersedu.

Hanabi mengulurkan segelas air putih ke Hinata. gadis Hyuga pun itu hanya mengecapnya dua tegukan. Perasaannya sudah lebih jauh tenang kini.

Hinata menghirup napas dan menahannya lama, kemudian perlahan menghembuskannya. Dengan suara yang dibuat setenang mungkin, ia berkata, “Naruto-kun, Asal kau tahu. Aku tak peduli kau adalah monster. Aku tak peduli kau seorang jinchuiriki. Biarpun semua orang membencimu, perasaanku akan selalu sama. Aku tak pernah melihatmu sebagai seorang sennin, sebagai anak Yondaime hokage, atau shinobi terkuat yang menjadi pahlawan desa. Bagiku, kau adalah Naruto yang tegar dan tak pernah menyerah. Naruto yang selalu tersenyum walau dilanda penderitaan sesakit apapun. Dengan senyuman itu, kau menyelamatkan aku, memberiku energi untuk bangkit dari keterpurukan karena dianggap keturunan Hyuga yang lemah. Hanya dengan melihatmu sudah cukup bagiku untuk bersemangat agar tak pernah menyerah berusaha menjadi lebih baik,”

Hinata menghela napas sekali lagi, mengumpulkan kembali keberaniannya berkata jujur kepada semua yang ada di ruangan itu, terutama pada pria berambut kuning.

“Aku menyukaimu karena itu. Jadi berhentilah bicara seakan-akan kamu tidak berarti bagiku…”
Gema teriakan Hinata dipantulkan dinding-dinding ruangan itu namun segera ditelan keheningan suasana. Air matanya terus mengalir. Sungguh, ia merasa lega seakan baru saja melepaskan beban berat yang selama ini mengganggu hatinya. Mengungkapkan perasaan bagi seorang gadis pemalu seperti dirinya tentu suatu yang sangat berat.

Naruto tercenung. Ia tak menyangka kalau selama ini dirinya sangat berarti bagi Hinata. Tapi sayang, di saat hatinya pun mulai merasakan kehangatan perhatian gadis itu, ia dihadapkan kenyataan pahit kalau sang gadis akan menikah dengan orang lain.

“Sudahlah, percakapan ini tak perlu dilanjutkan. Kau telah menyetujui pernikahan ini dan aku akan berusaha untuk menerimanya,” Naruto benar-benar pasrah.

Hinata yang sudah lemas sejak tadi menangis, berusaha untuk tegar. “Naruto-kun, aku terpaksa menerima pernikahan ini. Mengertilah…”

“Aku juga tak bisa berbuat apa-apa Hinata. Haram hukumnya meminang perempuan yang telah terikat perjanjian pernikahan dengan lelaki lain,” jawab Naruto pelan.

“Tak bisakah kau memperjuangkan perasaan kalian Naruto?!” timpal Ino. Pertanyaan yang ia sendiri juga tak yakin jawabannya.

Semuanya terdiam. Hingga suara Sai yang sedari tadi hanya menjadi pendengar coba memberikan pendapat, “Selama akad belum terucap, masih ada kesempatan Naruto. Misalnya pembatalan pernikahan dari salah satu pihak. Ya, sepertinya tidak mungkin terjadi. tapi, harapan itu tetap ada kan!” Sai menatap Naruto yang nampak tengah berpikir mencerna kata-katanya.

‘Membujuk Hyashi, sepertinya tidak mungkin, nilai tawarku rendah. Mungkin aku bisa menemui Gaara. Seandainya ia bersikukuh memilih Hinata, aku akan mengikhlaskannya. Setidaknya aku telah berusaha,’ batin Naruto. Sepertinya ia punya jalan sendiri untuk persoalan ini. Ia pun bangkit dan berdiri.
“Baiklah, aku akan berusaha….” ucapnya mantap.
“Apa yang akan kau lakukan, Naruto? jangan macam-macam kau!” bentak Ino.
“Mmm… Hinata, apakah ucapanmu saat kau serang Pain dulu masih berlaku?”
Gadis itu mengangguk dengan sangat pelan dan samar yang pasti tak akan disadari andai mata Naruto tidak terpicing pada si rambut biru itu. Naruto pun tersenyum tipis.
“Aku permisi. Assalamualaikum…” Naruto melangkah keluar diikuti tatapan cengok Sai dan Ino. Hinata hanya menunduk diam dengan manik yang terus berurai air mata.

—–

“Sensei, aku akan pergi ke Suna,” ucap Naruto tegas.
“Mau apa ke Suna?” Kakashi menangkap isyarat yang tidak wajar pada keinginan shinobi terkuat Konoha itu.
“Terserah. Kau memberikan ijin atau tidak, aku akan tetap pergi,”

Belum selesai kakashi bicara, Naruto langsung menghilang. Ah, hanya dia yang menguasai hiraihin.

Sai yang tergesa menemui Kakashi langsung berucap panik, “Hokage-sama, apakah Naruto kesini?”

“Iya, dia akan pergi ke Suna,”

“Gawat!”

“Sebenarnya ada apa ini?” Kakashi geram.

“Dia pasti akan meminta Gaara untuk membatalkan pernikahannya dengan Hinata. Aku khawatir akan menimbulkan konflik Suna dan Konoha…”

Kakashi berpikir sejenak. “Aku yakin Naruto tidak akan sebrutal itu menyerang Gaara hanya karena perempuan. Mereka telah bersahabat kan!”

“Tapi, hokage-sama, Naruto bisa berbuat diluar batas jika ia sedang emosi. Haruskah aku mengejarnya sekarang?”

“Tak perlu Sai. Dia pasti pakai hiraishin, kau tak akan sanggup mengejarnya. Lagipula, ada Shikamaru yang masih berada di Suna. Dia bisa mengendalikan Naruto jika kelewat batas,”

“Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Aku khawatir,”
kakashi mengangguk, memahami kekhawatiran Sai.

—-

Naruto memang ninja terbaik untuk melakukan hal-hal yang tidak terduga.
Apa yang akan terjadi di Suna? Apakah Gaara akan melepas Hinata atau mempertahankannya?

Bikin penasaran ya
Simak episode selanjutnya ya

Jangan lupa like dan share nya ya
Biar author juga semangat menulis chapter berikutnya

Arigatou minna….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *