Chapter 18 I’m Not Alone


Piece of Life
Chapter 18
_I’m Not Alone_

Angin sejuk menyapa lembut warga Konoha. Cuaca dingin mulai tergantikan dengan kehangatan. Perlahan, lapisan putih salju pun menganak sungai. Kuncup sakura bermunculan, mengawali musim semi tahun ini.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa pulang kembali,” ucap Naruto menatap gerbang Konoha yang tak jauh di hadapannya. Ia bergegas menuju kantor hokage untuk melaporkan misinya. Pasti senseinya itu akan uring-uringan karena ia sangat lambat kali ini.

Di ruang hokage….
“Mengapa terlambat sekali kau pulang, Naruto? Dengan kemampuanmu, seharusnya kau sudah di Konoha tiga bulan yang lalu,” pertanyaan orang nomor satu di Konoha yang sudah terbayangkan.
“Gomen, sensei. Aku terlambat pulang karena memilih jalur biasa. Anda tahu sendiri, Getsu sangat jauh. Aku harus beberapa kali ganti kapal menyeberangi pulau-pulau kecil sekitar Kumogakure. Sengaja tidak pakai hiraishin karena perintah ojiisan, biar bisa melihat banyak sisi kehidupan,” Putra Yondaime Hokage ini pun tersenyum.
“hah… Kalau bukan Hisao-san yang menyuruhmu, aku pasti akan memberikan hukuman atas keterlambatanmu…” Kakashi membuang napas besar menahan kesal. Naruto punya kedudukan tersendiri di Konoha. wajar, jika kehadirannya sangat diperlukan.
tok tok tok…
Tanpa permisi, seorang perempuan muda masuk membawa sebuah kotak makan. naruto mengernyitkan keningnya. ‘Siapa dia?’ batinnya.
Kakashi menangkap keheranan di raut muka muridnya itu. “Oh ya Naruto, perkenalkan. Ini, Hanare, istriku. Hanare, ini Uzumaki Naruto,”
“Salam kenal, Naruto-san. Rokoudaime hokage sering sekali membicarakan anda. Senang sekali bisa langsung mengenal pahlawan dunia shinobi,” Hanare membungkukkan badannya menghadap Naruto.
Naruto hanya diam terkesiap. Matanya terbuka tak berkedip
“Sensei, apakah ini sandiwara?”
Di balik maskernya, Kakashi tersenyum.
“Gomen, Naruto. Pernikahan kami berlangsung sangat cepat. Waktu itu, Konoha berkunjung ke Iwagakure. Skenario Allah yang menyatukan kami dalam dua hari pertemuan. Begitu kan, Hanare… ” Kakashi memandang lembut ninja medis yang telah menjadi pendamping hidupnya itu.
“Gomennasai Naruto-san. Pernikahan kami memang berlangsung cepat dan sederhana. Karena beberapa hal, tidak bisa menunggu kepulangan Anda. Mohon Anda memaklumi,”
Naruto yang sejak tadi berojigi berusaha menguasai diri.
“Kalian membuatku kaget t-tebayo. Meskipun terlambat, aku ucapkan Selamat untukmu, sensei. Aku benar-benar tidak menyangka, akhirnya kau memutuskan masa doujinshimu,” Naruto terkekeh sendiri mengingat betapa sulitnya Kakashi berhubungan dengan kunoichi manapun sejak kematian Rin, teman setim sekaligus wanita idamannya dulu.
“Ehem,” Kakashi berdehem sejenak, memberikan kode bagi Naruto agar tak meneruskan ucapannya. “Selama kau pergi, memang tidak terjadi perang, tapi banyak kejadian. Bersiaplah, Naruto! Kuharap jantungmu baik-baik saja,”
“Ada apa lagi, sensei? Aku hanya pergi 3 bulan tapi seperti bertahun-tahun,” Naruto penasaran. Apa yang telah terjadi di Konoha sejak ia pergi ke Getsu? Ia jadi teringat perkataan Kakashi sebelum ia berangkat menyelesaikan misi.
“Hmm… Sebaiknya, temuilah teman temanmu. Aku sudah lapar sekali, mau menikmati makan siang ku dulu,” tanpa menawarkan ke Naruto, Kakashi langsung membuka kotak bekalnya. “Mmmm… baunya sedap sekali.”
Kakashi melirik Naruto yang masih bengong di tempatnya. Oh tidak, tepatnya wajah polos itu sangat menginginkan makanannya. Lihat saja, air liur hampir saja merembes keluar dari mulut si rambut jabrik kuning itu. “Aku tidak akan membaginya denganmu, Naruto,”
“Dasar kau, sensei. Pelit. padahal, aku sebenarnya ingin melihat sensei makan karena ingin melihat wajah dibalik masker itu….” goda Naruto yang masih saja penasaran dengan raut muka gurunya.
“Narutoooo….” Deathglare, Kakashi menatap tajam ke arah sang Jinchuiriki. Hanare hanya terkikik geli melihat kekonyolan dua lelaki itu.
“Baiklah… Baiklah… Aku pergi sekarang sensei. Selamat menikmati masakan istrimu… Sayonara, sensei. Assalamualaikum,” naruto nyegir sejenak lalu menghilang di telan kepulan asap putih.
‘Tetap saja, kau sangat menyebalkan Naruto. tapi aku suka orang sepertimu,’ batin Kakashi seraya menyunggingkan senyum di balik maskernya.

—-

Ada beberapa hal yang membuat Konoha sangat istimewa bagi Naruto. Salah satunya, ya ramen ichiraku. Naruto sangat menggilai masakan yang satu itu.

“Oii,… Naruto. Sudah kembali ke desa, hah?” Chouji tiba-tiba menepuk pundak Naruto pelan. Di tangannya juga sudah memegang satu mangkok ramen ukuran jumbo.
“Alhamdulillah, baru sampai tadi siang,” jawab Naruto asal. Mulutnya masih penuh dengan makanan bertekstur bulat pipih panjang itu. “Tumben, sendirian. Timmu kemana?”
“Tim yang mana?”
“Ya, tim delapan lah. Memang ada pergantian tim? Nggak kan!”
“Kondisi memang berubah Naru. Sejak pernikahan Ino dan Shikamaru, tim 8 belum bisa diformasi ulang,”
“Apa? Pernikahan siapa?” Atensi Nauto langsung teralihkan dari ramennya.
Dengan santainya, Chouji melanjutkan acara makannya. Ramen enak dimakan saat hangat bukan…
“Ino menikah dengan si muka pucat itu. Shikamaru menikah dengan kunoichi garang dari Suna. Dan Aku masih disini, senasib denganmu,”
“Apa kau bilang? Kau tidak bercanda kan!” Naruto mengguncang lengan Chouji yang duduk tepat di sampingnya itu.
“Ya, begitulah. Jodoh tak bisa ditolak kan…”
Untuk sesaat, Naruto hanya ber-ooo ria. “Ya Allah, benar-benar kejutan. Sai dan Shika, mereka benar-benar nekad…”
Kini, wajah Naruto tampak sumringah. Sungguh, ia tidak menyangka kabar tak terduga ini. Misi terakhir bersama Sai dan Shika ketika dia harus menyelamatkan Hanabi dari Toneri. Selama perjalanan itu, tidak pernah mereka berbincang menyinggung pernikahan. ‘Awas ya kalian, aku akan paksa bercerita!’ Batin Naruto geram.

Di saat Chouji dan Naruto masih assyik menghabiskan sisa-sisa ramen mereka, muncullah dua orang shinobi ke kedai itu.
“Naruto, kamu sudah pulang ya. Aku lihat tadi dari luar. Jadi aku mampir sejenak kesini menemuimu,”
“Eh, Sakura-chan. Duduklah. Mm, kalian jalan bareng?” Naruto melirik ke orang di samping kunoichi yang suka warna pink itu.
“Hn..” masih saja pelit bicara.
“Oi, teme. Sedang sariawan ya?” goda Naruto melihat rivalnya yang tampak menyembunyikan sesuatu. Seperti biasa, hanya mendapat tatapan tajaman dari mata onyx itu.
“Ehh…pengantin baru, ngapain makan ramen disini?” timpal Chouji.
“Emang nggak boleh, wekk” balas Sakura sembari menjulurkan lidahnya ke arah pemilik nikudan sensa jutsu itu.
“Apa? Pengantin baru?” lagi-lagi telinga Naruto mendengar tema yang sama seharian itu.
“Ini, Sasuke dan Sakura juga sudah menikah bulan kemarin,” jawab shinobi bertubuh tambun tapi marah jika disebut gendut itu.

“Kalian tidak sedang bergurau, kan. Sasuke… Sakura…” Manik biru laut itu menatap bergantian ke arah sepasang shinobi yang duduk di depannya.
Dengan rona merah yang menghiasi pipinya, Sakura berujar, “Etto, benar Naruto. Alhamdulillah,”

Naruto bengong sesaat. Ia bangkit menghampiri Sasuke. Pemilik rinnegan ini pun juga turut berdiri.
Keduanya tengah saling menatap dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh orang lain. Bercakap lewat dunia lain.
1 detik
2 detik
5 detik
10 detik
Naruto menubruk tubuh Sasuke dan memeluknya erat.
“Barakallah, teme. Akhirnya hidupmu tak sendiri lagi. Aku sangat bahagia dengan pernikahan kalian”
Sungguh, Naruto sangat tahu tentang arti kesendirian itu, seperti halnya sang bungsu Uchiha. Dan mereka telah melalui banyak hal sehingga bisa berbagi rasa sepi. Tentu, Sasuke pasti harus punya keberanian berlebih saat memutuskan untuk berkeluarga.
“Dan rasanya kau tidak perlu berteriak saat mengatakannya, Dobe….” jawab Sasuke asal. Tentu saja, perkataan Sasuke membuat Naruto jengkel. Ia tengah berusaha membuat suasana haru tapi jadi gatot kan.

“Kali ini kau menang, Teme,” Naruto mengepalkan tangan dan beradu tos dengan Sasuke, pelan.
Di muka yang sejak tadi datar, ada seulas senyum yang terukir di wajah Sasuke.
“Naruto, k-kau baik-baik saja?” Sakura sedikit cemas dengan Naruto.
“Ayolah Sakura, aku baik-baik saja. Dulu, aku pernah berjanji kepadamu kan, akan mengembalikan Sasuke ke desa. Dengan segala resikonya. Itu janji seumur hidupku. Alhamdulillah, Allah masih menjaga suamimu ini ke jelan yang benar. Kini, aku tak perlu khawatir lagi. Jaga sahabatku baik-baik ya Sakura-chan. Jika ia berbuat sesuatu yang menyakitimu, bilang saja kepadaku. Aku orang pertama yang akan menghukumnya. Ingat itu, Sasuke…!”
“Arigatou, Naruto,” Sakura tersenyum. Ia sangat senang jika persahabatan Naruto dan Sasuke tidak berubah karena pernikahannya.

“Baiklah, sebagai hadiah pernikahan, aku traktir kalian makan ramen,” ucap Naruto bersemangat.
“Hah… Hadiah macam apa itu?” Sakura bersungut kesal. Sasuke hanya menggelengkan kepala lihat kekonyolan itu.
“Salah sendiri, nikah nggak kasih undangan. Wekk…” Dengan tidak elitnya, Naruto menjulurkan lidahnya ke arah Sakura. Kalau tidak ingat sedang bersama suaminya, Sakura pasti sudah membalas perlakuan sahabat bakanya itu dengan pukulannya yang mematikan.
“Berarti, aku juga bisa makan ramen lagi kan Naruto. Alhamdulillah. Paman, ramen jumbonya tambah ya!” saut Chouji memanfaatkan kesempatan.

“Kalian tinggal dimana sekarang, Teme?”
“Di Naka shrine,”
“Baguslah, biar rumahmu tak seperti kuburan,”
“Hn… Berkunjunglah jika ada waktu..”
“Tentu saja t-tebayyo…” Naruto tersenyum dengan cengiran khasnya.
“Mmm… Naruto, untuk pernikahan Hinata, kau akan memberikan kado apa? Jangan bilang kalau traktir ramen juga ya. Awas, kau!” Sakura mendelik ke arah Naruto.

Naruto jengah. Sejak tadi bertubi-tubi dia mendengar berita pernikahan rekan-rekannya. Dia merasa baru datang dari misi berabad-abad lamanya dan semuanya telah mendahuluinya berkeluarga tanpa ada yang memberinya undangan pernikahan. Apa sekarang memang musim kawin ya! Huh.. sebal.. Tapi, tunggu. Tadi siapa yang akan menikah? Benarkah Hinata??!!!

“Apa yang kau bilang tadi Sakura? Aku tak jelas mendengarnya…”
Tetiba Naruto terdiam. Ia berharap telinganya salah. Ia tak ingin nama itu yang disebutkan Sakura tadi.
“Oh iya, kamu pasti belum mendengarnya ya. Mmm… Hinata akan menikah dengan Gara. Kira-kira duapuluh hari lagi. Setelah perayaan Hanabi musim ini. Benarkan, Chouji?” ucap Sakura sambil terus menikmati teh ocha di gelasnya.
Yang ditanya pun hanya menganggukkan kepala. Mulutnya masih penuh dengan ramen.
Sasuke menyenggol lengan istrinya pelan. Sakura menoleh ke arah Sasuke dan mengikuti pandangannya ke arah yang ditunjuk shinobi kuat Konoha yang telah menjadi suaminya itu.
Kondisi Naruto berubah drastis. Semula tampak ceria dan hangat, menjadi murung. Giginya digertakkan keras-keras hingga saling gilas.

“Ohh…” Naruto menunggu dalam diam, dengan tangan tergantung lemas di samping tubuhnya

Sakura menatap wajah sang pemuda Kyubi, memgernyit sedikit ketika ia merasakan aura kekecewaan yang sama sekali tak disembunyikan. Gadis musim semi ini pun menunduk, merasa bersalah sudah mengabarkan berita yang begitu menyakitkan bagi Naruto. Iapun memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan tekad, dia terenyum ramah untuk menyemangati rekannya itu. “Oh, ayolah Naruto, jangan menekuk wajahmu begitu,”

“Dobe,…” Sasuke berucap pelan, Tak tahu harus berkata apa untuk menghibur Naruto. Ia sendiri tidak terlalu memahami hubungan sahabat bakanya dengan gadis Hyuga itu.

Chouji hanya menatap kasihan kepada Naruto. Mulutnya seakan terkunci.

“Mmm…Naruto, Allah pasti akan memberikan jodoh terbaik untukmu. Sabar, ya!” Sakura bersuara lirih, berusaha memecah keheningan yang tercipta.

“Ya, tentu saja…” jawaban yang luar biasa pelan itu malah membuat mereka bertiga bergidik, suara penuh kemurungan itu adalah sesuatu yang sama sekali tak mereka sangka bisa keluar dari shinobi yang semula selalu nampak ceria.

“Aku permisi dulu. Aku akan bayar semuanya. Assalamualaikum…” Naruto berdiri dan membayar semua tagihan makanan.
“Waalaikumsalam….” ketiga shinobi yang tersisa membalas salam Naruto bersamaan.
Sakura bangkit dan berniat untuk menghampiri Naruto lagi. tapi niatnya dicegah suaminya. “Biarkan ia sendiri dulu, Sakura,” ucap Sasuke.

Mereka hanya bisa melihat kepergian Naruto dalam diam, memperhatikan bahunya yang merosot seperti tak ada semangat hidup dalam pahlawan desa itu. Baru setelah sosok orange itu menghilang, Sakura memberanikan diri berkata panik, “Bagaimana ini Sasuke?”
“Kau pikir aku tidak bingung!” Sasuke memiijt pelipisnya. Dia tak habis pikir apa yang bisa membuat sang Sennin muda yang secarah matahari itu tiba-tiba berubah segelap gerhana.

“Seberapa dekat hubungan Naruto dan Hinata?” tanya Sasuke.
“Sepertinya mereka saling menyukai. Eh tidak, Hinata yang mengagumi Naruto sejak lama meski tak pernah berbalas. Dan kupikir, Naruto mulai mengakui keberadaan Hinata saat ini. Kau tahu sendiri kan, si jabrik kuning itu tidak pernah tertarik dengan perempuan sejak dulu, sama seperti kamu,…” Sakura menyenggol pelan lengan suaminya.
“Itu dulu…” balas Sasuke. Dahulu, yang ada di kepalanya hanyalah obsesi untuk mengalahkan kakaknya, Itachi. Dan Naruto, ia berusaha keras untuk diakui warga desa dan meraih mimpinya sebagai hokage.
“Ini Masalah serius. Naruto benar-benar membuatku khawatir,” ucap Sakura resah. Ia tak pernah melihat pemuda Kyubi itu seperti ini.
“Benar, sikapnya itu seperti berkata kalau dia bisa bunuh diri kapan saja” kata Chouji cepat.
“Kamu jangan membuatku takut Chouji,” sentak Sakura.
“Naruto tidak akan bertindak bodoh seperti itu,” timpal Sasuke.
Ketiganya kembali terdiam dan akhirnya memilih untuk bubar.

—–

Sesampainya di apartemen, Naruto segera membersihkan badan, wudhu dan sholat Dzuhur. Kesedihan masih terukir jelas di wajahnya. Ia sendiri tidak begitu menyadari, mengapa ia kecewa dengan pernikahan Hinata dan Gaara? Hinata bebas menentukan pendamping hidupnya, tak ada sangkut paut dengannya. Ia mengacak rambutnya kasar, frustasi. Mencoba untuk menghirup udara dan menghembuskannya pelan. Diraihnya AlQuran kecil yang menenami kemanapun ia pergi. Dengan suara pelan, ia mulai bercengkerama dengan ayat-ayat suci itu, berharap Allah memberinya ketenangan hati.

Hingga lepas Isya, Naruto hanya tilawah. Malam itu, ia merasa seperti di dalam neraka dan sangat menyiksa.
Tubuh yang terasa penat dan butuh istirahat tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk memaksa matanya agar terpejam. Kehangatan selimut dan futon tak dirasakan tubuhnya, melainkan dingin yang tiada kentara dan hanya tersisa dalam dada. Tubuhnya tak menggigil, tapi hantinya membeku. Bibirnya tak membiru tapi wajahnya sepucat abu. Jika ada yang melihatnya, mungkin mereka akan bertanya, masih adakah nyawa dalam tubuh itu?

Kesepian dan naruto bukanlah dua hal yang asing karena mereka sudah berteman jauh hari sejak Naruto hadir ke dunia ini. Dalam kesendiriannya, Naruto bukanlah apa-apa. Dia kembali menjadi anak kecil yang dulu selalu dijauhi oleh setiap orang karena dianggap bocah iblis. Tanpa suara, ada dua aliran air mengucur dari matanya, tangisan Naruto adalah sebuah isakan batin. Ratapannya sebuah raungan nurani yang sunyi, tak terdengar oleh siapapun kecuali Allah sendiri.

Dia tak berteriak dan meraung bagaikan orang yang kehilangan kaki atau tangan. Dia hanya diam dan diam. Sangat diam sampai keberadaanya diragukan. Keceriaan yang dulu selalu menular pada siapapun yang berada didekatnya seolah sirna ditelan bumi. Cengiran ramahnya yang mampu membuat orang-orang ingin tersenyum bersamanya kini tenggelam dan mencemari angkasa, langit dan awan yang kelabu adalah buktinya. Tak ada satu bintang pun disana.

“Ya Allah, ingatkan aku untuk tidak merasa sendiri, Karena Engkau akan selalu disini,” ucap Naruto lirih sambil memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.

=====

Hiks hiks….
Sedih banget yang nasib Naruto. Apakah benar Hinata akan menikah dengan Gaara? Menurut reader, lebih seru mana, pairing Naruhina atau Gaarahina? Tulis di komen ya…

Ikuti terus keseruan kisah Naruto versi santri ini.
Jangan lupa klik like komen dan share ya, biar semangat author-nya
??
Arigatou minna…
Jaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *