Chapter 16 Tsudzukenakereba naranai


Piece of Life
Chapter 16
_Tsudzukenakereba naranai_

Salju semakin tebal. Dingin yang menusuk tulang tak membuat para shinobi itu bergelung di bawah selimut. Masih banyak yang harus diselesaikan. Karena shinobi adalah orang yang menanggung beban.

“Kalian sudah menunggu lama? Gomen, aku harus membantu seekor burung keluar dari sarangnya,” ucap Kakashi asal begitu memasuki ruang kerjanya.
Naruto dan Sasuke yang duduk di sofa mendengus kesal. Sudah terlalu hafal dengan polah senseinya. Selalu saja terlambat menepati janji. Dan pasti ada seribu alasan yang tak masuk akal.

Naruto memakai baju hitam lengan panjang dengan simbol klan Uzumaki di bagian punggungnya. Celana orange dihiasi dua garis putih di sebelah kanan. Sasuke sendiri memakai setelan hem abu-abu dan celana biru azure.

“Gomen, aku harus memberikan misi ini segera. Aku harap kondisi kalian baik-baik saja,”
“Tak masalah, sensei. Kami siap. Benar kan, Sas?”
“Hn…”
Pemilik rambut perak ini memandang kedua muridnya itu. Ahh… kemampuan mereka tak perlu diragukan. Ia pun membuka beberapa dokumen yang telah tersedia di atas mejanya.
“Sasuke, aku minta kau pergi ke wilayah Roran. Ada informasi pergerakan akatsuki yang mencurigakan di sebuah kuil Jashin. Segera laporkan hasilnya jika sudah terdeteksi.”
“Haik…”
Sasuke mengambil gulungan misi yang diberikan Kakashi. Membaca dengan teliti semua tulisan yang tertera. Otaknya bekerja untuk menghubungkan semua hasil investigasiya selama ini.

“Naruto, pergilah ke daerah Getsu. Pemimpin mereka meminta tolong agar Konoha bisa membantu mengatasi permasalahan disana…”
“Getsu? jauh juga sensei…”
“Karena itulah, aku memintamu untuk menyelesaikan misi ini. Dengan hiraishin, kamu bisa mencapai wilayah itu dengan cepat,”
“tapi hiraishin tak bisa dipakai tanpa segel terlebih dahulu?”
“Tenang saja. Kunai tersegel seperti yang dimiliki Minato sensei ada di Getsu. Seorang alim ulama mendapatkannya dari touchanmu sendiri saat ia berkunjung kesana,”
“Siapakah dia sensei?”
“Menurut Hiruzen-sama, beliau salah seorang sannin hebat yang mengajari Minato sensei. Hanya saja ia lebih memilih mundur dari dunia shinobi. Jika beruntung, kau pun bisa belajar juga….”
“baiklah sensei. Apa yang terjadi disana?”
“Ada missing-nin yang mencuri gulungan segel batu hitam. Dengan segel ini, ia bisa berubah bentuk menjadi siapa saja yang disentuh. Mirip dengan zetsu putih akatsuki yang menyerang Konoha dulu. Hingga saat ini, ia telah menyerupai beberapa petinggi desa dan mengacaukan pemerintahan. Daimyo juga sudah dikurung dengan segel bulan. Sepertinya kekuatan missing-nin ini tak bisa diremehkan,”
“Begitu ya…”
“Dengan sage mode, kamu bisa lebih mudah mendeteksi missing-nin yang menyamar ini…”
“Mmm..”
Kakashi menyerahkan gulungan misi itu ke Naruto. Dengan kening yang berkerut, sang jinchuiriki itu mencoba menelaah permasalahan yang ada.

“Ada lagi informasi lainnya, Hokage-sama?” tanya Sasuke.
“Tidak ada. kau bisa berangkat sekarang…” jawab kakashi singkat.
“haik…” Sasuke melangkah keluar ruangan. “Aku duluan, Dobe. jangan sampai aku pulang lebih cepat darimu,” tantangnya.
“Jangan berharap, Teme… Aku akan mengalahkanmu…” Naruto menunjuk tajam ke arah shinobi berambut raven ini. Lalu tergelak.
Kakashi hanya menggelengkan kepala melihat ulah anggota tim 7 itu. Sejak kecil, Naruto selalu berusaha untuk menyamai Sasuke. Rivalitas yang membuatnya terus berusaha hingga menjadi shinobi terhebat di Konoha saat ini.

“Kakashi sensei, bagaimana membuka segel bulan itu? Aku tak yakin bisa mengatasinya….”
“Segel bulan hanya bisa dibuka dengan kunci khusus klan Hyuga. Aku sudah meminta Hiashi-sama untuk meminjamkannya untukmu,”
“Shouka… Yosshh… Bisa aku berangkat sekarang?”
“Tidak. tunggu nanti siang. Kunci segel bulan harus diisi cakra Hyuga dulu. Sekitar jam 3, ambil kunci itu di manshion hyuga sebelum berangkat…”
“Baiklah… kalau begitu aku pulang dulu sensei. Apartemenku rusak berantakan. Mungkin aku akan memanggil seorang tukang untuk memperbaikinya,” Naruto beranjak pergi.
“Naruto, ada yang ingin kutanyakan padamu….” Kakashi bersandar di kursi kebesarannya. Naruto yang sudah di ambang pintu terpaksa balik kanan. Berdiri di depan meja orang nomor satu di Konoha itu.
“Ada apa sensei?”
“Shikamaru menceritakan kondisimu saat di bulan kemarin. Ada apa?”
Naruto menunduk. Ia menyadari arah pembicaraan orang yang tidak hanya menjadi senseinya, tapi juga kakak dan sahabat yang mengerti tentang kehidupannya. “Tidak ada sensei.”
“Kau bukan orang yang pandai berbohong Naruto,”
Entahlah, Naruto tak ingin membicarakan itu sekarang.
“Aku bisa membantumu, jika kau menginginkannya,” kakashi tersenyum lembut, tentu saja tak terlihat. Masker itu selalu menutupinya. Dalam hal ini, ia sendiri juga belum berpengalaman. Tapi setidaknya ia merasa jauh lebih dewasa dari muridnya itu.
Naruto terdiam. Terlihat beban berat di raut mukanya. Ia menghela napas. “Sudahlah, sensei. Aku sedang tidak ingin membahasnya.”
“Apa kau yakin?”
Naruto mengangguk pelan.
“Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Allah akan memberikan yang terbaik. Mungkin, akan terjadi banyak hal setelah ini. Bersiaplah…”
“Apa maksudmu sensei?”
“Hanya firasat… Lebih baik kau segera mempersiapkan diri,”
“Aku permisi sensei. Assalamualaikum,” Naruto pamit undur diri dan segera menghilang dari balik pintu.
“Waalaikumsalam,…” Kakashi menatap kepergian anggota tim 7 itu. ‘Apapun yang akan terjadi, Naruto pasti kuat melewatinya. Aku akan terus mendukungnya, Minato sensei,’ gumamnya dalam hati.

—-

“Shikamaru Naraaa… bangunnnn!” teriak Yoshino dibalik pintu kamar anaknya itu.
“Masih pagi, kachan. Aku masih ngantuk,”
“Ini sudah siang, bakaa…”
“Hari ini aku tidak ada misi. Jadi, biarkan aku istirahat dulu,” Shikamaru merapatkan selimutnya.
“Bagaimana kachan bisa dapat menantu kalau kamu malas seperti itu. Bangun sekarang! Atau kachan dobrak pintu ini!” suara Yoshino masih menggelegar.
Nyali Shikamaru langsung menciut. Ancaman kachannya tidak bisa dianggap main-main. Sudah berapa kali pintu kamarnya menjadi korban. Dengan bergegas, ia melemparkan selimut itu sembarang arah dan melangkah keluar.
“Iya iya, aku bangun….” tampang malasnya menyembul dari balik pintu.
“Bangun pagi. Abis subuh jangan tidur lagi. nanti rejekimu dipatok ayam…”
“Disini nggak ada ayam, kachan. jadi rejekiku aman…” kilah Shika.
pletak….
“Ittai… kenapa kachan memukul kepalaku!”
“Dasar bocah… Itu ada Chouji dan Ino di bawah mencarimu. Cepat sana…”
Dengan langkah berat, Shika menyeret langkahnya turun ke lantai bawah.
“Oii, minna… Kalian mengganggu tidurku saja. Mendokusai..”
“Dasar pemalas. Shinobi macam apa kamu ini, tidur terus!” bentak Chouji.
“Dan kamu, shinobi macam apa, makan terus!” timpal Shika melihat rekan setimnya yang tak pernah melepaskan kripik kentang di tangannya.
“Makan itu kebutuhan hidup, hah….” Chouji membela diri. Ia langsung mendengus kesal. Kripik terakhir yang tersisa di tangannya baru saja masuk mulutnya.
“Sudah, pagi-pagi malah bertengkar. Oii, Shika… Pimpinan akademi ninja mencarimu. Persiapan ujian chunnin sempat tertunda karena serangan meteor kemarin,…” lerai Ino Yamanaka.
“Mendokusai. Baiklah, aku akan ke akademi sekarang. kalian mau kemana?”
“Menemui sakura. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan di rumah sakit,”
“Ok. Pergilah. Aku ganti baju dulu,” ucap Shika.
Ino dan Chouji langsung pamit meninggalkan kediaman Nara.

—–

Sai mengamati lembaran yang dipegangnya. Sebuah logo dengan bentuk yang tak biasa. Sudah dua jam lebih berada di Ruang Sandi, ia tak juga menemukan makna gambar yang ditemukan di bekas kuil Akatsuki.
“Bagaimana Sai-san?”
“Entahlah, aku belum tahu artinya. Di dokumen ANBU, aku belum pernah melihat logo ini. Aku akan berdiskusi dengan Shikamaru, mungkin ada petunjuk,”
“Baiklah. Silahkan jika Anda ingin istirahat dulu,”
Pemuda Shimura ini pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju akademi. Ada beberapa gulungan di perpustakaan yang harus ia baca untuk mencari petunjuk tentang logo rahasia tadi.

—-

Selepas Dzuhur, Naruto berbaring sejenak di tempat tidurnya. Seorang tukang kayu telah selesai memperbaiki kerusakan atap apartemennya. Ayame membantunya membersihkan isi rumah yang berantakan. Masih ada waktu sekitar 115 menit sebelum jam tiga. Lumayan untuk menikmati kasur yang mungkin akan ditinggalkannya beberapa bulan lagi.

Nggak sampai satu jam istirahat, ada yang mencarinya.
tok
tok
tok

Dengan malas Naruto membuka daun pintu.
“Assalamualaikum, Naruto-san…”
Seorang genin muncul dengan wajah berseri.
“Waalaikumsalam. Ada apa?”
“Nona Sakura menunggu anda di rumah sakit. Katanya, anda harus memeriksakan kesehatan dulu sebelum berangkat misi sore ini,”
“Baiklah. Sankyu,”
Shinobi muda itu pun langsung pamit.

Naruto bergegas mandi lalu mempersiapkan diri untuk misi. Dan periksa kondisi tubuh menjadi hal yang tak boleh dilewatkan, daripada disemprot Sakura.

—-

“Baiklah, Naruto. Saat ini kau sedang sehat. Kudengar kau ada misi sore ini?” ucap Sakura yang telah selesai memeriksa Naruto.
“Mmm. Ke Getsu…”
“Jauh sekali. Mungkin akan perlu waktu beberapa bulan ya,”
“Begitulah. Sasuke juga sudah berangkat misi tadi pagi,”
“Iya. Tadi dia menemuiku sebelum berangkat….”
“ehemm…ehemmm…” Naruto tersenyum jahil melihat Sakura yang tersipu.
“Apa kau?!” Mata Sakura melotot, menatap tajam ke rekan satu timnya itu.
“Tidak. Aku berharap Sasuke punya keberanian untuk segera me…..” belum selesai bicara, naruto memegangi kepalanya. “Ittaaiii. Kenapa memukulku, Sakura-chan?”
“Naruto no-baka. Sasuke tadi juga datang untuk cek-up kesehatan. Jangan bicara macam-macam. Awas kau!” Sakura mengepalkan tangannya di hadapan Naruto. dan langsung pergi meninggalkan rekannya sendirian.
“Dasar, tsundere,” umpat Naruto pelan, nyaris tak terdengar.

‘Hubungan kalian semakin membaik. Aku turut senang Sakura-chan. Tak sia-sia aku mengambil resiko untuk membawa Sasuke kembali. Karena itu adalah janjiku padamu. Semoga kalian segera dipersatukan,’ bisiknya dalam hati.

Dulu, dadanya sering merasa sakit saat melihat Sakura memberikan perhatian yang besar pada Sasuke. Karenanya ia terus mengejar Sasuke agar sepadan dan Sakura bisa mengakuinya. Tapi kini, ia hanya berharap yang terbaik untuk kedua rekannya itu. Ada ruang lain di hatinya yang memberikan kebahagiaan tersendiri. Entah apa. Tapi itu sangat ampuh membunuh rasa kesepian dalam hidupnya selama ini.

Hampir jam 3. Naruto melangkah ke manshion Hyuga. Seorang pelayan menyambutnya di pintu gerbang.
“Tunggu sebentar, Naruto-san. Hinata-sama akan segera menemui Anda,”
Naruto mengangguk. Ia berdiri dengan bersandar pada tiang kayu di teras depan kediaman megah itu. ‘Hanya sebentar, tak perlu masuk ke dalam,’ pikirnya.
“Naruto-kun….” suara yang sangat akrab di telinga pahlawan desa ini. “Ini kunci segel bulan. Kami telah mengisinya dengan cakra Hyuga. Tadi pagi Hokage-sama memintanya untukmu,” Hinata menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
Naruto menerima barang itu dan langsung memasukkannya ke dalam ranselnya.
“Arigatou, Hinata,”
“Mau berangkat sekarang?”
“Mmm…” Naruto sudah balik kanan untuk segera pergi.
“Kapan kamu akan pulang, Naruto-kun?” tanya Hinata spontan. Naruto menoleh, menatapnya sebentar dan tersenyum ramah. “Ehh..ups.. gomen,” Hinata menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia malu banget sudah bertanya seperti itu pada Naruto. tak seharusnya ia menanyakan hal itu. jadi terkesan ada kekhawatiran Hinata pada kepergian Naruto yang memang sudah terbiasa menjalankan misi.
“Mungkin 2-3 bulan. Kenapa?”
“Mmm. Tidak apa-apa…” wajah Hinata bersemu merah muda.
“Baiklah. Aku pergi dulu, Hinata. Assalamualaikum,” Naruto tersenyum sekilas dan langsung menghilang dari hadapan Hinata.
Gadis Hyuga ini pun hanya berdiri termangu.

====

Sampai disini dulu ya
Di chapter berikutnya, Sasuke akan bertemu dengan seseorang yang memberikan pencerahan luar biasa untuk jalan hidupnya. Sama halnya dengan Naruto. Selain harus menghadapi missing-nin dengan kemampuan lumayan, ia berjumpa dengan sensei touchannya. Apakah ia akan mendapatkan jutsu baru?

Simak di chapter berikutnya, minna

Jaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *