Chapter 15 Kimyona Hatobito

Piece of Life
Chapter 15
-Kimyona Hatobito-

Inryo-ten
Tampak Sai, Shika dan Naruto tengah menikmati minuman botol putih ditemani semangkuk udon hangat. Sementara di luar, lapisan putih salju yang tipis mulai menutupi tanah dan tumbuhan.

“Alhamdulillah, akhirnya bisa makan enak… itadakimasu…” Naruto langsung menyantap hidangan yang tersaji.
“Itadakimasu…” Sai dan Shika menimpali.
Baru satu suapan, ada yang menepuk pundak Naruto pelan.
“Dobe…”
“Oi teme,” balas Naruto tanpa menoleh, masih asyik dengan acara makannya.
“Makan lebih penting ya daripada ketemu sahabat,”
“Hn,…”
Huhh… sebel. Sudah dicuekin, kata-katanya dipakai pula. Sasuke langsung duduk di samping Naruto.
“Ngobrolnya nanti dulu. Aku traktir ya,” kali ini Naruto memandang wajah Sasuke yang tertekuk.
“Paman, tolong bawakan satu lagi ya,” pintanya pada pelayan yang bergegas mengantarkan pesanan.

“Cepat banget makannya. Doyan atau kelaparan sih, Nar?!” sindir Sai
“Dua-duanya t-tebayo…” Naruto ketawa lima jari.
“Oi, teme. Kapan pulang ke desa?” tanyanya kemudian.
“Kemarin, pas serangan meteor bulan…”
“Alhamdulillah, kamu datang di saat yang tepat Sasuke,”
“Itu sudah janjiku. Ingat!”
Naruto mengangguk dan tersenyum menatap sahabat sekaligus rival abadinya itu.

Sejenak, mereka ngobrol ringan. Melepas kepenatan setelah menyelesaikan misi rank SS. Hanya di tempat umum seperti inilah para shinobi bebas bercanda. Sangat jauh suasananya jika sedang berada di kantor hokage atau markas.

Sementara itu, beberapa shinobi yang lain nampak sibuk mengatur warga yang berniat kembali ke rumah masing-masing. Keadaan sudah aman terkendali, tak perlu berlama-lama di bunker pertahanan.

“Alhamdulillah, sepertinya kondisi desa sudah aman. Aku mau pulang. Ada yang mau ikut?” tawar Naruto.
“Mendokusai. Mending tidur lelap di kamarku sendiri,” jawab Shika yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.
“Apartemenku jauh lebih bersih dan nyaman untuk dipakai istirahat,” timpal Sai yang mengekor Shika, mereka searah.
Naruto mengangkat sebelah alisnya menatap Sasuke.
“Hn…” Si bungsu Uciha hanya mendengus pasrah. Sudah lama keduanya tidak bertemu. Pasti banyak hal yang bisa dibicarakan. Mereka pun berjalan menuju apartemen Naruto.

Tak lama kemudian, sampailah kedua sahabat ini di tujuan. Menatap apartemennya yang mengalami kerusakan di bagian atap, membuat Naruto hanya menggelengkan kepala.
“Teme, sepertinya aku malam ini harus menginap dulu di tempatmu,”
“Hn,…” Untuk kedua kalinya Sasuke mendengus pasrah dengan keadaan.
“Sankyu t-tebayo…” Naruto memukul pelan lengan Sasuke.

—-
Kediaman Nara

“Tadaima…” Shikamaru memasuki rumahnya. Pintu terbuka, ada beberapa pelayan yang sibuk membersihkan rumah.
“Okaeri tuan Shika…”
“Dimana kachan?” Kebiasaan si Nara, setelah pergi dari manapun, yang dia cari pertama kali adalah ibunya. Biarpun sangat cerewet, tapi ia sangat menyayanginya. Semenjak kematian ayahnya, wanita paruh baya itulah yang menjadi tumpuan hidupnya.
“Yoshino-sama ada di taman belakang tuan,”
Si jenius Nara ini pun bergegas ke padang rumput belakang rumahnya, ada ratusan rusa yang dipelihara oleh keluarga Nara. Satu-satunya keluarga yang memiliki lahan luas untuk beternak rusa di Konoha. Di pinggir padang rumput itu dibuat taman keluarga yang sangat indah, tertutup untuk umum.
“Assalamualaikum, kachan….”
“Waalaikumsalam…. Ohh… musuko desu…kemari, nak. Bagaimana kabarmu? Kamu nggak terluka kan? Orang-orang membicarakan keberhasilan misi kalian di bulan kemarin. Oh iya, kamu sudah makan? Makan bersama yuk? kachan siapkan masakan kesukaanmu ya… Ehhh… kok bau sekali. Sebaiknya, kamu mandi dulu sana….”
“Kachan….” Shika hanya manyun mendengar berondongan pertanyaan bercampur perintah ibunya itu…
“Oh iya, Shika.. kapan kamu menikah? Kachan sudah pingin banget punya cucu,…” Shika sweatdrop tiap ditanya itu. “Tahu nggak, nyonya Akiko, yang rumahnya di ujung jalan, kemarin cucu ketiganya sudah lahir. perempuan. Kawaaaiiii. Ayo dong, kapan kamu kasih cucu ke kachan?”
Shikamaru yang dipojokkan terus jadi makin lemes.
“Kaachhaann… Aku belum mau menikah….masih pingin..” belum selesai bicara, Yoshino langsung memotong.
“Nunggu apalagi? Hah? Nunggu tua? kamu nggak ingin ya melihat kachan bahagia punya cucu?”
“bukan begitu kachan…”
“Terus apa?”
“Mmm….” Shika berpikir keras, alasan apa yang pas buat menghentikan ibunya. “Belum ada calon yang pas…” shika nyengir.
“Eto…” Yoshino tampak manggut-manggut. Shika sedikit lega, tapi ternyata tak berlangsung lama.
“Apa perlu kachan yang carikan. Atau gadis Suna yang sering jalan bareng sama kamu itu? kalian tampaknya cocok…”
Shikamaru langsung blushing on…
“Dia kan rekan kerjaku kachan, sama – sama pengawas ujian chunin. jangan pikir macam-macam lah..”
“Nah, kalian kerja di bidang yang sama. Serasi kan….” Yoshino masih mengejar anaknya.
“Sudahlah kachan. Aku istirahat dulu ya, capek….” Shika beringsut dari duduknya.
“Shikamaru nara…. kachan belum selesai bicara….” yoshino berteriak memanggil putranya….
“Iya deh kachan. Shika akan kasih cucu yang banyak buat kachan. Tapi, nanti. Aku mau tidur dulu… Daaaa kachan….” Shika berlari meninggalkan ibunya yang masih saja bicara tidak jelas. Beruntung, padang rumput itu luas. Kebisingan di keluarga itu tak terdengar oleh tetangga.

Shika langsung merebahkan tubuhnya di futon berbalut sprei coklat miliknya. Rasanya nyaman sekali bisa tidur di kamar.
‘Hm… Temari… lama tidak bertemu..’ batinnya. Shinobi berambut panjang hitam yang selalu dikucir ke belakang ini hanya dalam hitungan detik langsung terlelap. Untuk urusan tidur, memang tak ada yang bisa menyamai kecepatan Shikamaru.

—-

Sementara itu, Sai yang tengah berjalan ke apartemennya berhenti di persimpangan. Pemandangan malam yang disirami cahaya bulan di tengah kucuran salju tipis sangat menarik untuk dinikmati. Sang pelukis tengah mengumpulkan inspirasi.

Brukk…
Seseorang menabraknya dari belakang. Beberapa kardus terjatuh berhamburan. Tanpa melihat penabraknya, Sai cekatan memunguti benda-benda itu.
“Ehh… Sai-kun…”
Suara yang tak asing bagi murid Danzo ini.
“Oi..Ino-chan. Mau kemana? Sepertinya buru-buru…”
“Mm… Hanya mengantarkan obat obatan ini ke rumah sakit,”
“Boleh aku antar?”

“Jika tidak keberatan…”

Sai mengiringi langkah gadis Yamanaka itu dengan kedua tangan penuh barang.

“Kapan kau sampai Konoha, Sai-kun?”

“Tadi siang,”

“Semua orang membicarakan misi bulan kalian. Hebat. Coba hokage-sama memintaku untuk menemani Hinata, waktu itu. Pasti lebih seru ya…”
Wajah Ino tertunduk. “Mmm… Ya sudahlah, aku cukup disini saja. Toh, membantu merawat warga yang terluka juga perbuatan baik. Ya, kan Sai-kun?!”

Sai tersenyum tipis. Kali ini bukan seperti senyum palsu yang sering ia tunjukkan ke teman-teman Shinobi yang lain. Ia merasakan kehangatan di dada kirinya. Kunoichi yang dihadapinya saat ini memang tergolong tipe pemboros kata-kata. Tapi ia nyaman bercakap dengannya.

“Alhamdulillah, sudah sampai. Sai-kun, bisakah kau letakkan barang itu di ruang obat, di ujung lorong ini. Ada ninja medis yang bertugas disana. Aku akan lapor dulu ke kepala rumah sakit,”
“Haik…”

Sai pun bergegas menuju ruang yang ditunjuk. Obat telah disimpan di tempatnya, pemuda Shimura ini lantas beranjak ke teras bangunan putih itu. Rasanya pasti nyaman bisa meluruskan punggungnya meski hanya sebentar. Ia letakkan ransel ninja dan gulungan jutsunya di samping badan. Lalu berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantalan. Udara mulai terasa dingin. Matanya sudah terasa berat.

“Onii-chan… bangun.. onii-chan…”
Baru seperempat jam Sai memejamkan mata, ada tangan mungil menggoyang pelan tubuhnya.
“Hooaammm… Ada apa otouto-chan?” Ia mengerjapkan kedua matanya. Seorang anak laki-laki bertubuh subur sekitar 6 tahun berdiri di sampingnya.
“Mmm… gomen Sai-kun… aku mengganggu tidurmu…” sapa Ino tiba-tiba dari balik tiang.
“Oo… Ino-chan. Daij┼Źbudesu…”
“Eto… anak kecil ini minta diantarkan pulang. Tadi ia dirawat bersama kachannya yang akan melahirkan. Kakinya terluka. Ia ingin tidur di rumah bersama bachannya. Rumahnya dekat toko bunga Yamanaka. Di luar salju mulai tebal. Aku lelah sekali, tidak kuat menggendongnya. Bisakah kau….”
Sai memotong ucapan Ino.
“Tentu saja. Aku akan mengantarkannya. Kau juga pulang sekarang?”
“Umm…”
“Mau aku temani pulang? Sekalian mengantarkan anak ini.”
“Umm…Sankyu Sai-kun. Aku ambil tas dulu…” Ino berbalik ke salah satu ruang rumah sakit. Dan segera kembali dengan membawa ransel ninjanya.

Di bawah guyuran salju tipis, keduanya melangkah menyusuri jalanan Konoha yang memutih.

—-
Naka Shrine

“Lama kau tinggalkan, kediaman Uchiha masih bersih terawat, Teme…”
“Tak seperti apartemenmu, kumuh…”
Naruto melemparkan bantalnya ke muka Sasuke. Dan tentu saja, meleset. Berbaring di ruang keluarga dekat perapian sangat nyaman saat cuaca dingin seperti ini.
“Ada pelayan yang aku tugaskan untuk merawat bangunan ini, peninggalan berharga klan Uchiha yang masih tersisa,” pandangan pemilik jutsu Susano’o ini seketika redup. Ia telah kehilangan semua anggota keluarganya. Berat baginya tinggal disini, tapi ia harus bangkit menghadapi kenyataan.
“Oi… sudahlah,” Naruto mengalihkan pembicaraan. “Mengapa kita tidak ke apartemenmu saja tadi?”
“Sudah lama aku tidak kesini. Suaramu yang berisik bisa memecahkan kesunyian rumah ini,”
Sasuke tetap cuek melihat Naruto yang mendengus kesal.
“Kenapa tidak undang badut saja! Biar tambah rame rumah yang kayak kuburan ini….”
“Sudah, badutnya ada di depanku,”
Dua bantal sekaligus melayang ke muka Sasuke. Dan langsung mental ke pojok ruangan.
“Akui saja, Sas. Kamu merindukan aku. Hidupmu sepi tanpaku. hahaha…” merasa menang, tawa Naruto menggelegar. Hanya beberapa detik saja. Berhenti seketika saat sebuah bantal tepat mengenai wajah sang Jinchuiriki. Kelewat bangga bisa menertawakan Sasuke, Naruto lengah.
“Aku pria normal, Dobe Baka….” Gantian Sasuke yang mendengus kesal.
“Kalau normal, kapan kamu menikah? Tunjukkan buktinya!” tantang si jabrik kuning disambut deathglare dari rival abadinya itu.
“Sesama dokushin, tak usah banyak bicara…”
“Pppffftt… hahaha… Betul juga teme, kita sama-sama dokushin. Yoshhh. Aku akan menantangmu untuk menikah lebih dahulu,” naruto berdiri tegak dengan telunjuk mengarah ke Sasuke
“Gadis mana yang mau sama pria baka seperti dirimu,” ejek Sasuke.
Naruto terdiam. Apa yang dikatakan Sasuke memang benar. Siapa yang mau bersanding dengan Jinchuiriki seperti dirinya. Ditambah lagi, ia tak punya cukup banyak harta. Beda nasib dengan si bungsu Uchiha. Dikejar banyak wanita, namun tak ada satupun yang ditanggapinya.
“Mungkin saat ini, tidak ada. Tapi aku yakin. Saat aku bisa mewujudkan mimpiku menjadi seorang hokage, tidak ada wanita yang akan menolakku,” Naruto meraih gelas di tatami lalu menyesapi teh yang ada didalamnya.
“Hn….”

Sejak kecil, Naruto memang terkenal dengan banyak ulah. Sifatnya yang periang dan gaya bicara yang heboh sangat jauh berbeda dengan Sasuke. Perjalanan waktu, persahabatan mereka membuat sifat usil Naruto menular ke Sasuke. Seperti malam itu, keduanya terlihat akrab bercanda. Hal yang hampir mustahil terjadi saat Sasuke bertemu dengan para shinobi yang lain.

“Bagaimana keadaan di luar sana…” Naruto mencoba mencairkan suasana. Tema pernikahan tidak seru untuk dibicarakan dengan laki-laki tsundere seperti Sasuke.
“Masih ada pergerakan beberapa missing nin,” Sasuke menegak teh chamomile hangatnya. “Sisa- sisa Akatsuki belum terdeteksi. Tapi, tiap saat kekuatan mereka bisa saja membahayakan Konoha,” jelasnya.
“Mmm…”

Hingga tengah malam, keduanya masih berdiskusi tentang perkembangan dunia shinobi. Ahh, lebih tepatnya Sasuke yang harus sering menjelaskan lebih detail. Pasti tahu kan, kenapa? Kemampuan analisa Naruto masih kalah dua level dibanding dengan kecerdasan Sasuke.

Keesokan paginya

Selepas sholat subuh, keduanya tampak latihan ringan di halaman belakang. Menjelang waktu dzuha, seorang shinobi mendatangi Kediaman Uchiha itu.

“Naruto-sama, Sasuke-sama, Rokudaime hokage menunggu kedatangan anda di kantor jam 8 nanti.”

“Haik,” jawab keduanya bersamaan.

=====

Naruto dan Sasuke akan mendapatkan tugas penting dari Kakashi. Misi apakah itu?
Yang penasaran, ikuti terus ya Serial Naruto Santripudden ini.

Gomennasai sudah mendukung fp ini

Ilustrasi
1. Persahabatan Naruto dan Sasuke
2. Shikamaru dan ibunya,Yoshino Nara
3. Sai menggendong anak kecil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *