Chapter 12 -Tenseigan no hakai-

Piece of Life
Chapter 12
-Tenseigan no hakai-

Begitu gerbang menara terbuka akibat ledakan kunai kertas, ratusan boneka menerjang Sai dan Shika. Murid Danzou ini telah menyiapkan pasukan tempurnya dengan chouja giganya. Dua ekor singa, dua ekor burung elang, dan puluhan monster kertas lainnya. Biarpun tidak seekstrim kibaku nendo milik deidara, tetapi jurus andalan si muka pucat ini tetap bisa mematikan.
Seperti biasa, si jenius Shikamaru masih menggunakan jutsu pengendali bayangan. Jurus yang efektif yang bisa memanfaatkan kekuatan lawan untuk membinasakan mereka sendiri.

Pertempuran kedua Shinobi Konoha ini berlangsung cukup lama. Tiap kali sebuah boneka roboh, muncul lagi puluhan yang lainnya.
“kagemane shuriken no jutsu,” ucap Shika yang mulai gemas dengan perlawanan para pengawal Toneri. Ia menyelipkan kunai berpeledak di setiap tentakel jurus kagemane nya. Dalam sekejap, para musuh yang bayangannya sudah terjebak akan meledak. Serangan yang cukup efektif.

“Sai, arah jam 10. Ada pengendali para boneka ini,”

Tanpa menjawab sepatah katapun, Sai langsung mengirimkan serangannya.
Brukkk brukk…
Puluhan boneka tersungkur.

Begitu, serangan mulai berkurang, mereka menerjang penjaga pintu ruangan bercat putih untuk segera mengamankan Hanabi.

Shika dan Sai telah sampai di dalam ruangan tempat Hanabi berada. Hanabi masih tertidur di atas ranjang itu, dengan mata dibalut perban.

“Hanabi..”

“Malang sekali.. padahal dia cuma anak-anak.” ucap Sai.
—–

Sementara itu, Naruto tengah melesat menuju ruang utama kuil megah itu. Dengan tendangan tanpa bayangan, sangat mudah baginya menjatuhkan serangan musuh. Akibatnya, ruangan yang telah dihias cantik untuk resepsi pernikahan jadi berantakan. Altar berhiaskan bunga sakura pun menjadi lampiasan kemarahannya. Para boneka pengawal memang tak sebanding dengan kemampuan sang Jinchuriki.

Ia tak lagi memikirkan spanduk besar di gerbang istana itu. Misi utamanya menghancurkan tenseigan dan mengembalikan Hanabi kembali dengan selamat.

“Hmm… Cakra Hinata masih terasa ada di sekitar sini, tapi aku tak bisa menemukannya. Hebat juga Toneri, bisa mengganggu sage modeku,” ucap Naruto lirih. Netra biru saphire itu kini menatap sebuah kuil melayang yang mendekati istana utama. “Awas kau, Toneri!” Putra Kushina ini pun melesat ke kuil tersebut.

—-
Di ruangan lain dengan pintu besar yang bertahtakan batu pualam yang menawan.
“Hentikan pernikahan ini, Toneri! Ini tidak benar!” suara Hinata meninggi. Tubuhnya tak bisa bergerak seakan terikat tali yang kuat. Ia hanya bisa pasrah saat para dayang Toneri memakaikan baju pengantin ke tubuhnya. Berjilbab putih dengan Gaun lengan panjang elegan dalam paduan warna broken white dan khaki serta memiliki detail bahu seperti gaun cinderella.
Kalung mutiara berliontin mustika bergambar lambang klan Otsusuki, bulan sabit dengan lingkaran kecil di sampingnya.
“Tak semudah itu, Hyuga…”
“Tanpa wali, pernikahan ini tidak sah!” Hinata berusaha membela diri.
“Aku bisa mendatangkan touchanmu sekarang!” Seketika muncul seseorang yang mirip Hiashi dengan pandangan mata yang datar.
“Itu hanya bonekamu,” ucap Hinata sinis.
Toneri geram. Boneka yang baru muncul itupun hancur tak berbentuk.
“Apa susahnya sih menerimaku, Hinata! Aku akan mengembalikan Hanabi ke bumi dan kau akan menjadi Ratu disini….”
“Mengembalikan Hanabi yang matanya sudah kau ambil. Sementara bumi sudah hancur akibat ulahmu. Egois!” muka gadis lavender ini memerah menahan amarah.
Ha ha ha ha ha…..
Tawa Toneri menggema.
“Kau bisa mendapatkan segalanya disini, Hinata….”
“Kasihan sekali kau, Toneri. Punya istana, tapi hatimu merana. Tak punya keluarga dan teman, sesuatu yang lebih berharga dari semua ini…”

Mendengar kata keluarga dan teman, emosi Toneri seketika mendidih. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang.

“Keluarga ya… Sepertinya bukan itu alasanmu menolakku,” ucapan laki-laki berambut putih ini membuat alis Hinata jadi tak simetris lagi. “Pria berambut kuning itu kan!” lanjutnya. Toneri punya kekuatan untuk melihat alam pikiran seseorang.

Hinata terdiam.

“Kita sudahi percakapan tak berguna ini. Sebentar lagi kuil Hamura akan muncul dan pernikahan kita tetap harus dilaksanakan,”
Toneri memasukkan cakra hijau ke tubuh gadis itu. Seketika Hinata seperti kehilangan kesadaran. Tatapannya kosong.

Toneri meraih tangan Hinata dan mengajaknya berjalan menuju kuil Hamura yang terlihat melayang di atas pulau yang mendekati istana itu. Dengan atau tanpa persetujuan Hinata, dia akan tetap menikahi perempuan itu. Semata karena potensi dan kekuatan chakra Byakugan yang belum dimanfaatkan oleh Hamura, nenek moyangnya. Dengan kekuatan besar itulah, ia berharap dapat mengatur dunia agar tak ada peperangan antar sesama manusia.

Begitu Toneri dan Hinata memasuki kuil Hamura, acara pernikahan pun langsung digelar. Keduanya duduk bersimpuh di sebuah altar bundar yang beralaskan karpet bludru putih yang sangat lembut. Kain transparan menyatukan dua insan itu. Ada sebuah meja pualam yang dihiasi bouket bunga. Beberapa orang terlihat bersiap untuk memulai akad nikah.

“Saya nikahkan, Toneri Otsusuki bin …..”
Belum selesai wali nikah gadungan itu mengucapkan akad, tiba-tiba…

Blaarrr…
Guncangan besar meruntuhkan pintu ruangan.
Naruto muncul dibalik kepulan asap reruntuhan.

“Hentikan Toneri! Pernikahan palsu ini tak bisa dilanjutkan!”
hahahaha…. Toneri tertawa mengejek. “Kau terlambat, Naruto. Hinata sudah menjadi istriku….”
Naruto menatap Hinata yang masih duduk terdiam di samping Toneri. ‘Hinata terkena genjutsu,’ batinnya.

Kini Naruto yang tersenyum mengejek penguasa bulan itu.
“Menikah katamu?! bahkan Hinata saja tidak sadar dengan acara ini. Bermimpilah kau Otsusuki….”
Kagebunshin no jutsu
Naruto seakan membelah jadi dua. Yang seorang menyerang Toneri dan satunya lagi hendak mengambil Hinata.

Rasengan…
Blarrr..
Altar itu hancur. Para boneka pengawal pun turut remuk.

Dengan jurus teleporter, Toneri membawa tubuh Hinata menghindar, berdiri di atas bagian istana yang menjulang.
hahahaha… Toneri tertawa menang. “Pukulanmu tidak akan pernah mengenaiku Naruto! Ini, terimalah Hinata. Aku tidak memerlukan gadis ini lagi.”

Toneri melemparkan tubuh Hinata. Ia meninggalkan area pertempuran. Matanya terasa berkedut kuat, tanda tenseigan akan bangkit sempurna untuknya. Naruto melesat menangkap tubuh gadis itu sebelum terjatuh di tanah.
‘Sial, ini hanya boneka kayu. Dimana tubuh Hinata yang asli?’ naruto dibuat kebingungan dengan ulah Toneri.
Seketika ia mengaktifkan sage modenya. ‘Awas kau Toneri,’
Kini Naruto harus berlari meraih tubuh Hinata yang dilempar berlawanan arah dengan boneka mirip dirinya.
happp…
Nyaris saja tubuh Hinata menghantam bebatuan bulan.

Naruto mengambil cakra hijau yang disarangkan Toneri di tubuh Hinata.
“Hinata, sadarlah…” Ia mengguncang pelan pundak kunoichi itu.
Mata perak Hinata terbuka perlahan. “Naruto-kun, arigatoo…” ucapnya seraya menundukkan kepala. Berpenampilan sangat cantik di hadapan Naruto membuat Hinata begitu malu.
“Mmhh.. eto, tenseigan disebelah sana. Aku sempat melihatnya sebelum acara tadi,” ucapnya pelan tanpa memandang wajah lawan bicaranya.
“Baiklah, aku akan menyelesaikannya,”
“Sehebat apapun, kekuatanmu tak akan sanggup menghancurkannya. Ada jutsu segel yang melindungi mata ini. Hanya orang yang memiliki darah Homura yang bisa menyentuhnya. Orang lain yang mencoba, chakranya hanya akan diserap olehnya,”

Hinata melompat ke arah bulatan kuning besar dengan luapan cakra yang menyala-nyala. Gaun yang ia kenakan membuatnya sedikit sulit bergerak cepat.
Ia kumpulkan kekuatan cakranya di tangan yang terkepal dan bersiap menembakkan semacam peluru udara.
hakke kuushou…..

Namun, selanjutnya tak terjadi apa-apa. Cakra ungu yang keluar dari tangan Hinata tak cukup mampu menghancurkan tenseigan.

“Aku tak sanggup melakukan ini,” Hinata menunduk lesu. Padahal menghancurkan tenseigan adalah misi utama mereka di bulan.

“Hinata, pakailah cakraku…” Naruto memegang tangan Hinata yang berbalut sarung tangan putih itu dan menyalurkan cakranya yang sangat besar.

Hinata tersenyum dan mengangguk.

Hinata mengalirkan chakranya. Chakra ungu Hinata dan chakra oranye Naruto kini melebur, makin melebur dan menyatu.

Mereka berdua lalu melompat, membentuk rasengan yang diselimuti chakra berbentuk kepala singa dan menghantamkannya ke bola besar itu. Efeknya luar biasa. Kilatan chakra yang menyerupai listrik ungu menjalar di sana, jauh lebih kuat dari serangan sebelumnya.

Tenseigan hancur, terpecah menjadi bola-bola yang ukurannya jauh lebih kecil, terpecah menjadi bola-bola Byakugan.

“Tenseigan itu, gabungan dari banyak Byakugan,” ucap Naruto.

Bersamaan dengan hancurnya Tenseigan – sumber energi dari semua hal yang ada di bulan, boneka-boneka yang menjadi lawan Shikamaru dan Sai berhenti bergerak dan terjatuh. Keadaan di bulan juga terlihat lebih gelap karena matahari buatannya menghilang.
——

Sementara itu di bumi
“Hokage-sama, bulannya berhenti mendekat,”
kakashi lantas meliat jam organik yang ada di tangannya.
hitung mundurnya telah berhenti. Sementara itu di Kumogakure, pengisian chakra senjata itu sudah mencapai 95 persen.

“Kapasitas chakra 95%”

“96..”

“97..”

“98..”

“99..”

“100%”

Raikage pun langsung memberi perintah untuk menembakannya.
“Meriam Difusi Chakra, tembak!!”

Bee menarik tuasnya dan tembakan chakra langsung melesat ke luar angkasa, melesat dan menyebar, lalu menyebar lagi. Tembakannya bercabang. Serangan itu sukses menghancurkan meteorit-meteorit yang masih beterbangan di orbit Bumi.
Lewat telekonference, Killer Bee melaporkan ke aliansi shinobi.
“Setelah pengisian chakra selanjutnya, kami akan meledakkan Bulan.”
“Meledakkan Bulan? Naruto belum kembali dari bulan. Tunggu dulu seranganmu itu,” sergah Kakashi.

=====
Setelah meledakkan tenseigan, ternyata misi naruto dkk di bulan belum selesai.
Seperti apakah pembalasan Toneri?

Simak di chapter berikutnya
Jaane…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *