Chapter 10 Kizutsukeru


Piece of Life
Chapter 10
-Kizutsukeru-

Di bawah siraman sinar rembulan yang membulat sempurna, sekawanan itu melintasi hutan cemara dengan menaiki burung kertas Sai. Suasana terasa senyap.

Mendekati puncak pegunungan dimana kuil toneri berada, tiba tiba mereka diserang dengan ratusan burung hitam yang melemparkan kunai berpeledak. Pertempuran tak bisa diindahkan.
Naruto mengeluarkan rasen shuriken, spiral orange yang berputar membabat habis para musuh. Hinata yang duduk di belakangnya mengaktifkan byakugan, membantu mengamati arah pergerakan serangan. Sai dan Shika bergantian menghancurkan burung burung yang datang silih berganti.

“Arah jam tiga. Ada beberapa boneka yang mengendalikan burung – burung ini dengan benang cakra,” ucap Hinata.
“Shouka, bersiaplah,” balas Naruto. Ia melajukan burung kertasnya ke atas, menghindari terjangan musuh. Hinata yang sedikit oleng terpaksa berpegangan dengan pinggang Naruto. Pria jabrik kuning ini pun melancarkan serangannya ke arah yang ditunjuk Hinata.
“Rasengan…. ”

Bluaaarrr….

Beberapa pohon ikut hancur lebur terkena jurus kuat Naruto.
Gelombang serangan boneka Toneri terus berlanjut. Burung-burung hitam itu kini menyerang para shinobi dengan tembakan cakra.
“Hanya boneka. Naruto, lanjut kesana,” kata Shikamaru menunjuk ke arah pegunungan yang menjulang tinggi. Ketiga burung kertas Sai pun melesat.

“Minna, kita berhenti sebentar di punggung bukit itu. Cakraku tak cukup untuk mengendalikan burung-burung ini hingga ke puncak,” ucap Sai. Naruto dan Shika mengangguk. Mereka mendarat di tepi jurang yang terjal.
“Aman, kita istirahat dulu disini,” kata Naruto setelah mengamati wilayah sekitar dengan sage modenya. Ia pun duduk di hamparan rumput yang tebal diikuti kedua jounin rekannya.
Hinata memilih duduk bersandar di bawah satu satunya pohon besar yang ada disitu. Netranya menatap rembulan yang tampak jauh lebih besar dari ukuran normalnya. Angin yang berhembus terasa begitu dingin. Mendekati puncak pegunungan yang berselimut salju.
“Naruto-kun, bisakah kita segera berangkat sekarang? Kuil toneri sudah dekat,” pinta Hinata setelah melihat Naruto selesai mengalirkan cakranya ke Sai agar bisa mengendalikan burung kendaraan mereka.
“Baiklah, ayo….” balas Naruto yang telah siap melesat.

Tiba di puncak gunung, mereka dihadapkan pada sebuah kuil kristal yang terbuat dari bebatuan es. Bangunan tinggi yang banyak terdapat menara. Di sekilingnya ada semacam sungai yang dialiri awan putih yang terus berputar.
“Ini seperti saat Rasulullah menghadapi Perang Khandaq. membuat parit yang mengelilingi Madinah untuk menahan serangan musuh,” jelas si jenius Nara.
“Sepertinya ini sungai jutsu. Lihatlah,” sai melempar sebuah batu ke arah sungai. tiba-tiba, dari dalam sungai awan itu muncul tembakan beruntun ke atas yang menghancurkan apapun yang melewati sungai itu.
“Tak ada jalan lain, kita terbang vertikal baru melintasi sungai ini. Seberapa tinggi sungai ini bisa mendeteksi keberadaan benda yang melewatinya. Yooshh…” timpal Naruto.

Ketiga burung kertas Sai terbang melawan gravitasi. Dengan bantuan daya dorong dari cakra Naruto, dalam sekejap mereka telah berada lebih dari 500 meter dari tempat semula. Mereka pun bisa melintasi sungai awan itu tanpa ada serangan balik.

Gerbang kuil megah itu tak berpenutup. Terbuka dengan hiasan dua menara kecil di kanan kirinya.
“Aneh, kuil ini sepertinya tak dijaga. Tak ada serangan dari dalam,” bisik Shika waspada.
Memasuki kuil es yang membeku. Sekawanan merapatkan rompi jounin yang dikenakan, minus Naruto. Ia paling malas memakai rompi jouninnya saat dalam misi.
Hawa dingin terasa menusuk tulang.

“Naruto-kun, dimana syal hijaumu?” tanya Hinata. Mereka berjalan beriringan di belakang, sementara Sai dan Shika mengawasi arah depan.
“Eto, tadi sempat terbakar karena serangan boneka Toneri. Jadi aku masukkan ke tas,”
“Sepertinya, syal itu sangat berarti bagimu,” Hinata menundukkan kepalanya, menatap lantai marmer seraya terus berjalan pelan.
“Emm… itu peninggalan kachan,” ucap Naruto sendu. mengingat kedua orang tuanya yang ia tak pernah melihatnya.
“Ooo, gomen…” batin Hinata girang. Ia pikir, syal itu dari seorang perempuan yang istimewa. Ternyata salah. Bibirnya tersenyum tipis.
“Naruto-kun, bisa memakai syal ini,” Langkah Hinata terhenti. Ia mengeluarkan syal merah yang telah dirajutnya dari dalam tas ungunya.
“Nggak perlu, Hinata-chan,” balas Naruto ikut berhenti.
“Emm,… ini untukmu,” Hinata menyerahkan syal merah itu dengan kedua tangannya. Kepalanya menunduk.
“Aku tidak ingin merepotkanmu. Syal itu sudah kau rajut sendiri kan! Butuh waktu lama untuk membuatnya,” balas Naruto.
“Aku mohon…” Hinata bergeming menyerahkan syal itu ke Naruto.
“Tidak. Lebih baik kau pakai syal itu. Disini dingin sekali. Nggak usah mengkhawatirkan aku. Kamu lupa, aku juga pengendali api,hmm… Mudah bagiku untuk mengatasi hawa dingin seperti ini…”
Naruto membalikkan badan, kembali berjalan perlahan. Ia bingung, antara menolak atau menerima pemberian Hinata. Hinata lebih membutuhkan syal itu, pikirnya.
Hinata mematung. Dadanya terasa sesak. Baru kali ini ia mencoba memberikan sebuah barang ke Naruto, dan langsung ditolak. Tak terasa, butiran bening menggenang di mata peraknya. Gadis itupun mengusapnya kasar. ‘Mmm… jadi seperti ini rasanya ditolak. Sakit….’ batinnya. Ia pun memasukkan kembali syal itu ke dalam tas. Mukanya memerah, menahan malu, amarah, sedih dan perasaan terluka.
Kunoichi itu pun melanjutkan perjalanannya dengan pandangan sayu. Baru tiga langkah, pandangannya menatap sebuah pigura yang terpajang di dinding. Ia merasa ada suara yang memanggilnya. Didekatinya papan hiasan itu.
Dari balik pigura itu muncul sesosok gadis kecil cantik yang tersenyum menatap Hinata.
“Nona hinata, tuan Toneri telah menunggu Anda. Silahkan melewati portal ini,” gadis boneka itu membungkuk, mempersilahkan Hinata melewati jalan pintas menuju kediaman Toneri yang sesungguhnya.

Naruto yang baru tersadar Hinata tidak berada di sampingnya seketika balik badan. Dilihatnya gadis indigo itu bersama sebuah boneka dan bersiap melewati sebuah portal. Hinata menghapus sisa air matanya dan menatap Naruto sekilas. Tanpa berkata apapun, Hinata memasuki portal itu dan menghilang.

“Hinataaaa…..” Naruto berteriak mengejar sang gadis. Langkahnya terlambat. “Kushoo…”
Sai dan Shikamaru yang telah sampai di gerbang berikutnya kembali dan mendapati putra hokage keempat itu duduk bersimpuh menghadap pigura di dinding.
“Oi, Naruto! Mana Hinata?” tanya Shika. yang ditanya hanya mengacak rambutnya, kusut.
“Dia pergi bersama boneka Toneri…” suaranya lemas.
“Mendokusai…” gerutu si Nara.
“Memangnya tadi kenapa? hah? Kalian bertengkar?” timpal si muka pucat.
“Dia tadi memberikan syal. Aku menolaknya. Kupikir Hinata lebih membutuhkan itu…” Naruto semakin frustasi. Ia sangat menyesal sudah membuat Hinata terluka.
“Perempuan memang merepotkan. hal sepele seperti itu bisa jadi masalah,”
“Bukan seperti itu Shika….” Naruto membela diri.
“Lalu masalahnya dimana? Hanya menolak barang sederhana. Misi kita belum selesai, kau ingat…!” gertak Sai. “Ternyata itu kelemahan pahlawan desa Kunoha. Aku tahu sekarang. Dasar lembek,” lanjutnya.
“Jaga ucapanmu, Sai!” Naruto terpancing emosi. Sejak sai bergabung di tim 7 menggantikan Sasuke, ia memang kurang suka dengan keberadaan si pockerface. Bicaranya yang blak-blakan kadang membuatnya gerah. Seiring berjalannya waktu, mereka bisa saling memahami satu sama lain.
“Sudah. hinata pasti punya alasan. kita lanjutkan misi. Di depan ada portal lain, kurasa itu akan menuju kediaman Toneri yang sebenarnya. Kuil ini hiasan,..” Shikamaru menengahi. “Ayo, selesaikan misi ini,” lanjutnya seraya memukul pundak pecinta ramen itu pelan.

Naruto mengusap wajahnya asal. Dengan langkah gontai, ia mengikuti rekannya. Apapun yang terjadi, misi ini harus segera diselesaikan.
Bertiga memasuki sebuah pintu berukiran indah dengan lambang klan Otsutsuki di atasnya. Begitu pintu dibuka, mereka seakan tersedot ke dalam pusaran angin yang kuat hingga membawa mereka ke sebuah bangunan besar yang begitu megah. Dari kejauhan, tampak bumi dikelilingi dengan bebatuan meteor yang jumlahnya tak terhingga. Mereka telah berada di bulan.

Naruto tampak terkejut dengan gambar Hinata yang bersanding dengan Toneri, terpasang nyata di pintu masuk istana. Ternyata keturunan Hamura Ōtsutsuki ini telah mempersiapkan pernikahannya dengan Hinata jauh hari sebelum penculikan hanabi. Lagi-lagi, Naruto hanya bisa terduduk lesu. Dadanya kirinya terasa sangat sakit. Entahlah, ia merasa sangat kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Sesutu yang tidak ia sadari selama ini.

“Naruto, bangkitlah. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi semua orang di bumi membutuhkanmu,” hibur pria dengan julukan rambut nanas ini. Ia menatap rekan pucatnya, berharap ada perkataannya yang bisa menguatkan Naruto. Sai hanya mengangkat bahunya seolah berkata, ‘Aku pun tak tahu…’

Naruto menegakkan badannya. Menatap ke depan. Impian besarnya menjadi seorang hokage. Itu berarti ia harus bisa mengesampingkan ego pribadinya untuk kepentingan banyak orang. Sepanjang hidupnya, ia sudah berteman dengan rasa sakit dan pengabaian. Kali ini, ia pasti bisa melewatinya.

Sang Jinchuriki pun berusaha bangkit. Mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan. ‘Kachan, touchan, lebih baik aku menghadapi Madara daripada merasakan perasaan seperti ini,’ bisiknya dalam hati.

Ketiga shinobi hebat ini langsung beraksi. Begitu mengaktifkan sage mode, Naruto meminta Sai dan Shika untuk menyelamatkan Hanabi di sebuah menara kuning arah jam 10. “Aku akan mengejar Hinata dan Toneri di bangunan utama,”

“Haik,” jawab Sai dan Shikamaru bersamaan.

————–

Bagaimana kelanjutan fanfic ini ya?
Pantau fanpage Naruto Santripudden

So, chotto matte kudasai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *