Chapter 1 NARUTO VS DILAN


Piece of Life

Chapter 1
NARUTO VS DILAN

Naruto telah bersiap. Di ujung sana, ada Kakashi dalam posisi menyerang. Detik berikutnya, murid dan guru itu sama-sama mengeluarkan jutsu hebatnya….
“Rasengan…..”, Ucap keduanya bersamaan.
Seketika muncul bola putih kebiruan dari kepalan tangan Naruto dan Kakashi.
Bluuuuarrr…
Kedua bola putih itu bertumbukan dan memunculkan suara menggelegar. Kepulan asap dan debu membumbung ke langit. samar-samar, mulai tampak lubang besar menganga di tanah.
Bagaimana nasib kedua laki-laki itu???

Ternyata Naruto dan Kakashi masih dalam posisi bersiaga. Tanpa terluka sedikitpun.
“Ooiii… Naruto, kesinilah…” panggil Kakashi.
Yang dipanggil pun segera mendekat.
“Kunaon senshei? Yach… cuman segitu terluka…” kekeh si jabrik kuning.
“Naruto no baka… Aku mau ngobrol, cukup dulu latihannya…”

Keduanya kini duduk bersampingan beralaskan rumput menghijau. Langit yang begitu cerah, membiru dan berhiaskan sedikit arakan awan.
“Shouka… Bagus, Naruto. Jutsumu sudah mengalami peningkatan…”
“Senshei meremehkan aku?”
“Menurutmu?” kakashi menyunggingkan senyum. Dan tentu saja, tak terlihat oleh Naruto. Masker itu selalu menutupi wajah sensheinya.
“Setelah mengalahkan Pein minggu lalu, aku terus berlatih. kau lihat sendiri kan senshei?”
“Hn. Tapi, ingat! Kekuatanmu saat ini tak cukup untuk mengantarkanmu menjadi hokage.”
“Etto…” Naruto terdiam. Dia masih sangat yakin akan dapat mencapai cita-cita terbesarnya, menjadi Hokage Konohagakure.
“Teruslah berlatih. Seperti pisau, semakin sering diasah, akan semakin tajam,” tutur pria berambut perak itu.
“Haik…” Naruto menganggukkan kepalanya.

“Berapa usiamu sekarang, Naruto?” tanya kakashi. matanya masih setia menikmati hamparan pemandangan alam.
“Sembilan belas. Senshei lupa? Dua minggu yang lalu kita makan ramen bareng di Ichiraku.”
“Di usia muda, kamu telah menunjukkan perkembangan hebat di dunia shinobi. Meski pernah gagal ujian chunin, kini kamu sudah level genin. Aku salut dengan semua perjuanganmu. Kalau dulu kamu diacuhkan, kini seluruh penduduk desa memujamu sebagai pahlawan…”
“Ah, biasa aja senshei.” Naruto melengkungkan bibirnya. Kedua tangannya terlipat di tengkuk kepalanya.
“Kamu tahu, Muhammad AlFatih itu telah berhasil menjadi panglima perang yang mampu menaklukkan Konstantinopel di usia muda? Nggak jauh lah dari usiamu sekarang.”
“Iya, sosok pemuda yang hebat. Dia salah satu inspiratorku. Aku pun harus bisa menjadi hokage, untuk melindungi warga Konoha. Itulah jalan ninjaku. Yoooshhh… Ganbatte…” Naruto mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi – tinggi. Pemuda yang selalu ekspressif dan penuh gairah berjuang. Kakashi hanya tertawa melihat tingkah Naruto yang kadang kelewatan lebay.
“Jadi ingat, Dilan.”
“Siapa Dilan senshei? Akatsuki lagi?”
“Bukan… Dia anak muda dari Indonesia. Hobi genk motor, nggak berprestasi, tapi terkenal di negaranya. Entahlah, apa yang menarik dari sosok Dilan. Jago ngerayu cewek mungkin. Penggemar Icha Icha paradise…”
“lah, senshei juga baca buku itu kan!”
“Naruto no baka. Yang aku baca Icha Icha War Technique, beda jauh…..” Kakashi melayangkan tinjunya pelan ke lengan naruto. Si jabrik kuning hanya senyum lima jari.
“Selagi muda, teruslah berjuang mewujudkan impian. Godaan masa muda itu banyak. Teruslah berada dalam jalan kebaikan,” nasihat Kakashi.
“haik…”
Kakashi bangkit dan berjalan menuju desa. Naruto mengikuti di sampingnya.

“Eh, Naruto. di antara sekian kunoichi Konoha, adakah yang menarik hatimu?”
Naruto berhenti. Mukanya cengo. “Mengapa senshei bertanya itu?”
“Hn. Tak ada salahnya kalau kamu menikah muda. Aku rasa kamu telah siap. Jadi shinobi hebat, punya penghasilan, sudah cukup umur. Mmm… apalagi.” jawab Kakashi santai dan terus melangkahkan kaki. Naruto yang tertinggal beberapa langkah berusaha menyamainya.
“Kalau kamu menikah, ada yang mengurusi kehidupanmu kan. Biar nggak tiap hari makan ramen terus….” sindir Kakashi.
“Aku belum memikirkan itu senshei. Aku rasa, tak mudah untuk mempersiapkan sebuah pernikahan.” Naruto menunduk.
“Menikah itu setengah diin. Jika sudah mampu, jangan ragu. Jangan seperti Dilan. Berani pacaran ogah ke pelaminan…” Naruto nyengir kuda. Pacaran? Kata Shika, mendokusai…. merepotkan….
“Kenapa senshei juga belum menikah?”
Pertanyaan Naruto seperti petir siang hari bagi telinga Kakashi. Langkahnya terhenti. “Soal itu, aku punya alasan sendiri.” Benaknya bergolak. Ingatannya langsung melayang ke sosok Rin. Entahlah, dia belum bisa move on dari gadis yang sebenarnya nyaris akan dinikahinya itu. Jika saja kematian tidak mendahului.
Menatap mata Kakashi yang berubah sendu, Naruto tak berani lagi bertanya lebih jauh. “Gommen senshei…”

Menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Tetiba ada sekelebat bayangan yang mendekati mereka. Keduanya berhenti sejenak. Tampak seorang ANBU tergopoh – gopoh menghadapi Kakashi.
“Tuan Kakashi, Hanabi Hyuga diculik Toneri.”
Kakashi menganggukkan kepala. Shinobi ANBU itu lantas melesat pergi meninggalkan mereka.
“Ayo, Naruto. Ada misi yang harus diselesaikan.”
“Haik…”
Naruto dan Kakashi pun segera melompat ke pepohonan. Mempercepat langkah mereka untuk segera kembali ke desa.

To Be Continued….
Chapter 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *