Chapter 22 Beralih Ke Lain Hati

Piece of Life
Chapter 22
-Beralih Ke Lain Hati-

Pagi yang hangat. Tetesan embun di dedaunan membiaskan sinar mentari yang menyeruak di balik bukit. Semarak kicauan burung yang menari – nari di pucuk pohon momiji menambah syahdu suasana.
Naruto baru saja menyelesaikan dzikir alma’tsuratnya. Pandangannya kosong menatap air terjun dengan suaranya yang bergemuruh pelan. Gamabunta yang saat ini menjadi pijakannya tak bergerak, masih melanjutkan meditasinya.
“Ada yang kau pikirkan , Naruto? Sejak sampai di Myoboku, kau tampak jadi pendiam…” sapa kakek tua berusia di atas 800 tahun yang tinggal di gunung Myoboku.
“Fukusaku-sama…” Naruto tersenyum ramah. Petapa tua di hadapannya itu sangat ia hormati.
“Biar kutebak. Masalah perempuan, Ne?”
Lagi-lagi Naruto hanya tersenyum. Kali ini terasa kecut, sekecut lemon yuzu khas Jepang.
“Kehilangan sebelum memiliki, apakah Fukusaku-sama punya jutsu untuk menyembuhkan lukanya?”
Suami Shima ini mengangkat kedua ujung bibirnya sedikit.
“Kehilangan ya,” Fukusaku menghela napas pelan.
“Aku tak punya jutsu yang kau maksud. Tapi, ceritaku mungkin bisa sedikit menghiburmu,”
Naruto menggeser duduknya. Ia menghadap tepat ke kakek bijak itu, siap mendengarkan petuah darinya.

“Naruto, jangan pernah merasa menjadi orang yang paling sedih di dunia hanya karena ditinggalkan seseorang. Coba bayangkan! Ada seorang lelaki yang memiliki 7 anak, 3 lelaki dan 4 perempuan.
Putranya yang pertama wafat ketika berumur 2 tahun beberapa bulan.
Putranya yang kedua wafat ketika usianya masih 1 tahun setengah.
Putranya yang ketiga wafat ketika berumur 17 bulan masih dalam masa menyusui.
Putri pertamanya menikah lalu wafat ketika berumur 28 tahun.
Putri keduanya menikah kemudian wafat ketika berumur 21 tahun.
Kemudian putri ketiganya menikah lalu wafat ketika berumur 27 tahun.
Nama putra putrinya adalah Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zainab, Ruqoyyah dan Ummu Kultsum. Tidak lah lelaki ini wafat kecuali yang tersisa adalah satu putrinya, Fatimah,”

Fukusaku berhenti sejenak. Pandangan teduhnya menatap netra biru di hadapannya.

“Ketika datang musibah kepadamu, ingatlah kisah ini lalu bandingkan dengan musibah yang menimpamu. Tahukah kamu, siapa pemilik kisah ini? Bershalawatlah kepadanya…”

Pemuda kyubi ini seketika terdiam. Raut mukanya mendung. Tertunduk lemas, merasa malu dengan kondisinya saat ini.
“Shollu ‘alannabi…” Bibirnya bergetar mengucapkan patahan kata ini.

“Bangkitlah. Masih banyak hal yang bisa kau lakukan…” Fukusaku mengacak pelan surai kuning Naruto.

“Haik, Fukusaku-sama. Arigatou….”

Naruto pamit kembali ke desa daun yang tersembunyi. Hatinya tenang kini. Ia telah terbiasa dengan segala rasa sakit. Semua pasti bisa ia lewati.

.
.
.

“Nee-chan, beli dango yuk! Lama aku tidak mencicipinya,”
Hanabi menyeret lengan kakaknya yang hanya bisa pasrah menuruti.
Dengan sekantong dango di tangan, keduanya berjalan melewati taman kota. Mereka nampak ceria bercengkerama. Gadis bermanik bulan itu menikmati hembusan angin yang membelai jilbab ungunya. Jantungnya seakan melompat mendengar sapaan dari seseprang yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
“Hinata…”
Suara bariton itu sangat familiar di pendengarannya. Tapi ia tak berani menatap manik biru samudra yang meneduhkan itu.

Kedua orang berbeda gender itu hanya berdiri bersisian ke arah yang sama. Jarak mereka hanya sejengkal. Hanabi memilih untuk berdiri menepi, memberikan kesempatan untuk nee-chan tersayangnya.

“Gomen, Hinata…” Setelah beberapa saat hanya diam, akhirnya Naruto bersuara.
“Aku sudah berusaha. Aku hanya bisa berharap, kau akan bahagia bersama sahabatku,”

Hinata mengangguk lemah. Iris bulan itu berair. Sebelum buliran bening itu menetes, ia segera undur diri. “Naruto-kun, Sayonara.”

Hinata membalikkan badannya, dengan pelan menggamit lengan Hanabi untuk segera meninggalkan tempat itu.

Naruto mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, menahan rasa panas yang tiba-tiba menjalar di tulang hidungnya. Ia tidak ingin menangis, tapi hatinya begitu sakit mendengar Hinata mengucapkan selamat tinggal. Seakan ia tak akan pernah bertemu Hinata lagi, seolah ia telah benar-benar kehilangan Hinata.

“Ja matta, Hyuga Hinata.”

.
.
.

“Dobe…”
Sapaan khas itu tak mengalihkan tatapan kosong Naruto yang kini telah berada di depan sebuah rumah sakit. Dari taman tadi, ia hanya berjalan tak tentu arah.

“Kau ingat? Dulu saat kecil kita pernah bertarung disini.” Sasuke menarik nafas, mengedarkan pandangannya kearah atap bangunan putih yang tidak berubah dari apa yang dilihatnya bertahun-tahun lalu.

“Cerita lama. Saat itu kita bodoh,” balas Naruto. Ia maju, mengambil posisi duduk bersandar di dekat tanaman matsu yang rimbun menghijau.

“Iya. Tapi kau lebih bodoh dariku.” Sasuke mengikuti Naruto, duduk di sampingnya.

“Kau benar.”

Hah? Si pemilik jutsu rinnegan itu hanya melongo. Pemuda berambut kuning ini tak membalas ocehannya? Biasanya ia akan membantah marah dan mengatai Sasuke lebih bodoh darinya. Sejak dulu sifatnya yang tidak mau kalah dengannya.

Tapi kali ini ia tak mendengar ocehan si baka-dobe ini. Ada yang berubah darinya.

“Masih belum move on?” tanya Sasuke. Ia melihat luka pada sikap sahabat yang biasanya tertawa sumringah dengan cengiran lima jari andalannya.

Naruto hanya mendesah kasar. Sepulang dari Suna lalu mampir ke Myoboku, ia sudah memantapkan hatinya untuk bersikap biasa saja. Tapi, setelah bertemu dengan gadis itu, tatanan perasaannya kacau lagi. Ia menggaruk rambut kuningnya, berusaha meyakinkan sahabatnya ini kalau memang tidak ada apa-apa. Tapi semua percuma.

“Ayolah. Dimana Naruto yang biasanya aku temui?” Sasuke kembali menerawang, ia ikut memandang kearah langit. Menunggu jawaban yang ingin ia dengar dari pemuda itu.

“Memang aku yang biasanya bagaimana?” tanya Naruto sambil menepuk punggung Sasuke, seperti yang biasa dilakukan. Tak lupa dengan senyuman yang kelewat lebarnya.

“Kau bersandiwara, Naru..” ucap Sasuke kesal. Tindakan Naruto tadi palsu, hanya menutupi suasana hatinya yang sedang kacau. Entah kemana semua semangat dan kebisingan yang tak pernah absen bersamanya.

“Semua sudah terjadi bukan? Lalu apalagi yang kau risaukan!” tanya Sasuke dengan alis bertaut, membuat pemuda yang duduk di sampingnya menundukkan kepala dalam-dalam.

Naruto bercerita pada Sasuke dengan ekspresi penyesalan, beberapa kali ia mengusap wajahnya dan mengacak-acak rambutnya.

Baginya ini seperti pengakuan dosa. Ia menceritakan semua kesalahannya, berharap sahabatnya ini tak menghakiminya. Tapi kalau memang iya, Naruto sadar akan kesalahannya, ia siap dicap seperti apapun oleh Sasuke yang berlidah tajam menusuk itu.

Sedangkan Sasuke mendengarkan dengan seksama, ia tidak menyela, apalagi menghakimi temannya. Pria berambut raven ini sangat penasaran apa yang bisa membuat Naruto berubah menjadi orang yang melankolis dan galau.

“Sejak di akademi, aku sudah mengagumi Sakura. Meskipun berat, aku akan selalu menuruti permintaannya. Sekalipun menyakitkan, aku berusaha tersenyum didepannya. Walaupun ia selalu memukulku, aku tak pernah ingin pergi dari sisinya. Itu sangat menyakitkan kau tau? Sebesar apapun perasaanku padanya, Sakura tak pernah sedikitpun berpaling dari Uchiha Sasuke.”

Sasuke hanya mengerling mendengar penuturan Naruto.

“Saat kalian menikah, aku biasa saja. Bagiku, Sakura tetaplah orang yang dekat denganku. Aku tak merasa kehilangan dirinya. Karena dia akan selalu dilindungi oleh Uchiha Sasuke, sahabat dekatku. Jadi, aku tak perlu khawatir lagi padanya…”

Pandangan Naruto tetap menerawang ke langit, mengamati arakan awan yang tipis.

“Entah kenapa, rencana pernikahan Hinata membuatku begitu sesak. Aku ingin menggapainya, tapi usahaku sia-sia. Aku merasa sangat bersalah telah mengabaikannya selama ini,” suara Naruto terdengar parau.

“Setiap orang pasti melakukan kesalahan, dan memiliki satu sebagai yang terbesar dalam hidupnya. Sesuatu yang mungkin tak termaafkan dan meninggalkan luka hingga akhir,” timpal Sasuke.

Naruto mengingat sejenak, tentang masalalu Sasuke yang kelam. Sasuke benar, tidak pernah ada kesempurnaan dalam hidup yang di jalani setiap manusia. Pria itu juga pasti masih menyimpannya, seberkas penyesalan pada Itachi.

“Selama ini kau berjalan di atas keberanian yang besar dan tekad yang kuat. Sekalipun kau memiliki banyak kelemahan, tapi kau selalu melangkah di jalan yang benar. Aku pikir, ini adalah satu-satunya kesalahan yang pernah kau lakukan, Naruto.”

Sasuke memalingkan mukanya menatap Naruto, diiringi senyum maklum.

“Jika aku menyimpang, apa yang akan kau lakukan, Sasuke?”

“Aku tak segan-segan untuk membakarmu dengan amaterasu,”

“Kau kejam sekali, Uchiha…” Naruto terkekeh kecil.

“Naruto, berjanjilah padaku. berjanjilah untuk tidak terpuruk dalam kesedihanmu. Setelah ini masih ada banyak hari yang harus kau lalui. Aku hanya tidak ingin kau mengalami hal yang sama dengan yang pernah aku alami.”

Naruto bangkit dari posisi duduknya dan berdiri tegak menatap matahari. Sasuke tersenyum singkat, lantas menyamakan posisinya dengan Naruto. Ketika manik sebiru lauatan bertemu dengan onyx hitam kelam bertatapan, Naruto berkata, “Aku berjanji untuk itu, arigatou Sasuke.”

“Hn”



“Bismillah. Aku pasti bisa melewati semuanya….”
Naruto sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berjalan, apapun kondisinya.
Karena Sasuke ada janji bertemu dengan Kakashi, Naruto memilih untuk berjalan mengelilingi desa.
Kurang kerjaan?
Iya.
Dia perlu bergerak untuk mengalihkan perhatiannya. Sang pahlawan Konoha turun tangan. Tanpa segan-segan, ia membantu penduduk desa yang tengah memperbaiki jembatan. Membantu petani memanen jagung di sawah. Menolong seorang nenek tua mengisi bak penampungan air di rumahnya. Meraih layang-layang putus dan mengembalikan senyum anak-anak desa. Menangkap seekor kuda yang terlepas dari stall. Bahkan menolong ikan yang hampir tenggelam. Okey… yang terakhir memang agak ngawur. Hihihi… ?

Seharian itu, Naruto memang berusaha menebar kebahagiaan untuk semua orang. Bukan untuk pencitraan. Tapi ia sedang berusaha menutupi luka di hatinya.
Bukankah bagus, jika kita menyalurkan rasa kecewa dengan menciptakan senyum bagi orang lain?
Hati boleh hancur, tapi bukan berarti harus meratap sepanjang waktu kan.
Yach, itulah jalan ninja Naruto.

.
.
.

Selepas senja, ia berpapasan dengan Kakashi yang tengah berjalan pulang ke rumah. Kantung matanya tampak hitam kelelahan. Hari itu, ia berangkat ke kantor hokage sejak dini hari tadi. Ada panggilan mendesak dari para ANBU yang telah menyelesaikan misi pengintaian sebulan terakhir.

“Kau tampak kacau, Sensei?”
“Hn. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan hari ini, Naruto. Jika kelak menjadi hokage, kau akan merasakan sendiri…”
Naruto hanya bisa memberikan cengiran khasnya.
“Kau sendiri, seharian tadi kemana?”
“Ada disini, sensei,”
“Sasuke tadi sempat menyinggung tentangmu. Bagaimana ‘kabarmu’ sekarang?”
“Tenang saja, sensei. Aku baik-baik saja,” senyum Naruto yang tulus membuat Kakashi yakin jika muridnya itu bisa mengatasi permasalahan pribadinya.
“Sensei, boleh aku bertanya padamu?”
“Tentu saja,”
“Mengapa dulu sensei akhirnya menikahi Hanare-san? Semua orang juga tahu, sensei sangat dekat dengan Rin-san. Meskipun telah meninggal sekian tahun, sensei bergeming untuk mempertahankan almarhum Rin-san,” tanya naruto panjang lebar.

Kakashi sedikit terkejut. Wajar jika Naruto bertanya seperti itu. Ah, mungkin ini saat yang tepat untuk mengajak pemuda kyubi itu juga segera move on, seperti dirinya dulu.

“Kau penasaran rupanya,” Kakashi tersenyum ramah. “Rin ya. Kau benar, Rin telah menguasai hatiku sejak dulu. Kebetulan kami satu tim. Dia gadis yang baik, bertanggung jawad dan sangat peduli dengan semua orang. Kepergian Obito saat kami menjalankan misi, tak lama berselang Rin juga menyusulnya. Aku hancur saat itu. Kedua orang terdekatku telah mendahuluiku. Mereka sangat berarti bagiku,”

Kakashi berdehem, menyesuaikan nada suaranya yang mulai terdengar sumbang.

“Cukup lama aku berduka atas kepergian mereka. Dan aku mengenal Hanare secara tak sengaja pada sebuah misi di Iwagakure. Aku terluka parah dan tak sadarkan diri beberapa hari. Saat itu, Hanare yang merawatku. Ia seorang medic nin. Kemampuannya memang di bawah Sakura, tapi ia sangat sabar dan tlaten. Kau tahu, demi membersihkan luka di wajahku, ia rela menutup matanya agar tak memandangku langsung. Wanita itu sangat menghormati maskerku, tidak seperti kalian …..”

Naruto terkekeh mendengar cerita senseinya. Ya, dulu, dia sangat penasaran dengan muka pria hatake itu. Dibantu Sakura, Shikamaru, Sasuke, Ino, Chouji dan Hinata, mereka hampir saja berhasil menyelesaikan misi itu. Tapi, gagal total karena Neji yang tiba-tiba datang menyerang Lee.

“Pada suatu malam, aku memimpikan Obito dan Rin yang terlihat bahagia. Mereka berpesan, aku harus bahagia juga untuk melanjutkan hidup. Kurasa perkataan mereka sedikit banyak telah mempengaruhiku. Terlebih, Hanare punya banyak hal yang menarik….”
Kakashi mengerling sejenak ke arah Naruto.

“Seperti?” tanya Naruto dengan polosnya.
Jderrr… kakashi sweatdrop. “Aku tak akan menceritakan semuanya padamu Naruto….”

“Yach, sensei nggak asyik…” Naruto cemberut kesal.
Kakashi terkikik geli dengan tingkah jabrik kuning itu.

“Aku termasuk orang yang telat untuk move on, Naruto. Jangan meniruku ya…” pesan pria Hatake ini. “Rasulullah itu juga orang yang lekas move on lho!” lanjutnya.

“Iya kah?” tanya Naruto penasaran.

“Kau tahu, Khadijah binti Khuwailid itu adalah istri yang sangat dicintainya. Orang pertama yang mengimani ajaran Islam. Orang yang sanggup memberikan apapun untuk perjuangan dakwah Rasulullah. Saat beliau wafat di bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian, Rasulullah sangat bersedih. Tak lama berselang, sang paman Abu Thalib pun juga mendahuluinya. Demikian pedihnya hati Rasulullah, sampai tahun itu disebut sebagai yaumul hazn,”

Naruto manggut-manggut mendengar kisah shirah yang disampaikan Kakashi.

“Meski sangat mencintai istri pertama, Rasulullah memilih untuk segera move on, karena dakwah harus terus berjalan. Akhirnya pada bulan Syawal di tahun yang sama, Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah. Saudah itu masuk Islam terlebih dahulu dan ia mengikuti hijrah kedua ke Habasyah. Dulu suaminya adalah As-Sakran bin ‘Amr. Suaminya juga masuk Islam dan berhijrah bersama Saudah, namun suaminya meninggal di Habasyah atau meninggal setelah kembali ke Makkah. Ketika selesai masa ‘iddahnya, Rasulullah pun mengkhitbah dan menikahinya,”

“Hanya satu bulan, sensei?”

“Ya, kurang lebih segitu. Meskipun sudah menikah lagi, tapi cinta Rasulullah pada Khadijah tak pernah padam. Aisyah aja sampai cemburu…”

“Subhanallah…” ucap Naruto bertasbih.

“Intinya, segeralah bangkit. Hidup harus terus berjalan kan. Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan,”

“Haik, sensei…” Naruto mengangguk lemah.

“Oh ya, Naruto. Aku ada misi untukmu. Sebetulnya misi ini untuk para jounin muda. Aku rasa, kau perlu mendampingi mereka. Besok pagi jam 7 datanglah ke ruang hokage. Malam ini, tim investigasi yang dipimpin Ino sedang mengumpulkan data,”

“Dengan senang hati, sensei….”
Mendengar ada misi, senyum Naruto langsung merekah.
Seorang shinobi itu memang akan sering bermain dengan maut. Itulah pengorbanan terbesar mereka, menjaga keamanan masyarakat bahkan dengan bertaruh nyawa.

—–

Alhamdulillah, selesai juga chapter 23.
Meskipun sedang galau, Naruto tetap bersemangat menunaikan tugasnya sebagai shinobi.
Apakah benar dia sudah move on?
Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Hinata?
Pairing NaruHina atau GaaHina?
komen yak….

Tunggu chapter berikutnya….
Jaa ne….
??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *